Home » Belajar Peduli dan Menjadi Teladan Melalui Polisi Adab

Belajar Peduli dan Menjadi Teladan Melalui Polisi Adab

by admin
Belajar Peduli dan Menjadi Teladan Melalui Polisi Adab

Oleh: Ustzh. Aini Kunainah, S.Pd., – Waka Kesiswaan SD Luqman Al Hakim Surabaya.

Pendidikan tidak hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang mampu dikuasai oleh seorang anak, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut tercermin dalam sikap dan perilakunya. Melalui program “Polisi Adab Teladan Rasulullah”, siswa kelas 5 SD Luqman Al Hakim Surabaya diajak menumbuhkan kepedulian sosial dengan belajar mengingatkan teman secara santun, menjaga ketertiban, serta menjadi teladan dalam menerapkan adab di lingkungan sekolah. Program bertema “Kepedulian Sosial” ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya adab yang tidak berhenti saat siswa menjalankan tugas, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar Peduli dengan Adab

Salah satu bentuk penguatan karakter yang dikembangkan oleh SD Luqman Al Hakim Surabaya adalah program “Polisi Adab Teladan Rasulullah” untuk siswa kelas 5. Program ini mengangkat tema “Kepedulian Sosial” dengan menjadikan siswa sebagai bagian dari gerakan membangun budaya adab di lingkungan sekolah.  Menjadi “Polisi Adab” bukan berarti menjadi pengawas yang sibuk mencari kesalahan teman. Justru sebaliknya, program ini dirancang untuk melatih siswa memiliki kepedulian terhadap kebaikan bersama.

Ketika melihat teman membuang sampah sembarangan, tidak tertib mengantre, berlari di koridor, meninggalkan lampu menyala, atau melakukan tindakan yang kurang sesuai dengan adab sekolah, siswa dilatih untuk tidak sekadar diam. Mereka belajar mengambil peran dengan cara yang benar: mengingatkan dengan santun, tidak mengejek, tidak mempermalukan, dan tetap menjaga perasaan temannya.  Di sinilah nilai kepedulian sosial ditanamkan. Peduli bukan hanya membantu ketika teman mengalami kesulitan, tetapi juga berani mengingatkan ketika teman berada pada perilaku yang kurang tepat.

Program ini mengambil inspirasi dari keteladanan Rasulullah SAW dalam berinteraksi dengan manusia. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kebaikan tidak cukup hanya dilakukan untuk diri sendiri, tetapi juga perlu diupayakan agar tumbuh di tengah masyarakat.  Karena itu, siswa dibekali dengan keterampilan sederhana namun penting: senyum, salam, sapa, dan kalimat teguran yang sopan.

Sebelum menjalankan tugas, siswa mendapatkan pembekalan tentang bagaimana cara menyampaikan pengingat kepada teman. Mereka belajar memilih kata, menjaga intonasi, tidak menggunakan kata-kata kasar, serta tidak menjadikan teguran sebagai bahan bercanda atau mempermalukan orang lain.

Dengan demikian, keberanian yang dibangun bukanlah keberanian untuk memerintah, melainkan keberanian untuk menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik.  Program ini juga menjadi sarana pembelajaran kepemimpinan. Siswa kelas 5 diberi kesempatan untuk merasakan langsung bagaimana menjaga ketertiban dan kenyamanan lingkungan sekolah.

Baca juga: Sinergi Guru dan Orang Tua, Membangun Karakter Anak Lewat Program Say Hello

Mereka dibagi dalam kelompok dan mendapatkan jadwal piket secara bergantian. Pada saat istirahat, siswa bertugas di beberapa area yang menjadi titik perhatian, seperti kantin, playground, koridor, area kolam, hall, dan beberapa titik di sekitar kelas.

Tugas mereka bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi menjadi pengingat dan teladan bagi teman sebaya. Pada saat kepulangan, mereka juga membantu mengingatkan teman-temannya untuk merapikan bangku, mematikan lampu, menjaga ketertiban di koridor dan tangga, serta meninggalkan ruang kelas dalam keadaan rapi.

Dengan sistem rotasi, seluruh siswa kelas 5 mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi Polisi Adab. Dengan demikian, pengalaman tersebut tidak hanya dirasakan oleh beberapa siswa, tetapi menjadi pengalaman bersama. Salah satu keterampilan utama yang ditekankan dalam program ini adalah penggunaan 5S dalam berinteraksi: Salam – Senyum – Sapa – Sopan – Santun.

Belajar Peduli dan Menjadi Teladan Melalui Polisi Adab

Belajar Peduli dan Menjadi Teladan Melalui Polisi Adab

Lima kebiasaan sederhana tersebut menjadi bekal ketika siswa memberikan pengingat kepada temannya. Teguran tidak diawali dengan kemarahan, tidak dengan menunjuk-nunjuk, dan tidak dengan mengejek. Sebaliknya, siswa belajar mendekati temannya dengan sikap yang baik dan menyampaikan pengingat secara santun.

“Teman, yuk, sampahnya dibuang ke tempat sampah.”
“Yuk, kita antre supaya semuanya nyaman.”
“Teman, jalannya pelan-pelan ya, supaya tidak membahayakan teman yang lain.”

Salah satu indikator penting dari program ini adalah perubahan perilaku siswa di luar jadwal tugas. Polisi Adab tidak hanya dituntut tertib ketika mengenakan rompi, slayer, atau pin. Justru keberhasilan program terlihat ketika siswa tetap menjaga adab meskipun tidak sedang bertugas. Karena itu, siswa diarahkan untuk memahami bahwa atribut Polisi Adab hanyalah simbol tugas, sedangkan adab adalah karakter yang harus melekat setiap saat.

Menjadi Teladan, Membangun Budaya

Setiap pekan dilakukan evaluasi bersama guru. Siswa diajak membahas berbagai situasi yang mereka temui selama menjalankan tugas: pelanggaran yang paling sering terjadi, cara menegur yang tepat, respons teman yang diingatkan, dan hal-hal yang perlu diperbaiki pada pekan berikutnya.

Siswa juga dilatih membuat laporan sederhana mengenai kejadian yang ditemukan untuk disampaikan kepada pihak BK. Dengan demikian, program ini menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi antara siswa, guru, dan BK dalam menjaga budaya sekolah.

Kebaikan perlu dilihat dan diapresiasi. Dalam program ini, siswa dapat memperoleh apresiasi berupa “Bintang Adab” bagi mereka yang menunjukkan sikap santun, disiplin, peduli, atau mampu memberikan pengingat dengan cara yang baik. Apresiasi tersebut bukan sekadar penghargaan, tetapi menjadi pesan bahwa perilaku baik memiliki nilai dan layak untuk ditumbuhkan.

Baca juga: Ketika Allah Menghadirkan Palestina di Ruang Pendidikan Kita

Program Polisi Adab Teladan Rasulullah dilaksanakan mulai 14–30 September 2026. Targetnya bukan sekadar terlaksananya jadwal piket atau bertambahnya jumlah siswa yang mampu menyebutkan tata tertib sekolah. Target yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran dari dalam diri siswa. Siswa diharapkan mampu memahami adab, memberikan contoh perilaku baik, berani mengingatkan dengan santun, serta tetap menjaga ketertiban meskipun tidak sedang menjalankan tugas.

Ada sebuah pesan penting yang ingin ditanamkan melalui program ini: “Sebelum mengingatkan orang lain, belajarlah menjadi teladan.” Sebab, nasihat yang disampaikan dengan perilaku yang baik akan lebih mudah diterima. Ketika seorang siswa mengingatkan temannya untuk membuang sampah, ia pun harus menjadi pribadi yang menjaga kebersihan. Saat mengingatkan teman untuk tertib, ia sendiri harus menunjukkan ketertiban. Ketika mengingatkan tentang kesopanan, ia harus berbicara dengan sopan.

Inilah esensi dari Polisi Adab Teladan Rasulullah: membangun kepedulian melalui keteladanan. “Peduli Adabnya, Santun Tegurannya, Mulia Akhlaknya.” Semoga dari kelas 5 lahir anak-anak yang tidak hanya berani berbicara tentang kebaikan, tetapi juga berani memulai kebaikan, menjaga kebaikan, dan mengajak orang lain kepada kebaikan dengan penuh kasih sayang.

Leave a Comment