Oleh: Ustzh. Tri Indrayani, M.Pd – Guru IPA SD Luqman Al-Hakim Surabaya
Main Seru, Dapat Ilmu Baru: Deep Learning Bukan Hal Baru Bagi Guru. Jika kita berpikir bahwa belajar hanya terjadi di ruang kelas dengan duduk diam dan mencatat di buku, maka kita perlu memperluas sudut pandang. Dunia pendidikan saat ini menuntut pendekatan yang lebih kontekstual, kreatif, dan melibatkan pengalaman nyata. Salah satu pendekatan yang kini mulai mendapat sorotan adalah deep learning atau pembelajaran mendalam.
Konsep pembelajaran seperti ini sangat relevan di era sekarang. Anak-anak bukan hanya membutuhkan informasi, tapi juga pengalaman yang membuat mereka mengerti, merasa, dan mampu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan. Maka tak heran jika kegiatan belajar yang keluar dari zona “menghafal teori” justru lebih membekas dan efektif.
Apa Itu Deep Learning dalam Dunia Pendidikan?
Menurut Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Puskurjar, 2025), deep learning merupakan pendekatan yang menekankan pembelajaran secara berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Pendekatan ini juga mendorong keterlibatan peserta didik secara utuh: melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik).
Mindful learning adalah kondisi ketika siswa belajar dengan sadar. Mereka tahu apa tujuan belajar, memiliki motivasi dari dalam diri, dan aktif membangun strategi untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Kesadaran inilah yang membentuk karakter pembelajar sejati—bukan karena disuruh, tetapi karena mau belajar.
Meaningful learning terjadi ketika siswa bisa menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan kehidupan nyata. Pengetahuan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari solusi dalam keseharian. Ketika anak bisa mengaitkan teori gaya dalam IPA dengan mendorong meja di rumah, saat itulah makna belajar terbentuk.
Sementara itu, joyful learning membuat suasana kelas lebih hidup. Belajar bukan tekanan, tapi petualangan seru. Anak-anak merasa dihargai dan senang terlibat dalam proses pembelajaran. Emosi positif inilah yang menjadi jembatan kuat bagi daya ingat dan pemahaman mendalam.
Baca juga: Transformasi Sekolah dan Kepemimpinan Kepala Sekolah di Era Digital
Serunya Belajar Gaya lewat Deep Learning
Bagi sebagian guru, deep learning bukanlah barang baru. Bahkan, sudah banyak yang secara sadar maupun tidak, telah menerapkannya dalam kegiatan belajar-mengajar. Seperti dalam pembelajaran IPA di kelas 4 SD Luqman Al Hakim Surabaya. Penerapan deep learning telah dilakukan, jauh sebelum istilah itu ramai dibicarakan. Salah satu contohnya adalah penerapan pembelajaran materi gaya. Anak-anak tidak hanya belajar tentang gaya dari buku, tapi mereka dibawa langsung ke lapangan—mengamati kegiatan warga sekolah seperti tukang kebun atau penjaga kantin.
Dari sana, mereka menganalisis gerakan yang melibatkan gaya tarik dan dorong, serta pengaruh gaya terhadap benda. Pembelajaran ini kemudian dilanjutkan dengan bermain peran, di mana siswa menebak gaya yang digunakan dalam aktivitas teman-temannya. Bahkan, mereka diminta mengamati kegiatan di rumah, sehingga keterlibatan keluarga pun muncul secara alami.
Dalam submateri seperti gaya gesek, siswa diajak bereksperimen. Mereka mencoba berbagai permukaan untuk melihat seberapa besar gaya gesek yang terjadi. Lalu menganalisis, menyimpulkan, dan mengaitkan dengan aktivitas sehari-hari. Hal yang sama juga diterapkan dalam materi gaya magnet, di mana siswa meneliti benda yang bisa ditarik magnet dan mencoba membuat magnet sederhana sendiri.
Model yang digunakan adalah inkuiri, di mana siswa dibiarkan menemukan konsep secara mandiri. Di sinilah terjadi aha moment—momen ketika mereka benar-benar memahami karena menemukan sendiri jawabannya. Guru dalam pembelajaran ini berperan sebagai fasilitator, bukan sumber utama informasi.

Main Seru Dapat Ilmu Baru Deep Learning Bukan Hal Baru Bagi Guru
Dari Pemahaman ke Karya Nyata
Pembelajaran mendalam bukan hanya tentang proses. Ia juga harus berujung pada produk yang bermakna. Dalam praktiknya, siswa diminta membuat produk terapan gaya, seperti kompas dari jarum, ketapel, busur panah, hingga pesawat styrofoam. Semua karya ini mengintegrasikan pengetahuan tentang gaya dalam bentuk nyata.
Dalam proses mencipta ini, anak-anak menggunakan kemampuan Higher Order Thinking Skills (HOTS). Mereka tidak hanya menghafal, tapi menganalisis, mengevaluasi, lalu menciptakan sesuatu. Karya ilmiah sederhana berupa laporan tertulis juga menjadi bagian dari proses belajar, menumbuhkan kemampuan literasi sains sejak dini.
Menariknya, kegiatan ini tidak berhenti di laboratorium atau kelas. Setelah selesai membuat karya, siswa diajak memainkan hasil ciptaannya di playground. Inilah puncak dari pengalaman “main seru, dapat ilmu baru.” Anak tidak hanya belajar, tapi juga merasa bahagia dan terlibat sepenuh hati.
Refleksi juga menjadi bagian penting dalam pendekatan ini. Guru selalu mengajak siswa untuk menjawab beberapa pertanyaan seperti “Apa bagian paling seru hari ini?” atau “Apa yang ingin kamu pelajari selanjutnya?” Dari sana, guru tahu sisi mana yang berhasil dan mana yang perlu ditingkatkan.
Baca juga: Kembali Ke Khittah Peran Guru
Deep Learning adalah Spirit, Bukan Tren Sementara
Deep learning bukan sekadar strategi sesaat, tetapi semangat mendidik yang memanusiakan manusia. Ia memberikan ruang pada kesadaran belajar, membentuk pengalaman bermakna, dan menghadirkan kegembiraan dalam proses. Bukan pembelajaran yang menekan, apalagi membosankan.
Anak-anak tidak cukup hanya tahu dan hafal. Mereka harus merasakan makna dari apa yang mereka pelajari. Ketika pembelajaran hanya menggembirakan tanpa makna, maka akan terjadi learning loss. Sebaliknya, jika terlalu serius dan tidak menyenangkan, anak akan cepat lelah dan kehilangan semangat.
Pembelajaran juga tidak harus terbatas dalam kelas. Lingkungan sekitar, keluarga, dan interaksi sosial adalah sumber belajar yang sangat kaya. Deep learning sejatinya adalah bagaimana sekolah membentuk manusia yang utuh—yang berpikir, merasakan, bergerak, dan bertindak secara seimbang.
Semoga pendekatan ini bisa menjadi inspirasi bagi para guru di seluruh Indonesia. Karena seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad). Dan sebaik-baik guru adalah yang mampu menumbuhkan manfaat melalui proses belajar yang menyenangkan dan bermakna. Mari terus ciptakan pembelajaran yang memberi makna, membangkitkan semangat, dan memberi ruang tumbuh bagi generasi masa depan. Semoga para guru terus menjadi pelita ilmu dan inspirasi bagi peserta didiknya.