Oleh: Ustadzah Timur Pertiwi Arijati,ST. – Guru Partner Kelas 3A SD Luqman Al Hakim
ADHD pada Anak: Memahami Gejala, Tantangan, dan Pendampingannya. Kesulitan belajar dapat membuat anak kehilangan semangat dalam menempuh pendidikan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 5–15% anak mengalami gangguan belajar yang memengaruhi perkembangan akademik maupun sosialnya. Kondisi ini tidak boleh diabaikan karena dapat menghambat potensi anak apabila tidak ditangani sejak dini. Salah satu gangguan yang cukup sering ditemukan adalah Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Dengan memahami karakteristik ADHD, orang tua dan guru dapat memberikan pendampingan yang tepat sehingga anak tetap mampu berkembang secara optimal.
Mengenal ADHD dan Dampaknya terhadap Proses Belajar
Anak yang mengalami kesulitan belajar pada usia sekolah atau memiliki gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas umumnya memiliki masalah penyerta yang perlu dipahami. Menurut Prof. Dr. dr. Hardiono Pusponegoro, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan neurologi dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan gangguan yang ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, perilaku hiperaktif, dan impulsif. Anak impulsif cenderung berbicara atau bertindak tanpa mempertimbangkan akibatnya, misalnya memukul teman atau membuang barang tanpa alasan yang jelas. Apabila perilaku tersebut tampak berlebihan dibandingkan anak seusianya, maka diperlukan evaluasi dan terapi sesuai kebutuhan.
The American Academy of Pediatrics juga merekomendasikan agar setiap anak dengan ADHD menjalani skrining terhadap gangguan lain yang sering menyertainya. Di antaranya adalah gangguan perilaku seperti Oppositional Defiant Disorder (ODD) yang ditandai dengan perilaku membangkang, serta Conduct Disorder (CD) yang ditandai perilaku melanggar aturan. Selain itu, anak ADHD juga dapat mengalami gangguan belajar seperti disleksia (kesulitan membaca), diskalkulia (kesulitan berhitung), dan disgrafia (kesulitan menulis). Mereka juga memiliki risiko cedera lebih tinggi karena cenderung ceroboh (clumsy).
Baca juga: Mengawali Tahun Ajaran Baru dengan Ilmu, Cinta, dan Doa
Diagnosis ADHD tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Gejala harus berlangsung sedikitnya enam bulan, mengganggu prestasi akademik dan hubungan sosial anak, serta muncul di berbagai lingkungan seperti rumah, sekolah, maupun lingkungan tempat tinggal. ADHD juga tidak didiagnosis pada anak di bawah usia empat tahun. Apabila gejala mulai terlihat sejak usia dua atau tiga tahun, hal tersebut baru sebatas dugaan sehingga orang tua disarankan berkonsultasi ke klinik tumbuh kembang apabila gejala menetap.
Mengenali Gejala dan Hambatan Belajar Anak
Anak dengan ADHD umumnya menunjukkan tiga karakteristik utama, yaitu sulit fokus, hiperaktif, dan impulsif. Gangguan pemusatan perhatian menyebabkan anak sulit menyelesaikan tugas hingga tuntas. Sebelum satu pekerjaan selesai, ia sudah berpindah ke aktivitas lain. Ketika diberi tugas, anak juga sulit duduk tenang dalam waktu lama, bahkan sering kali enggan mengerjakannya.
Perilaku hiperaktif tampak dari aktivitas fisik yang berlebihan. Anak terus bergerak, mengganggu teman, berjalan-jalan di kelas, atau memanjat kursi dan meja ketika pembelajaran berlangsung. Sementara perilaku impulsif membuat anak bertindak spontan tanpa mempertimbangkan akibatnya, misalnya memukul teman, membuang buku, atau melanggar aturan tanpa alasan yang jelas.
Gangguan perhatian juga ditandai dengan kebiasaan sering kehilangan barang, merusak benda karena dijadikan alat bermain, serta kurang mematuhi aturan meskipun telah diingatkan. Kondisi tersebut akhirnya berdampak pada prestasi akademik yang cenderung fluktuatif. Ketika suasana hati anak sedang baik, hasil belajarnya dapat meningkat. Namun ketika tidak bersemangat, ia sering meninggalkan tugas sebelum selesai atau mengerjakannya secara terburu-buru tanpa memikirkan hasilnya. Bahkan tidak sedikit anak ADHD yang tampak kurang peduli terhadap nilai akademiknya.
Karena itu, penting bagi orang tua maupun guru untuk memahami bahwa perilaku tersebut bukan semata-mata karena anak malas atau nakal. Mereka memerlukan pendampingan yang tepat agar mampu mengelola perhatian, perilaku, dan emosinya selama proses belajar.

ADHD pada Anak Memahami Gejala Tantangan dan Pendampingannya
Pendekatan Penanganan ADHD di Rumah dan di Sekolah
Menurut buku Memahami dan Membantu Anak ADHD karya Drs. MIF Baihaqi, M.Si. dan Drs. M. Sugiarmin, M.Pd., terdapat dua pendekatan utama dalam penanganan ADHD, yaitu mengurangi perilaku yang tidak diharapkan dan mengembangkan perilaku positif.
Langkah pertama adalah memahami penyebab munculnya perilaku melalui analisis A-B-C (Antecedent–Behavior–Consequence). Guru maupun orang tua perlu mencari faktor yang mendahului perilaku anak, seperti rasa bosan, keinginan bergerak, kebutuhan akan perhatian, atau kondisi lingkungan yang kurang nyaman. Setelah penyebab diketahui, lingkungan belajar dapat disesuaikan, misalnya dengan memberikan perhatian yang cukup, mengubah aktivitas pembelajaran agar lebih menarik, atau menciptakan suasana kelas yang nyaman. Anak juga perlu diajarkan cara yang tepat untuk mengungkapkan keinginan, seperti mengangkat tangan atau meminta izin.
Apabila cara tersebut belum berhasil, beberapa teknik modifikasi perilaku dapat diterapkan. Teknik extinction dilakukan dengan tidak memberikan respons terhadap perilaku yang bertujuan mencari perhatian sehingga perilaku tersebut berangsur berkurang. Teknik satiation dilakukan dengan menghilangkan penyebab munculnya perilaku, misalnya memberikan perhatian sebelum anak mencarinya atau mengalihkan kegiatan sebelum anak merasa bosan. Dalam kondisi tertentu, guru dapat menerapkan time-out, yaitu memindahkan anak sementara dari situasi yang menyenangkan agar ia tidak memperoleh penguatan terhadap perilaku yang tidak diinginkan.
Baca juga: Bersama Mengawali Langkah: Sinergi Orang Tua dan Sekolah untuk Anak
Pemberian hukuman bukanlah pilihan utama karena hukuman fisik hanya memberikan efek sementara bahkan dapat berdampak buruk terhadap perkembangan kepribadian anak. Hukuman hanya digunakan apabila perilaku anak membahayakan dirinya atau orang lain serta ketika pendekatan lain tidak berhasil. Pelaksanaannya pun harus dilakukan secara proporsional dan tidak dalam keadaan marah.
Selain mengurangi perilaku yang tidak diharapkan, anak juga perlu memperoleh reinforcement atau penguatan terhadap perilaku positif. Orang tua dan guru perlu memberikan apresiasi segera setelah anak menunjukkan perilaku yang diharapkan karena anak ADHD cenderung impulsif dan kurang sabar menunggu penghargaan. Dengan penguatan yang konsisten, anak akan semakin memahami bahwa setiap perilaku memiliki konsekuensi dan termotivasi untuk terus menunjukkan perilaku yang positif.
Pada akhirnya, anak dengan ADHD maupun kesulitan belajar memiliki tantangan yang tidak ringan dalam memusatkan perhatian dan mengendalikan perilakunya. Penanganan mereka membutuhkan kesabaran, konsistensi, serta kolaborasi antara orang tua, guru, tenaga kesehatan, dan lingkungan sekitar. Dengan pendampingan yang tepat, anak tidak hanya mampu mengatasi hambatan belajarnya, tetapi juga dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal.