Home » Sekolah Ramah Anak sebagai Rumah Kedua

Sekolah Ramah Anak sebagai Rumah Kedua

by admin
Sekolah Ramah Anak sebagai Rumah Kedua

Oleh: Ust. Heri Murtomo, M.Pd – Waka Akademik SD Luqman Al-Hakim Surabaya

Sekolah Ramah Anak sebagai Rumah Kedua. Sekolah adalah agen perubahan peradaban bangsa. Di lingkungan inilah proses pendidikan berlangsung dan nilai-nilai kehidupan ditanamkan. Sebagai agen perubahan, sekolah semestinya menghadirkan iklim yang kondusif, menyenangkan, aman, serta ramah secara fisik, sosial, dan spiritual. Iklim seperti ini akan mempercepat tumbuh kembang potensi murid secara optimal. Hingga hari ini, perkembangan murid di lingkungan sekolah masih menjadi sorotan publik karena pendidikan dipahami sebagai jalan utama membentuk generasi insan kamil: beradab, berkarakter, dan bertanggung jawab.

Baca juga: Kembali Ke Khittah Peran Guru

Di era digital yang serba cepat dan sulit diprediksi, akses informasi tanpa batas ikut membentuk kepribadian anak. Informasi yang bebas dan tidak tersaring perlahan memengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku mereka. Kondisi ini menuntut adanya filter pribadi yang kuat, yaitu spiritualitas dan nilai-nilai moral yang ditanamkan sejak dini. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan masih maraknya kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah. Padahal, sekolah selama ini dipersepsikan sebagai ruang aman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak.

Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) mencatat 14.039 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak hingga 3 Juli 2025, dengan lonjakan lebih dari 2.000 kasus (KemenPPPA, 2025). Fakta ini menunjukkan adanya kontradiksi antara idealisme sekolah sebagai ruang aman dan realitas yang terjadi. Kondisi tersebut tentu memprihatinkan dan menuntut keseriusan semua pihak.

Kekerasan Anak dan Tantangan Lingkungan Sekolah

Data kekerasan terhadap anak menempati porsi terbesar dalam laporan kasus yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak sebagai generasi emas bangsa masih lemah. Kekerasan pada anak tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga psikis, perundungan, diskriminasi, dan bentuk kekerasan lain yang kerap luput dari perhatian. Jika terjadi secara terus-menerus, kekerasan ini berdampak besar terhadap tumbuh kembang kepribadian anak.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa anak korban kekerasan cenderung mengalami kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, mudah murung, bahkan berperilaku menyimpang. Kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat, baik secara fisik maupun emosional, dapat merusak perkembangan otak anak, menurunkan kemampuan kognitif, menghambat perkembangan emosi, dan memicu trauma jangka panjang. Dampaknya bisa berlanjut hingga dewasa, terutama dalam membangun relasi sosial yang sehat.

Sekolah Ramah Anak sebagai Rumah Kedua

Sekolah Ramah Anak sebagai Rumah Kedua

Jika kekerasan terjadi di lingkungan sekolah dan pelakunya adalah warga sekolah, dampaknya tidak hanya dirasakan anak, tetapi juga memengaruhi kepercayaan masyarakat. Sekolah akan dipandang sebagai lingkungan yang tidak aman, tidak nyaman, dan tidak layak bagi tumbuh kembang anak. Orang tua pun diliputi rasa khawatir dan ketakutan ketika harus menyekolahkan anaknya di tempat tersebut.

Karena itu, sekolah perlu meneguhkan perannya sebagai rumah kedua bagi anak. Lingkungan yang aman, ramah, dan penuh kasih sayang akan memberikan rasa nyaman bagi murid sekaligus ketenangan bagi orang tua. Sekolah yang mampu menjaga amanah ini akan menjadi tempat yang dibanggakan.

Sinergi Sekolah dan Orang Tua Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

Sebagai miniatur kehidupan bermasyarakat, sekolah memegang peran penting dalam membentuk generasi beradab dan beretika. Lingkungan sekolah yang saling menghargai, aman, tidak diskriminatif, dan penuh empati akan melahirkan anak-anak yang santun, bertanggung jawab, dan jauh dari perilaku toksik. Untuk mewujudkan hal ini, hubungan yang ramah antara guru dan siswa, serta antar sesama siswa, perlu ditumbuhkan secara konsisten.

Baca juga: Menjawab Tantangan Abad 21 dengan Keterampilan 4C

Guru berperan besar melalui disiplin yang tegas namun mengayomi, komunikasi dua arah yang positif, keteladanan dalam bertutur kata dan berperilaku, serta pembiasaan kasih sayang. Pembelajaran yang humanis, seperti kegiatan luar kelas, kunjungan sosial, dan berbagi dengan lingkungan sekitar, akan memperkaya pengalaman emosional dan sosial anak. Sementara itu, antar siswa perlu dibiasakan sikap saling menghormati, bertutur kata sopan, saling membantu, dan menjauhi kekerasan verbal maupun nonverbal.

Peran orang tua tidak kalah penting. Lingkungan keluarga merupakan fondasi utama pembentukan kepribadian anak. Keteladanan orang tua dalam sikap dan tutur kata sangat memengaruhi perilaku anak. Agar nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah berlanjut di rumah, orang tua perlu membangun komunikasi yang selaras dengan sekolah, terlibat aktif dalam kegiatan sekolah, serta berkoordinasi dengan guru terkait perkembangan anak.

Sinergi sekolah dan orang tua akan menciptakan lingkungan yang konsisten dan kondusif bagi tumbuh kembang anak. Di tengah era yang penuh ketidakpastian, sekolah yang ramah, berkarakter, dan beradab sangat dibutuhkan. Sekolah seperti inilah yang layak menjadi pilihan utama orang tua dalam menumbuhkan potensi anak menuju generasi insan kamil, bukan generasi toksik.

Leave a Comment