Pendidikan Ideal, Antara Gedung Megah dan Nilai Ruhiyah. Jerome Polin, melalui kanal YouTube-nya Nihongo Mantappu, belum lama ini mengunjungi Tzu Chi School PIK Jakarta Utara. Konten Jerome Goes To School ini mengundang decak kagum publik karena memperlihatkan potret sekolah dengan fasilitas luar biasa. Jauh dari gambaran sekolah pada umumnya di Indonesia. Gedungnya megah, modern, lengkap dengan stadion, kolam renang olimpiade, perpustakaan dua lantai, hingga klinik serupa rumah sakit dalam satu area. Dari sini muncul pertanyaan yang lebih dalam. Apakah pendidikan ideal memang diukur dari kemegahan fasilitas, atau ada sesuatu yang jauh lebih mendasar?
Pendidikan Ideal Tak Diukur dari Fasilitas
Fenomena keberadaan Tzu Chi School ini menunjukkan bahwa pendidikan sering kali dipersepsikan dari apa yang tampak di permukaan. Fasilitas pendidikan yang wah kerap dijadikan tolok ukur kualitas sekolah. Tidak salah, karena fasilitas memang penting sebagai penunjang proses belajar. Lingkungan yang nyaman, sehat, dan lengkap tentu membantu siswa berkembang secara optimal. Namun, jika pendidikan hanya diukur dari kemewahan fisik, maka esensinya menjadi dangkal.
Di sinilah pentingnya membedakan antara pendidikan yang parsial dan pendidikan yang integral. Pemikir pendidikan Islam, Adian Husaini, berulang kali mengingatkan bahaya “spesialisasi buta” dalam sistem pendidikan modern. Menurutnya, pendidikan yang hanya melahirkan pakar teknis tanpa panduan nilai dan agama berpotensi menghasilkan manusia pintar tetapi kehilangan arah hidup. Pendidikan ideal harus bersifat kully (menyeluruh), bukan juz’iy (parsial). Yakni, menyatukan dimensi intelektual, spiritual, moral, dan sosial.
Baca juga: Dari Sekolah ke Rumah, Mengisi Liburan Akhir Semester Anak SD dengan Nilai Tauhid dan Karakter Juara
Pendekatan ini sejalan dengan tradisi Islam yang menempatkan adab sebelum ilmu. Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan penanaman adab (inculcation of adab). Pendidikan yang gagal menanamkan adab akan melahirkan manusia berilmu tetapi mudah menyalahgunakan pengetahuannya. So, fasilitas hanyalah alat, bukan tujuan.
Sekolah dengan sarana sederhana pun dapat melahirkan generasi unggul jika mampu membangun budaya adab, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Sebaliknya, sekolah yang megah bisa kehilangan ruh pendidikan jika hanya sibuk mengejar prestise. Pendidikan ideal, dengan demikian, diukur dari proses pembentukan manusia, bukan dari seberapa mewah bangunannya.

Pendidikan Ideal Antara Gedung Megah dan Nilai Ruhiyah
Seperti Apa Pendidikan yang Ideal?
Rumusan pendidikan ideal tidak bisa dilepaskan dari pondasi ke-tauhid-an. Kisah Nabi Ibrahim a.s. memberikan pelajaran bahwa pendidikan sejati dimulai dari penanaman iman yang kokoh. Tauhid berfungsi sebagai kompas yang mengarahkan seluruh aktivitas belajar agar tidak terombang-ambing oleh arus sekularisme dan liberalisme. Dengan iman yang kuat, peserta didik memiliki ketahanan moral dan mental dalam menghadapi perubahan zaman.
Prof. Naquib al-Attas menyebutkan juga bahwa pendidikan yang benar bertujuan melahirkan Good Man, bukan sekadar Good Citizen. Manusia yang baik akan otomatis menjadi warga negara yang baik, tetapi tidak selalu sebaliknya. Karena itu, pendidikan ideal harus memprioritaskan ilmu fardhu ain —akidah, ibadah, dan akhlak— sebelum mengarahkan peserta didik pada penguasaan ilmu fardhu kifayah seperti sains, teknologi, dan ekonomi.
Baca juga: Menitipkan Amanah dengan Ikhlas, Peran Orang Tua dalam Mendukung Guru
Di era Revolusi Industri 5.0, peran guru semakin krusial. Teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligent) dapat menggantikan fungsi pengajar dalam menyampaikan materi, tetapi tidak mampu menggantikan peran pendidik dalam membentuk karakter. Pendidikan ideal menuntut adanya seorang “guru pejuang”, yakni guru yang berfungsi sebagai mentor dan inspirator. Guru yang mendidik dengan hati, memberi teladan, dan menanamkan nilai-nilai ke-Islaman.
Pada akhirnya, pendidikan ideal bukan semata tentang siapa yang memiliki fasilitas terbaik, melainkan siapa yang paling serius membentuk manusia beriman, beradab, dan bermanfaat bagi sesama. Fasilitas boleh mewah, tetapi nilai ruhiyah dan tujuan hiduplah yang menentukan arah pendidikan.
Oleh: Cak Rud – Aktivis Hidayatullah tinggal di www.himso.id