Home » Komunikasi yang Menciptakan Bonding Antara Guru dan Murid

Komunikasi yang Menciptakan Bonding Antara Guru dan Murid

by admin
Komunikasi yang Menciptakan Bonding Antara Guru dan Muridnya. Proses belajar mengajar tidak hanya tentang penyampaian materi pelajaran.

Oleh: Ustadzah Faradian Istiqomah, S.E. – Wali Kelas 2A SD Luqman Al Hakim Surabaya

Komunikasi yang Menciptakan Bonding Antara Guru dan Murid. Proses belajar mengajar tidak hanya tentang penyampaian materi pelajaran. Dalam setiap pertemuan antara guru dan murid, terdapat amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap menit yang dihabiskan di dalam kelas seharusnya menjadi kesempatan untuk mengenalkan Allah SWT sebagai Sang Pencipta, membimbing, mendidik, sekaligus membangun hubungan yang baik dengan peserta didik.

Dalam budaya Jawa dikenal ungkapan “Dalang gak kelangan lakon,” yang menggambarkan seorang guru yang selalu memiliki bahan untuk disampaikan walau tanpa persiapan. Namun, menjadi guru bukan berarti berbicara tanpa arah ataupun sekadar mengisi waktu pembelajaran. Seorang guru perlu memiliki tujuan dalam setiap komunikasi yang dilakukan sehingga setiap perkataan mampu memberikan manfaat dan membangun karakter muridnya.

Baca juga: Mengawali Tahun Ajaran Baru dengan Ilmu, Cinta, dan Doa

Hal tersebut sejalan dengan nasihat salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, Kiai Dr. H. Syukri Zarkasyi:

الطَّرِيقَةُ أَهَمُّ مِنَ الْمَادَّةِ، وَالْمُدَرِّسُ أَهَمُّ مِنَ الطَّرِيقَةِ، وَرُوحُ الْمُدَرِّسِ أَهَمُّ مِنَ الْمُدَرِّسِ نَفْسِهِ.

At-tharīqatu ahammu minal māddah, wal mudarrisu ahammu minath-tharīqah, wa rūhul mudarris ahammu minal mudarris nafsih.

Artinya, metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan ruh seorang guru jauh lebih penting daripada guru itu sendiri.

Ungkapan tersebut memberikan pemahaman bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh materi yang diajarkan atau metode yang digunakan, tetapi juga oleh cara guru berinteraksi dengan murid. Bahkan, yang paling menentukan adalah ruh keimanan dan ketulusan hati seorang guru yang dirasakan murid ketika mendidik mereka. Ketulusan itu akan tampak dalam cara guru berkomunikasi, mendengarkan, memahami, dan menghargai murid sebagai individu yang sedang bertumbuh.

Komunikasi Efektif yang Menciptakan Bonding antara Guru dan Murid

Komunikasi yang efektif bukan sekadar menyampaikan informasi. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang mampu menghadirkan rasa aman, rasa dihargai, dan rasa diterima. Dari sinilah tumbuh sebuah bonding atau ikatan emosional yang positif antara guru dan murid.

Ketika seorang murid merasa dekat dengan gurunya, ia akan lebih mudah menerima arahan, lebih percaya untuk menyampaikan kesulitan yang dihadapi, dan lebih termotivasi untuk belajar. Sebaliknya, komunikasi yang hanya berisi instruksi, teguran, atau penilaian tanpa adanya kedekatan emosional sering kali membuat murid merasa menjaga jarak dengan gurunya.

Alhamdulillah, SD Luqman Al Hakim Surabaya memberikan perhatian terhadap hal ini dengan mengadakan pelatihan Komunikasi Efektif bekerja sama dengan Griya Parenting Indonesia Surabaya. Pelatihan ini memberikan pengalaman baru bahwa komunikasi dengan murid ternyata memiliki standar yang dapat dipelajari dan dibiasakan.

Seluruh guru di semua bidang studi dilatih untuk merencanakan waktu khusus membangun kedekatan dengan murid, bukan sekadar berbincang secara spontan. Terutama pada awal tahun ajaran baru, guru dilatih untuk berkomunikasi dengan murid secara personal dengan urutan kegiatan, yaitu mengucapkan salam, menanyakan nama mereka, meminta izin sebelum memulai percakapan, kemudian menanyakan kabar, perasaan, hobi, harapan terhadap guru, saran yang ingin disampaikan kepada guru, hingga harapan mereka terhadap suasana kelas yang diinginkan. Percakapan sederhana tersebut diakhiri dengan ucapan terima kasih sebagai bentuk penghargaan atas kesediaan murid berbagi cerita.

Sekilas, langkah-langkah tersebut tampak sederhana. Bahkan mungkin ada yang menganggapnya sebagai hal biasa. Namun, ketika dilakukan dengan penuh perhatian dan ketulusan, setiap tahapan memiliki makna yang sangat besar. Guru belajar mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Murid belajar bahwa pendapat mereka dihargai. Dari sinilah rasa percaya mulai tumbuh.

Komunikasi yang Menciptakan Bonding Antara Guru dan Muridnya

Komunikasi yang Menciptakan Bonding Antara Guru dan Murid

Komunikasi seperti ini tidak hanya dilakukan sekali. Bonding memerlukan proses dan pemeliharaan. Oleh sebab itu, komunikasi seperti ini perlu dilakukan secara berkala. Guru dapat meluangkan waktu beberapa menit untuk berbincang dengan murid secara bergantian. Tidak harus selalu membahas pelajaran, tetapi juga kehidupan mereka sehari-hari, perkembangan emosi, maupun pengalaman yang mereka alami. Murid akan merasa bahwa gurunya benar-benar mengenal mereka sebagai pribadi, bukan sekadar nama dalam daftar hadir.

Sebagai peserta pelatihan, saya mendapatkan kesempatan mempraktikkan komunikasi bonding sebanyak sembilan kali kepada murid. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Pada awal praktik, saya dan murid sama-sama merasakan kecanggungan. Hal itu sangat wajar karena sebelumnya kami belum terbiasa melakukan percakapan yang terstruktur seperti yang diajarkan dalam pelatihan. Namun, beberapa menit kemudian suasana berubah. Murid mulai tersenyum, berbicara lebih santai, bahkan menceritakan berbagai hal yang sebelumnya belum pernah mereka sampaikan. Percakapan yang awalnya terasa formal berubah menjadi dialog yang hangat.

Perubahan tersebut ternyata berdampak pada suasana belajar di kelas. Saya merasakan bahwa murid menjadi lebih mudah diarahkan. Ketika pelajaran dimulai, mereka lebih cepat tenang dan siap memperhatikan. Ada perubahan sikap yang sangat terasa dalam keseharian. Seolah muncul pesan yang tak terucapkan dari diri mereka, “Mulai saat ini, ustadzahku pantas mendapatkan fokus terbaikku.”

Baca juga: Bersama Mengawali Langkah: Sinergi Orang Tua dan Sekolah untuk Anak

Saya menyadari bahwa kepatuhan murid tidak selalu lahir dari aturan yang ketat. Kepatuhan juga dapat tumbuh dari rasa hormat yang dibangun melalui hubungan yang baik. Ketika murid merasa disayangi, mereka cenderung ingin memberikan sikap terbaik kepada gurunya.

Tentu saja perjalanan membangun bonding tidak lepas dari tantangan. Hambatan terbesar yang saya rasakan adalah kebutuhan waktu yang lebih banyak. Dengan berbagai tanggung jawab sebagai wali kelas, menyisihkan waktu khusus untuk berbicara dengan setiap murid membutuhkan komitmen yang kuat. Namun, saya kemudian menyadari bahwa komunikasi yang baik justru menjadi investasi yang mempermudah proses pembelajaran pada hari-hari berikutnya. Waktu yang biasanya digunakan untuk menenangkan kelas atau mengulang instruksi dapat berkurang karena hubungan yang telah terbangun membuat murid lebih kooperatif.

Bonding yang Mengubah Suasana Belajar

Program ini juga mengubah kebiasaan saya sebagai guru. Kini saya lebih sering mendekati murid, menyapa mereka secara personal, dan mengamati perubahan-perubahan kecil dalam diri mereka. Saya menjadi lebih peka terhadap ekspresi wajah, semangat belajar, maupun perubahan perilaku yang mungkin menunjukkan bahwa mereka sedang menghadapi sesuatu. Rasa penasaran terhadap perkembangan murid justru menjadi awal lahirnya kepedulian yang lebih mendalam.

Saya semakin memahami bahwa setiap anak memiliki cerita yang berbeda. Ada murid yang datang ke sekolah dengan penuh semangat, ada pula yang membawa beban dari rumah. Ada yang mudah mengungkapkan perasaan, tetapi ada juga yang memilih diam. Komunikasi yang efektif membantu guru mengenali kebutuhan masing-masing murid sehingga pendekatan yang diberikan pun menjadi lebih tepat.

Pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari banyaknya materi yang berhasil diselesaikan atau tingginya nilai ujian murid. Guru yang mampu membangun bonding akan lebih mudah menanamkan nilai-nilai akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap ilmu.

Harapan saya, semakin banyak sekolah yang memberikan perhatian terhadap pengembangan keterampilan komunikasi guru. Pelatihan seperti ini bukan sekadar menambah wawasan, tetapi juga mengubah cara pandang guru dalam mendidik. Murid adalah amanah yang harus dipahami, dihargai, dan didampingi dengan penuh kasih sayang.

Semoga setiap guru senantiasa diberi kekuatan untuk terus memperbaiki cara berkomunikasi dengan murid, karena terkadang satu percakapan yang tulus mampu mengubah semangat belajar seorang anak. Sebaliknya, hardikan dan cemoohan dapat menghancurkan semangatnya. Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mengisi pikiran, tetapi juga menyentuh hati. Ketika hati telah tersentuh, ilmu akan lebih mudah diterima, akhlak lebih mudah dibentuk, dan hubungan antara guru dan murid akan menjadi ikatan kebaikan yang insya Allah bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Leave a Comment