Oleh: Ust. Heri Murtomo, M.Pd – Waka Akademik SD Luqman Al-Hakim Surabaya
Bagi generasi-Z, menulis tegak bersambung atau istilahnya menulis kursive menjadi sesuatu yang aneh. Mereka mungkin tidak mengenal dan tidak memahami tentang menulis tegak bersambung dan itu dianggapnya jadul. Bahkan saat ini merekapun jarang menulis dengan tangan karena dianggapnya meribetkan dan tidak modern. Jika kita kaji lebih dalam bahwa menulis dengan tangan memiliki daya manfaat yang luar biasa bagi tumbuh kembang anak. Sebagaimana yang disampiakan Wickberg (Peter, 2015) bahwa menulis dengan tangan mengarah pada perkembangan ranah kognitif dan psikologis anak.
Gadget dan Perubahan Cara Anak Belajar
Dari pendapat Wickberg menulis dengan tangan bukanlah sekedar perkembangan motorik halus namun mengarah pada perkembangan ranah kognitif dan psikologi. Menurut Saleh Abbas (Hidayah Wahni, 2016) bahwa menulis adalah menyampaikan gagasan, pendapat, dan perasaan penulis dalam bentuk tulisan sehingga dengan menggunakan tangan akan sangat terasa perasaan yang disampaikan penulis dan lebih menyentuh hati. Hal ini dapat mengasah perkembangan emosional dan psikologis anak. Ditambahkan oleh Wickberg (Peter, 2015) bahwa dengan menulis menggunakan tangan dapat memperkuat ingatan, membentuk perilaku diri yaitu antar diri-sendiri, dengan orang lain, dan dengan alam.
Era digital dengan masifnya gadget di kalangan masyarakat dari usia anak-anak sampai dewasa sudah menjadi hal biasa. Mereka setiap waktu aktivitasnya tidak lepas dari digital. Hal ini memiliki dampak posistif maupun negative. Dampak positifnya mereka dengan mudah menemukan dan mendapatkan informasi, sedangkan dampak negatifnya menggunakan gadget yang tidak terkendali dapat membawa dampak buruk bagi perkembangan anak. Intensitas penggunaan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan menurunnya interaksi sosial secara langsung. Anak cenderung lebih asyik dengan dunianya sendiri sehingga hubungan dengan keluarga maupun teman sebaya menjadi berkurang. Kondisi ini dapat memunculkan sikap individualisme serta melemahkan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan bersosialisasi di lingkungan nyata.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk pada dunia anak-anak. Saat ini, gadget bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana belajar, hiburan, hingga media interaksi sosial. Kehadiran gadget memberikan berbagai manfaat yang dapat mendukung perkembangan anak apabila digunakan secara tepat dan terarah. Namun, penggunaan yang berlebihan tanpa pengawasan juga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi perkembangan sosial, emosional, dan karakter anak.
Baca juga: Pergeseran Paradigma TKA dan Asesmen Nasional: Cermin Kebijakan Pendidikan yang Berubah
Di satu sisi, gadget memberikan banyak keuntungan bagi anak. Penggunaan gadget dapat meningkatkan kreativitas melalui berbagai aplikasi edukatif, video pembelajaran, maupun permainan yang merangsang kemampuan berpikir. Selain itu, gadget juga membantu anak mengembangkan keterampilan komunikasi dan mempermudah akses terhadap informasi serta pengetahuan baru. Anak menjadi lebih cepat mengenal teknologi dan memiliki kesempatan belajar yang lebih luas melalui media digital.
Namun di sisi lain, penggunaan gadget yang tidak terkendali dapat membawa dampak buruk bagi perkembangan anak. Intensitas penggunaan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan menurunnya interaksi sosial secara langsung. Anak cenderung lebih asyik dengan dunianya sendiri sehingga hubungan dengan keluarga maupun teman sebaya menjadi berkurang. Kondisi ini dapat memunculkan sikap individualisme serta melemahkan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan bersosialisasi di lingkungan nyata.
Selain itu, penggunaan gadget secara berlebihan juga berdampak pada kemampuan kontrol diri dan kedisiplinan anak. Anak menjadi sulit mengatur waktu, mudah marah ketika penggunaan gadget dibatasi, serta kurang fokus terhadap kegiatan belajar maupun aktivitas lainnya. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi perkembangan karakter dan kebiasaan positif anak.
Cara anak menggunakan gadget dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi usia, kepribadian, dan tingkat kontrol diri anak. Faktor situasional berkaitan dengan kondisi lingkungan dan kebiasaan penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari. Faktor sosial seperti pengaruh teman sebaya juga memiliki peran penting, sementara faktor eksternal meliputi pengawasan orang tua, lingkungan keluarga, serta kemudahan akses terhadap teknologi.

Menulis Kursif Dalam Pusaran Era Digital
Menulis Kursif dan Tumbuh Kembang Anak
Dalam pusaran era digital inilah kursive menjadi salah satu factor untuk mendorong perkembangan kognitif dan psikologis anak. Di Amerika Serikat yang merupakan negara teknologinya lebih maju dari negara kita pada tahun 2024 telah mewajibkan anak SD untuk menulis cursive dengan tangan (https://www.kompas.com/global/read/2024/01/28/072534270/siswa-sd-di-as-diwajibkan-belajar-menulis-latin-lagi-ternyata-ini?page=all)
Pendapat para ahli bahwa belajar menulis kursif dapat meningkatkan perkembangan kognitif, pemahaman membaca, dan keterampilan motorik halus, di antara manfaat lainnya. Menurut Audrey van der Meer & F.R. (Ruud) van der Weel (2017). bahwa menulis tangan sangat penting untuk dilatihkan pada usia anak-anak agar dapat mengkkordinasikan gerakan tangan sehingga dapat membuat huruf dengan tepat. (Kiefer et al., 2015), di beberapa negara bahwa di pendidikan di sekolah dasar telah menggunakan perangkat digital untuk mengetik yang menggantikan tulisan tangan, ditambahkan Vinci-Booher et al. (2016) sehingga waktu untuk belajar dengan menulis tangan telah berkurang dengan semakin banyaknya kegiatan pembelajaran yang mengandalkan perangkat digital.
Sebagai pendidika dan orang tua tugas kita Adalah membentuk dan menumbuhkan perkembangan kognitif, emosional, dan psikologis anak. Untuk itu Ketika belajar di rumah dibiasakan dengan emnulis cursive agar menajdi habit anak-anak.
Dari paparan di atas bahwa menulis cursive memiliki banyak manfaat bagi anak-anak agar kognitif, emosional, dan perilaku anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik-optimal.
Referensi
Audrey van der Meer & F.R. (Ruud) van der Weel (2017). Only Three Fingers Write, But The Whole Brain Works1 : Is the pen mightier than the word?. Department of Psychology, Developmental Neuroscience Laboratory Norwegian University of Science & Technology (NTNU) Trondheim, Norway.
Hidayah, Wahni. (2016). Peningkatan Keterampilan Menulis Permulaan Menggunakan Buku Harian Siswa Kelas I A SDN Plebengan Sidomulyo Bantul Tahun 2015/2016. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 28.
Kiefer, M., Schuler, S., Carmen Mayer, C., Trumpp, N. M., Hille, K., Steffi Sachse, S (2015). Handwriting or Typewriting? The Influence of Pen- or Keyboard-Based Writing Training on Reading and Writing Performance in Preschool Children. PMCID: PMC. PMID
Wickberg, A. (Peter, 2015). Institut Teknologi Kerajaan KTH. Teori Media Jil. 4 | No.1 | 63-86. Institut Teknologi Kerajaan KTH, Swedia
Vinci-Booher, S., Nikoulina, A., James, T.W., & James, K.H. (2019, March). Sensorimotor contingency leads to developmental changes in the neural mechanisms supporting visual recognition. Poster presented at the Annual Meeting of the Cognitive Neuroscience Society, San Francisco, CA, USA.