Oleh: Ust. Heri Murtomo, M.Pd – Waka Akademik SD Luqman Al-Hakim Surabaya
Pergeseran Paradigma TKA dan Asesmen Nasional: Cermin Kebijakan Pendidikan yang Berubah. TKA (Tes Kemampuan Akademik) dan AN (Asesmen Nasional) merupakan dua instrumen evaluasi pendidikan yang dikembangkan pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Keduanya sama-sama dilaksanakan secara daring atau berbasis komputer, namun memiliki filosofi, tujuan, mekanisme pelaksanaan, serta implikasi kebijakan yang berbeda. Dalam perkembangannya, terjadi sejumlah perubahan pada pola pelaksanaan TKA yang membuatnya semakin identik dengan struktur AN. Pergeseran ini memunculkan pertanyaan tentang arah kebijakan evaluasi pendidikan di tengah tuntutan mutu dan tantangan era global.
Perbedaan Konseptual TKA dan Asesmen Nasional
Asesmen Nasional (AN) adalah bentuk evaluasi sistem pendidikan yang diselenggarakan pemerintah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. AN tidak dirancang untuk menilai capaian individu siswa sebagai dasar kelulusan, melainkan untuk memetakan mutu pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. Dari AN inilah didapatkan rapor mutu pendidikan setiap satuan pendidikan. Peserta AN dipilih secara sampel dan acak melalui data Dapodik, yaitu siswa kelas V SD, VII SMP, dan XI SMA/SMK. Pada jenjang SD sederajat dipilih sebanyak 30 siswa dengan 5 siswa cadangan. Sementara pada jenjang SMP dan SMA/SMK sederajat dipilih sebanyak 45 siswa dengan 5 siswa cadangan.
Tujuan utama AN adalah untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi pendidikan di suatu sekolah. AN mengukur tiga aspek penting yaitu: pertama, Hasil belajar kognitif, yang berfokus pada literasi membaca dan numerasi. Kedua, hasil belajar nonkognitif, yang diukur melalui Survei Karakter. Dan ketiga, kalitas lingkungan belajar, yang diukur melalui Survei Lingkungan Belajar.
Dengan pendekatan tersebut, AN menempatkan sekolah sebagai subjek evaluasi, bukan siswa secara individual. Hasil AN digunakan sebagai bahan refleksi dan perbaikan mutu, bukan sebagai dasar seleksi atau kelulusan.
Baca juga: Sekolah Ramah Anak sebagai Rumah Kedua
Berbeda dengan AN, Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah kegiatan pengukuran capaian akademik murid pada mata pelajaran tertentu. Pesertanya adalah seluruh siswa kelas akhir pada jenjang SD dan yang sederajat, SMP dan yang sederajat, dan SMA/SMK dan yang sederajat. Dengan demikian, jika AN bersifat sampling, maka TKA bersifat menyeluruh bagi seluruh siswa kelas akhir.
Sementara itu, TKA bertujuan yaitu: Pertama, memperoleh informasi capaian akademik murid yang terstandar untuk keperluan seleksi akademik, misalnya untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Kedua, Menjamin pemenuhan akses murid pendidikan nonformal dan informal terhadap penyetaraan hasil belajar. Ketiga, Mendorong peningkatan kapasitas pendidik dalam mengembangkan penilaian yang berkualitas dan terstandar. Keempat, memberikan bahan acuan dalam pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan secara lebih terukur.
Secara konseptual, TKA lebih dekat pada fungsi evaluasi individu, karena hasilnya berkaitan langsung dengan capaian akademik siswa. Oleh karena itu, keberadaan TKA memiliki implikasi yang lebih besar terhadap siswa secara personal dibandingkan AN.

Pergeseran Paradigma TKA dan Asesmen Nasional: Cermin Kebijakan Pendidikan yang Berubah
Pergeseran Pola Pelaksanaan dan Implikasi Kebijakan
Pada awal implementasinya, TKA dan AN memiliki perbedaan yang cukup jelas, baik dari segi tujuan maupun struktur pelaksanaan. TKA lebih menekankan pada penguasaan mata pelajaran, sedangkan AN lebih menekankan pada literasi, numerasi, karakter, dan lingkungan belajar.
Namun, menjelang pelaksanaan TKA pada jenjang SD dan SMP, terjadi beberapa perubahan signifikan pada pola pelaksanaannya. Jika sebelumnya TKA SD dalam satu hari mengujikan dua mata pelajaran (Bahasa Indonesia dan Matematika), kini terjadi penyesuaian menjadi: Hari pertama, Matematika dan Survei Karakter; Hari kedua, Bahasa Indonesia dan Survei Lingkungan Belajar.
Baca juga: Kembali Ke Khittah Peran Guru
Perubahan ini membuat format TKA menjadi sangat mirip dengan struktur AN. TKA tidak lagi hanya berisi tes akademik murni, tetapi juga memasukkan unsur survei karakter dan lingkungan belajar, yang sebelumnya identik dengan Asesmen Nasional. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma, di mana TKA mulai mengadopsi pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya menilai aspek kognitif, tetapi juga aspek nonkognitif dan ekosistem belajar.
Pergeseran pola pelaksanaan TKA yang semakin mendekati struktur AN menunjukkan adanya dinamika dalam kebijakan evaluasi pendidikan nasional. Di satu sisi, pendekatan yang lebih komprehensif dapat dipahami sebagai upaya menghadirkan asesmen yang tidak hanya menilai kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan lingkungan belajar. Namun di sisi lain, kemiripan format ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi arah kebijakan serta kejelasan diferensiasi fungsi antara TKA dan AN dalam sistem evaluasi pendidikan di Indonesia.