Oleh: Mifta Khuljannah, S.Pd – Guru SD Luqman Al-Hakim Surabaya
Mari bermuhasabah diri dengan tulus, karena setiap kesalahan adalah cermin untuk memperbaiki diri, bukan alasan mencari kambing hitam. Dengan menutup pintu saling menyalahkan, kita belajar bertanggung jawab, jujur, dan melangkah menuju perbaikan yang lebih baik.
Bermuhasabah adalah proses introspeksi diri yang dilakukan dengan merenungkan secara mendalam setiap sikap, perkataan, dan perbuatan yang telah kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui muhasabah, seseorang belajar menyadari kesalahan, mengakui kekurangan, serta menilai apakah tindakannya sudah sesuai dengan nilai kebaikan dan ajaran agama. Kegiatan ini mendorong kita untuk tidak mencari kambing hitam atas masalah yang terjadi, melainkan bertanggung jawab dan berusaha memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.
Kambing hitam dalam perspektif Islam adalah sikap menyalahkan orang lain atas kesalahan yang sebenarnya berasal dari diri sendiri. Padahal Allah memerintahkan setiap hamba untuk bertanggung jawab atas perbuatan masing-masing. Rasulullah Saw menekankan pentingnya bermuhasabah dan jujur dalam setiap tindakan. Mencari kambing hitam hanya menutupi kesalahan dan menjauhkan diri dari perbaikan diri (muhasabah). Sikap ini bertentangan dengan nilai Islam yang mengajarkan amanah, keadilan, dan tanggung jawab pribadi.
Baca juga: Pendidikan Ideal, Antara Gedung Megah dan Nilai Ruhiyah
Tanpa kita sadari terkadang pola kambing hitam ini terbentuk dari parenting lama sederhana. Seperti halnya ketika melihat seorang anak kecil berlari, kemudian jatuh di atas lantai dan menangis. Mayoritas parenting lama orang tua akan menyalahkan lantainya atau sesuatu yang membuat anak tersebut jatuh. Dengan dalih supaya anak tersebut tidak lagi menangis. Kalimat sederhana seperti “Duh, lantainya nakal ya nak”(sambal memukul lantainya). Pola ini yang terkadang kita abai namun secara sadar anak menerima bahwa ketika ada sesuatu yang terjadi padanya. Maka ia mencari alasan untuk menutup kesalahannya sendiri. Alangkah baiknya kita ubah pola parenting sederhana tersebut dengan kalimat yang realistis seperti “Anak shalih jalannya pelan-pelan ya supaya tidak jatuh”. Muhasabah harus kita mulai sejak sedini mungkin, dan kita bentuk pola asuh yang realistis supaya anak bisa bertanggung jawab, jujur dan adil dalam bersikap.
Guru sebagai Mitra Pembentuk Karakter Anak
Guru memegang peran penting dalam membimbing siswa untuk bermuhasabah, yaitu merenungkan dan mengevaluasi sikap, perkataan, dan tindakan mereka sebelum menyalahkan orang lain. Dengan membiasakan muhasabah, guru membantu siswa memahami bahwa setiap kesalahan adalah kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri, bukan untuk mencari kambing hitam. Sikap ini tidak hanya membentuk karakter yang jujur dan bertanggung jawab, tetapi juga menanamkan nilai empati dan keadilan sejak dini.
Di sekolah, guru dapat memfasilitasi kegiatan muhasabah melalui diskusi kelas, refleksi harian, atau jurnal perasaan. Misalnya, setelah terjadi konflik saat bermain di halaman sekolah, guru mengajak siswa duduk bersama, menceritakan apa yang mereka rasakan. Baru kemudian menanyakan bagaimana mereka bisa memperbaiki kesalahan sendiri sebelum menuduh teman lain. Dengan cara ini, siswa belajar menganalisis perbuatannya, mengakui kesalahan, dan menyadari akibat dari tindakan mereka, sehingga kebiasaan menyalahkan teman (kambing hitam) bisa diminimalkan.
Contoh ilustrasi sederhana, ketika sebuah kelompok siswa tidak berhasil menyelesaikan tugas prakarya, beberapa siswa awalnya menuding teman yang dianggap paling malas. Guru kemudian meminta setiap anggota kelompok merenungkan perannya masing-masing dan menuliskan hal-hal yang bisa diperbaiki. Setelah itu, mereka mendiskusikan secara jujur bagaimana bisa bekerja sama lebih baik. Melalui bimbingan guru seperti ini, siswa belajar bertanggung jawab atas kesalahan sendiri, menumbuhkan sikap dewasa, dan membiasakan muhasabah sebelum mencari kambing hitam.
Selain itu di SD Luqman Al Hakim Surabaya ini sebelum pulang anak-anak diajarkan mecurahkan perasaannya ke dalam sebuah tulisan yang kami sebut sebagai jurnal harian, disini siswa bisa saling menuliskan hal yang terjadi dalam 1 hari tersebut. Kemudian guru akan mengevaluasi jurnal tersebut di keesokan harinya. Sebagai bentuk muhasabah diri jika ada hal masalah yang bersifat privasi maka guru akan memanggil siswa yang bersangkutan dan menyelesaikannya dengan melihat banyak sudut pandang dari beberapa teman. Dengan bentuk ikhtiar seperti ini harapan kami anak-anak tumbuh dengan baik, jujur dan juga adil. Berani dalam mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah suatu hal terpuji yang kami tanamkan ke dalam diri anak-anak, meskipun harus ada konsekuensinya yang diterimanya.

Mari Bermuhasabah Diri dan Kuatkan Sinergi
Orang Tua sebagai Teladan Muhasabah Anak
Orang tua memegang peran utama dalam membimbing anak untuk bermuhasabah. Yaitu merenungkan dan mengevaluasi sikap, perkataan, dan perbuatan mereka tanpa menyalahkan orang lain. Dengan membiasakan anak bermuhasabah, orang tua membantu mereka memahami bahwa setiap kesalahan adalah kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri, bukan alasan untuk mencari kambing hitam. Sikap ini menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, dan kedewasaan emosional sejak usia dini.
Selain itu, orang tua dapat menjadi teladan bagi anak dalam muhasabah dengan mengakui kesalahan sendiri dan memperbaiki sikap tanpa menyalahkan orang lain. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua, sehingga ketika mereka melihat orang tua bertanggung jawab dan jujur, mereka akan belajar melakukan hal yang sama. Hal ini membantu anak memahami pentingnya introspeksi diri dan berpikir sebelum menuduh teman atau saudara atas kesalahan yang terjadi.
Baca juga: Adab Sebelum Ilmu sebagai Pilar Utama dalam Pendidikan Holistik
Sebagai ilustrasi, ketika seorang anak memecahkan gelas di rumah, ia mungkin ingin menuding adiknya. Orang tua kemudian mengajak anak duduk sejenak dan merenungkan apa yang sebenarnya terjadi. Menanyakan langkah apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kesalahan sendiri. Kemudian menjelaskan bahwa menuduh adik sebagai kambing hitam tidak menyelesaikan masalah. Dengan bimbingan seperti ini, anak belajar mengakui kesalahan, bertanggung jawab, dan bersikap jujur, sehingga terbiasa bermuhasabah sebelum menyalahkan orang lain.
Sinergi antara Orang Tua dan Guru
Peran orang tua dan guru sangat penting dalam membimbing anak untuk bermuhasabah. Yaitu merenungkan dan mengevaluasi sikap, perkataan, dan perbuatan mereka sebelum menyalahkan orang lain. Dengan arahan yang tepat, anak belajar menyadari kesalahan, bertanggung jawab atas tindakannya, dan memperbaiki diri dengan jujur. Kebiasaan ini menanamkan nilai kejujuran, kedewasaan emosional, dan empati. Sehingga anak tidak mudah menjadikan teman atau orang lain sebagai kambing hitam atas kesalahan yang terjadi.
Selain itu, teladan yang diberikan oleh orang tua dan guru menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter ini. Ketika anak melihat kedua figur penting ini mampu mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, mereka akan meniru sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dukungan orang tua dan guru, anak terbiasa bermuhasabah sebelum menyalahkan orang lain. Muhasabah diri akan membentuk pribadi yang bertanggung jawab, adil, dan siap menghadapi tantangan dengan sikap positif serta bijaksana.
Mari kita bersinergi antara sekolah dan guru untuk menanamkan budaya muhasabah diri pada siswa. Sehingga anak akan belajar bertanggung jawab atas perbuatan sendiri tanpa menyalahkan orang lain sebagai kambing hitam.