Home » Menitipkan Amanah dengan Ikhlas: Peran Orang Tua dalam Mendukung Guru

Menitipkan Amanah dengan Ikhlas: Peran Orang Tua dalam Mendukung Guru

by admin
Menitipkan Amanah dengan Ikhlas: Peran Orang Tua dalam Mendukung Guru

Oleh: Mifta Khuljannah, S.Pd – Guru SD Luqman Al-Hakim Surabaya

Menitipkan Amanah dengan Ikhlas: Peran Orang Tua dalam Mendukung Guru. Anak adalah amanah sekaligus titipan Allah SWT yang harus dijaga dan dididik dengan penuh tanggung jawab. Dalam proses mendidik, orang tua tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi dengan guru agar anak tumbuh menjadi pribadi berilmu, berakhlak, dan beradab.

Orang Tua Menitipkan Amanah dengan Ikhlas

Ungkapan “anak adalah amanah” dalam konteks Islam dan secara umum, menekankan bahwa anak-anak adalah titipan Allah SWT yang harus dijaga, dirawat, dan dididik dengan baik oleh orang tua. Ini bukan hanya tanggung jawab, tetapi juga sebuah kepercayaan besar yang diberikan oleh Allah, yang mengharuskan orang tua untuk membimbing anak-anak mereka menuju kebaikan dan kesalehan.

Seperti sebuah ayat yang terkandung dalam surat At Tahrim ayat 6 yang memiliki arti “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” Ayat ini menunjukkan tanggung jawab besar orang tua untuk melindungi dan mendidik keluarganya, termasuk anak-anak, agar terhindar dari keburukan dan azab. Ini adalah bentuk amanah yang harus ditunaikan orang tua sebagai bentuk bertanggung jawab atas amanah dari Allah.

Baca juga: Adab Sebelum Ilmu: Pilar Utama dalam Pendidikan Holistik

Amanah ini bukan sekadar tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan fisik anak. Namun juga kewajiban untuk membentuk akhlak, karakter, dan kecintaan kepada ilmu. Dalam proses pendidikan, orang tua tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi yang kuat antara rumah dan sekolah, antara orang tua dan guru, untuk memastikan anak tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Untuk itulah penting bagi orang tua memahami makna ikhlas dalam menitipkan amanah ini kepada guru.

Ikhlas adalah pondasi dari setiap amal yang diberkahi. Dalam konteks pendidikan, ikhlas berarti menyerahkan proses pengasuhan dan pendidikan anak kepada guru dan sekolah dengan niat karena Allah. Ikhlas bukan berarti lepas tangan, namun meyakini bahwa setiap proses yang dijalani anak di sekolah adalah bagian dari ikhtiar bersama untuk menjadikan mereka insan yang beradab dan berilmu. Dengan ikhlas, orang tua akan lebih lapang hati menerima dinamika pembelajaran, termasuk tantangan dan koreksi dari guru terhadap anak.

Guru Menjaga Amanah dengan Profesional dan Sinergis

Guru merupakan sosok yang dipercaya oleh orang tua untuk mendampingi proses tumbuh kembang anak-anak selama di sekolah. Amanah ini bukanlah tugas ringan, karena guru tidak hanya bertanggung jawab dalam menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam membentuk karakter dan akhlak peserta didik. Orang tua menitipkan anak-anak mereka dengan harapan bahwa sekolah akan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh nilai-nilai kebaikan. Oleh karena itu, guru dituntut untuk bersikap profesional, sabar, dan penuh kasih sayang dalam menjalankan tugasnya.

Menitipkan Amanah dengan Ikhlas: Peran Orang Tua dalam Mendukung Guru

Menitipkan Amanah dengan Ikhlas: Peran Orang Tua dalam Mendukung Guru

Menjaga amanah dari orang tua berarti guru harus hadir dengan hati yang tulus. Memperlakukan setiap anak dengan adil dan memberikan perhatian sesuai kebutuhan masing-masing anak. Guru juga harus menjadi teladan dalam sikap dan ucapan. Karena anak-anak belajar bukan hanya dari pelajaran yang diberikan, tetapi juga dari keteladanan yang ditunjukkan. Dengan menjaga komunikasi yang baik antara sekolah dan rumah, guru dapat bekerja sama dengan orang tua untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat dalam iman, adab, dan empati terhadap sesama.

Peran orang tua dan guru harus bersinergi agar anak dapat tumbuh dan terdidik dengan baik, baik di sekolah maupun di rumah. Pendidikan yang efektif tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga diperkuat dengan pola asuh dan pembiasaan di lingkungan keluarga. Ketika orang tua dan guru saling mendukung, saling percaya, serta menjalin komunikasi yang terbuka, maka anak akan merasakan konsistensi dalam pembinaan karakter, nilai-nilai, dan kedisiplinan. Sinergi ini menciptakan suasana yang kondusif bagi anak untuk belajar, berperilaku positif, dan mengembangkan potensinya secara optimal.

Ketika anak menghadapi kendala baik di sekolah maupun di rumah, penting bagi orang tua dan guru untuk menjalin komunikasi yang baik dan terbuka. Agar permasalahan dapat diselesaikan secara bijaksana. Anak membutuhkan pendampingan yang utuh dari kedua lingkungan tersebut. Sehingga koordinasi antara orang tua dan guru menjadi kunci agar anak tetap berada dalam pengawasan yang tepat. Dengan saling memahami peran masing-masing, orang tua tidak terburu-buru mengintervensi pihak sekolah, begitu pun guru tidak langsung menilai kondisi anak tanpa mengetahui latar belakang di rumah. Komunikasi yang sehat ini mencegah terjadinya intervensi sepihak dan justru memperkuat sinergi untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.

Perbedaan Perilaku Anak di Rumah dan di Sekolah

Perilaku anak sering kali berbeda ketika berada di rumah dan di sekolah. Di rumah, anak biasanya lebih nyaman, sehingga cenderung bersikap manis, penurut, dan menunjukkan sisi terbaiknya di depan orang tua. Namun, ketika berada di sekolah, anak bisa berperilaku berbeda karena adanya pengaruh lingkungan, aturan yang harus dipatuhi, serta interaksi dengan teman sebaya. Perbedaan suasana dan kondisi inilah yang membuat sikap anak tidak selalu sama di dua tempat tersebut.

Baca juga: Merdeka Sejati: Bebas Berkarya, Taat Syariat Allah

Karena itu, orang tua perlu bersikap bijak dalam menyikapi cerita maupun perilaku anak. Tidak semua hal dapat langsung dipercaya dari sudut pandang anak saja, melainkan perlu dilengkapi dengan komunikasi bersama guru atau pengamatan langsung. Dengan begitu, orang tua dapat memahami situasi sebenarnya dan memberikan arahan dengan cara yang tepat tanpa menyalahkan pihak manapun. Sikap bijak ini akan membantu anak belajar tentang kejujuran dan tanggung jawab. Serta keterbukaan dalam menghadapi perbedaan pengalaman di rumah maupun di sekolah.

Kesimpulannya, peran guru dan orang tua harus saling berkaitan erat. Baik ketika anak berada dalam kondisi senang maupun saat menghadapi masalah. Karena keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam membentuk karakter dan perkembangan anak. Kerja sama yang harmonis antara guru di sekolah dan orang tua di rumah akan membantu anak merasa lebih tenang, mendapat bimbingan yang tepat, serta tumbuh dengan nilai-nilai positif yang konsisten. Dengan demikian, anak akan belajar bahwa dukungan, kasih sayang, dan arahan yang ia terima selalu sejalan. Sehingga lebih mudah baginya untuk berkembang menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan berakhlak baik.

Leave a Comment