Usia Umat Rasulullah Saw (End)

Posted on: 11 July 2020


Dalam bab al-Riqaq, Imam Ahmad dan Nasa’i juga telah meriwayatkan hadist serupa dari Qutaibah, dari Ya’qub ibn ‘Abd al-Rahman.


Al-Bazzar juga meriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘aihi Wassallam bersabda, “Usia yang telah dibatasi uzurnya oleh Allah bagi manusia adalah 60 tahun.” Hadist ini sejalan dengan firman Allah swt., “Apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir?” (Fathir: 37).


Jika 60 dan 70 tahun adalah usia di mana Allah telah menutup pintu alasan dan uzur bagi hamba-Nya, juga merupakan masa-masa sehat seorang hamba, berarti kira-kira segitulah rata-rata usia umat Nabi Muhammad.


Al-Hasan ibn ‘Arafah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Rata-rata usia umatku adalah antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit di antara mereka yang melebihi itu.” Demikian yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah secara bersamaan dalam bab al-Zuhd dari al-Hasan ibn ‘Arafah.


Kembali ke ayat 37 surah Fathir di atas, Imam al-Qurthubi berkata, “Ayat ini merupakan jawaban atas permohonan para ahli neraka agar mereka dikeluarkan dari neraka. Sebetulnya, sebelum redaksi kalimat di atas, ada kalimat lain yang disamarkan, yaitu berbunyi ‘maka dikatakan kepada mereka’.”


Dalam Shahih-nya, Bukhari mencatat satu bab khusus, yaitu [Bab penjelasan tentang hadist] “Barangsiapa yang mencapai usia 60 tahun maka Allah telah menutup pintu alasan baginya berdasarkan firmanNya, ‘Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan’. Yang dimaksud dengan `pemberi peringatan’ dalam ayat tersebut adalah munculnya uban di rambut dan tanda-tanda lanjut usia lainnya].


Dalam bab tersebut, Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘aihi Wassallam bersabda, “Allah menutup pintu alasan bagi seseorang yang telah Dia tentukan ajalnya sampai usia 60 tahun.”


Apa maksud kalimat “menutup pintu alasan” itu? Menurut Al-Khithabi, orang yang telah mencapai usia 60 tahun tidak lagi diberi kesempatan untuk mengungkapkan alasan dan uzurnya. Misalnya dengan berkata, “Coba seandainya Allah memberiku umur yang lebih panjang lagi, maka aku dapat lebih banyak beribadah lagi.” Karena, usia 60 tahun itu sudah dekat dengan kematian. Dalam usia itu, seseorang semestinya sadar, segera bertobat kepada Allah, dan lebih fokus lagi beribadah. Selama usia itu, uzur demi uzur telah dilaluinya, alasan demi alasan telah diungkapkannya, dan peringatan demi peringatan telah diterimanya.


Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh telah sampai pada batas uzur orang yang lebih dahulu mendapat peringatan. Kelak seorang penyeru dari sisi Allah akan memangil, ‘Hai orang yang berusia 60 tahun, apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir.


Tirmidzi dan Hakim menyebutkan sebuah hadist dari ‘Atha ibn Abi Rabah, dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘aihi Wassallam. bersabda, “Jika datang hari kiamat maka dipanggillah orang-orang yang berusia 60 tahun.” Itulah usia yang dimaksud Allah dalam firman-Nya itu.


Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas bahwa usia yang dimaksud adalah 40 tahun, seperti itu pula riwayat al-Hasan al-Bashri dan Masruq. Pendapat ini dinilai sahih berdasarkan firman Allah, “Sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun.” (al-Ahqaf: 15). Pada usia 40 tahun, kemampuan berpikir seseorang mencapai puncaknya. Setelah masa itu, kemampuan tersebut semakin berkurang, wallahu a’lam.


Imam Malik berkata, “Aku mengenal banyak ahli ilmu di negeri kami, mereka sibuk mencari ilmu dan dunia, dan bergaul dengan manusia sampai usia mereka menginjak 40 tahun. Jika telah mencapai usia 40 tahun, mereka mulai mengisolasi diri dan tidak bergaul dengan banyak orang. Mereka hanya sibuk mempersiapkan diri menghadapi kematian.”


Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘aihi Wassallam bersabda, “Rata-rata usia umatku antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit di antara mereka yang melewati itu.”


Dalam kitab Zad al-Masir disebutkan bahwa Abu Ubaidah berkata, “Tentang kadar usia ini ada empat pendapat. Pertama, 70 tahun. Ibnu Umar mengatakan bahwa ayat 37 surah Fathir merupakan sindiran bagi orang yang berusia 70 tahun. Pendapat kedua adalah 40 tahun, dan pendapat ketiga yaitu 60 tahun. Keduanya driwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu Abbas. Sedangkan pendapat keempat adalah 18 tahun. Pendapat ini diutarakan oleh ‘Atha, Wahab ibn Munabbih, Abu al-`Aliah, dan Qatadah.


Dalam al-Kasysya, kitab tafsir karya al-Zamakhsyari, disebutkan: Kalimat `nu`ammirukum‘ mencakup segala usia yang memungkinkan seorang mukalaf untuk memperbaiki diri meski usianya pendek. Akan tetapi, peringatan itu tentu lebih ditekankan kepada orang,yang berusia lanjut. Nabi Shallallahu ‘aihi Wassallam bersabda, “Usia anak Adam ketika Allah telah menutup pintu alasan baginya adalah 60 tahun.”


Menurut riwayat Mujahid, antara 20 hingga 60 tahun. Sementara menurut pendapat lain, 18 atau 17 tahun.(end) *Hidayatullah.com


Dipetik dari tulisan Aiman Mahmud dari bukunya Semakin Tua Semakin Mulia.


 

Versi cetak


Berita Terkait


Visitors :3543301 Visitor
Hits :4077052 hits
Month :3533 Users
Today : 628 Users
Online : 20 Users


Sekolah Tahfidz


Sekolah Para Juara






Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Soraya Pambudi

    anggada121212@gmail.com

    Surabaya Timur Pakuwon

    Pada 23-Aug-2019


    Assalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh. Mohon informasi pendaftaran sekolah untuk tahun ajaran 2020/2021. Mohon maaf apakah sekolah ini mempunyai program kelas internasional? Maksudnya apakah menerima siswa berwarganegaraan Asing?

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi