Sekolah Integral | SD Luqman Al Hakim Surabaya | Sekolah Islam Surabaya
Rubrik : Artikel Guru
Bencana Palu - Donggala, Cermin Spiritual Bagi Kita
2018-10-05 - by : admin

 




 


Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis di kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. QS: Al Hadid:22


 


Sedih, memilukan dan mencekam adalah potret yang mungkin bisa mewakili keadaan atau kondisi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Sulawesi tengah saat ini.


 


Dari pelbagai khabar yang sampai kepada kita, baik melalui media masa ataupun media sosial lainnya, telah menggambarkan demikian mencekamnya suasana pada saat itu. Sebuah kejadian di luar nalar manusia sekaligus menggambarkan betapa kuasanya Allah Azza wa Jalla atas segala sesuatu.


 


Beberapa rangkaian kejadian disana, ada ribuan orang hilang disekitar pantai pada sore hari itu juga, suasana yang sama sekali tidak mereka sangka, mereka berkumpul dan menikmati udara sore hari. Ada juga sebuah hotel yang ambruk luluh lantak dan tak berbentuk, bahkan beberapa penghuninya tertimbun bangunan hotel yang sampai tulisan ini ditulis, evakuasi korban belum bisa seluruhnya dikeluarkan, diantara para korban di hotel tersebut adalah atlet paralayang dari dalam dan luar negeri.


 


Ada juga sebuah kampung yang nyaris hilang diseret air bah bercampur lumpur. Saksi mata mengatakan kejadian yang menghilangkan satu kampung itu hanya hitungan menit, kampung tersebut adalah Petobo daerah Sigi.


 


Selain kampung, adapula satu perumahan yang seperti tertelan bumi, sebuah perumahan yang dihuni 400 rumah warga dengan penduduk lebih kurang empat ribu jiwa. Dari ribuan penduduk perumahan tersebut sebagian besar ikut tertelan bumi. Masyaallah. Sungguh mengerikan dan menyedihkan.


 


Salah seorang pengamat sekaligus relawan yang terjun langsung disana mengatakan, “ Kejadian di Palu dan Donggala adalah peristiwa langka dan aneh. Biasanya kejadian gempa dan tsunami yang merenggut nyawa “pembunuh” hanya salah satunya saja dari keduanya. Apakah gempanya atau Tsunaminya, atau bisa juga kedua-duanya” ujarnya.


 


“Tetapi kali ini lain, lanjutnya, justru ada tiga yang menjadi “ pembunuh” dalam waktu yang hampir bersamaan. Yaitu gempa yang langsung meluluh lantakkan bangunan kemudian disusul tsunami yang sama ganasnya ditambah Lumpur yang ikut menghabisi apa saja disekitarnya. Ketiga-tiganya seolah bergerak satu komando dalam waktu secepat kilat. Sehingga sebagian besar korbannya tidak sempat menyelamatkan diri” pungkasnya.


 


 


Cermin Spiritual Buat Kita


 


Tentunya, sebagai kaum muslimin yang beriman kepada Allah, meyakini bahwa tidak ada kejadian dimuka bumi ini melainkan semua atas kehendak-Nya, semua peristiwa dan kejadian yang terkandung di dalamnya hanya Dia-lah yang mengetahui. Sebagaimana firman Allah subhanahu wataala


 


Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis di kitab (Lauh Mahfudz)sebelum kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. QS: Al Hadid:22


 


Orang beriman meyakini bahwa kejadian demi kejadian tidaklah hanya dilihat dari satu sudut pandang. Orang beriman menolak pandangan bahwa kejadian itu “hanya” karena faktor alam, karena adanya pergeseran lempeng bumi atau semisalnya, semua sudah ada masanya, apabila datang waktunya maka itu akan terjadi, jadi itu hanya gejala alam tidak lebih dari itu. Sekali lagi orang beriman menolak pemikiran dan pandangan seperti ini, karena sama sekali meniadakan campur tangan Ilahi di dalamnya.


 


Tetapi bagi pandangan orang beriman melihat kejadian tersebut tidak hanya sampai disitu, sekedar gejala alam. Orang beriman lebih pada introspeksi diri, bahwa jangan sampai kejadian yang terjadi ini khususnya di berbagai wilayah di negeri ini karena faktor lain, ada faktor maksiat dan dosa yang dilakukan masyarakat bangsa ini.


 


Allah Azza wa Jalla berfirman: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagain besar (dari kesahanmu). QS: Asy Syuaraa:30.


 


Selaras dengan ayat diatas, Sahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib -radiyallahu anhu- mengatakan, “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi hal 87)


 


Bahkan Syeikh Ibnul Qoyyim Al Jauziyah rahimahullahu mengatakan “Diantara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebakan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi hal 87).


 


Sebagai penutup, mari kita bermuhasabah, instrospeksi diri.Apakah karena dosa-dosa dan maksiat kita terlalu besar dimata Allah sehingga menimbulkan bencana di diberbagai tempat. Bumi ini juga makhluq-Nya, ia pun akan melakukan tindakan mengerikan apabila itu tidak sesuai dengan qadar yang telah ditentukan tuhan-Nya.


 


Eksploitasi alam besar-besaran secara brutal dan serakah oleh sebagian manusia karena nafsunya menjadi salah satu indikasi kuat munculnya musibah dan bencana. Oleh karenanya, mari bercermin spiritual dengan musibah tersebut, sehinggan semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya. Wallahu Alam bisshowab.


 


Oleh: Ust. Syamsul Alam Jaga, M.Kom (Waka Kesiswaan SD Luqman Al Hakim Surabaya - Imam Masjid Madani Perumahan Pakuwon City Surabaya)


 

Sekolah Integral | SD Luqman Al Hakim Surabaya | Sekolah Islam Surabaya : http://integral.sch.id
Versi Online : http://integral.sch.id/?pilih=news&aksi=lihat&id=502