Sekolah Integral | SD Luqman Al Hakim Surabaya | Sekolah Islam Surabaya
Rubrik : Artikel Guru
Arga Sang Penyemangat (Best Three - Gebyar Literasi)
2017-10-15 - by : admin


 


Tak ada yang sempurna di dunia ini. Ada yang fisiknya sehat tapi perilakunya sesat. Ada yang cantik namun di sisi lain sikapnya kurang baik. Begitulah kehidupan, ada yang pandai ada pula yang telmi. Ada yang cerdas ada pula yang nilai ujiannya selalu kandas. Maha Suci Allah Swt yang menciptakan segenap makhluq dengan segala kekurangan dan kelemahan. Kita wajib syukuri dan nikmati semuanya. Hanya Allah Yang Maha Sempurna. Kita wajib meyakini bahwa Allah Swt memberikan yang terindah bagi mereka yang ikhlas dan terus berusaha. Dan saya termasuk yang sangat percaya akan hal itu.


 


Mengapa saya awali tulisan ini dengan perbandingan ketidak sempurnaan yang dimiliki oleh setiap orang? Yups... karena saya ingin berbagi dan memberikan bukti nyata bahwa Allah Maha Adil, Allah Maha Hidup, dan Allah sangat sayang kepada setiap hambanya yang mau berusaha dan berubah… Move on kalau kata anak muda sekarang hehe...


 


13 tahun saya mengabdi di Pesantren Hidayatullah Surabaya, sebagai pengajar SD Luqman Al Hakim. Alhamdulillah banyak pengalaman yang saya peroleh dari guru-guru kecil (baca murid) yang memiliki beragam karakter dan perilaku. Pengalaman spiritual, pengalaman mengajar, pengalaman parenting dan masih banyak yang lain. Tidak lupa juga pelajaran dari orang tua wali murid sekolah. Dari mereka saya belajar bahwa kerjasama orang tua wali murid dengan guru dan sekolah sangatlah penting. Siswa yang baik dalam sikap, belajar, dan prestasi dipengaruhi banyak faktor, terutama dukungan orang tua.


 


Tahun 2014 saya mendapat amanah mengajar di kelas 4. Allah memberikan amanah seorang murid yang istimewa. Dulu di kelas 3 saya pernah menjadi wali kelasnya. Saya sangat paham bagaimana kondisi murid tersebut. Murid istimewa itu bernama Arga Reva Syahrunessa. Satu ketika, Arga mengeluh pusing. Dia tak bisa melihat tulisan di papan tulis.


Ustadzah saya tidak bisa melihat tulisan di papan us….” ,
“Ustadzah saya pusing…”
“Ustadzah saya tidak bisa menulis us….”


Hanya itu yang bisa diucapkannya saat itu. Dia menangis marah, mencoret-coret buku tulisnya. Mungkin tidak kuat menahan rasa sakitnya. Mungkin juga memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Pernah suatu ketika Arga hampir pingsan. Mengharuskan saya dan Ustadzah Wida mengangkatnya ke UKS. Ya Allah apa yang terjadi pada anak ini? Sekuatnya kutahan air mata ini agar tidak meleleh di hadapannya.


 


Setelah berkomunikasi dengan orang tuanya, diketahui bahwa Arga menderita penyakit ODS Papil edema. Sebuah penyakit berkelanjutan yang dapat menyebabkan perluasan bintik buta, penyempitan lapangan pandang perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap. Tumor di Lobus Oksipitalis memberikan gejala awal terutama nyeri kepala. Gejala khas yang muncul yaitu efek lapangan penglihatan sebagian. Lesi di Hemisfer dominan bisa menimbulkan gejala tidak mengenal benda yang dilihat (visual object agnosia) dan kadang-kadang tidak mengenal warna (agnosia warna), juga tidak mengenal wajah orang lain (prosopagnosia).


 


Begitu penjelasan yang saya baca ketika orang tua Arga memberikan selembar kertas hasil pemeriksaan dari dokter. Membaca selembar kertas itu saya hanya bisa bengong tak berujung (gimana tuh bengong tak berujung hahaha). Sampai rumah sayapun mencari tau tentang penyakit ini… Masyaallah ternyata butuh penanganan yang serius untuk kasus Arga ini. Rabbanaa… sedihnya saya. Namun yang lebih sedih dan terpukul pastinya adalah orangtua serta keluarga Arga. Tetapi saya tidak akan membahas penyakit ini lebih jauh. Ada hal menarik yang akan saya bagi di tulisan ini.


 


Nama lengkapnya Arga Reva Syahrunessa. Eh... sudah disebut diawal tulisan tadi hihi... tak mengapa, biar tidak scrool up lagi. Dia adalah murid di SD Luqman Al Hakim Surabaya. Kini Arga sudah di jenjang SMP kelas 7. Satu tahun tertinggal dari teman-teman seangkatannya. Ketertinggalan Arga ini dikarenakan sakit yang dideritanya.


 


Arga adalah siswa yang cerdas, tangkas, cekatan, berani, dan aktif. Namun itu hanya dapat kami lihat sampai Arga kelas 4 akhir semester 1. Saat di kelas 3, Arga paling jago main sepakbola. Hoby lainnya, dia suka melihat balapan mobil Formula 1 di televisi. Esok harinya di kelas dengan penuh semangat dia bercerita kepda teman-temannya dikelas. Bisa kita bayangkan betapa aktifnya Arga di kala sehatnya.


 


Arga yang sekarang jauh berbeda, tak lagi siswa yang tangkas dan cekatan. Untuk berjalanpun harus meraba-raba. Pelan dan sangat hati-hati. Tak jarang kami temui dia berjalan limbung, tidak bisa fokus ke tempat yang dituju. Satu hal yang tetap pada diri Arga adalah semangat belajarnya yang tinggi. Di kala teman-temannya sudah kelas 5, tak nampak pada dirinya perasaan minder maupun berkecil hati ketika dia harus tetap belajar di kelas 4.


 


Selama menjalani operasi bedah dan perawatan, keinginannya untuk kembali belajar di sekolah semakin tinggi. Tahun berikutnya akhirnya Arga bisa kembali menyibukkan diri dengan belajar, tugas-tugas sekolah, dan bermain dengan teman-temannya.


 


Tak bisa dipungkiri, keadaan Arga sangat jauh berbeda dengan saat sebelum sakit. Ketika belajar dia harus didampingi shadow teacher. Efek penyakit ini membuat penglihatannya berkurang, membuatnya kesulitan membaca dan harus dibacakan guru bayangan. Arga memang anak yang cerdas. Meskipun belajar hanya mengandalkan pendengaran, materi yang diberikan guru dapat diserapnya dengan baik. Nilai ujiannnya tergolong tertinggi di kelasnya.


 


Dari sosok Arga inilah saya memotivasi siswa lain yang memiliki fisik lebih sehat agar lebih bersemangat dalam belajar. Dan… tentunya memotivasi saya pribadi untuk berbuat lebih baik lagi. Rasanya seperti ada yang menampar pipi ini. Membangunkan dari tidur panjang kenyamanan dan kemalasan. Jika zona nyaman yang melenakan dan rasa malas itu datang, malu rasanya teringat apa yang telah dipebuat Arga.


 


Sejak mendampingi Arga selama 2 tahun, sebagai pendidik saya mendapatkan banyak sekali hikmah dan pelajaran hidup. Kesabaran, tekad yang kuat, pantang menyerah, dan semangat tinggi dalam menuntut ilmu.


 


Alhamdulillah... Arga banyak memberikan inspirasi, mulai dari siswa, guru, dan wali murid. Perjuangannya luar biasa. Susah payah pantang menyerah berjuang. Terutama ketika membaca tulisan setelah proses operasi pengambilan tumornya. Arga membaca menggunakan senter yang diletakkan di kepala. Mirip senter yang digunakan penambang. Dengan penuh kesabaran, walaupun tertatih dia mengikuti mengikuti pelajaran.


 


Dan yang paling membanggakan adalah ketika Arga mampu menyelesaikan hafalan Al-Quran hingga 3 juz. Subhanallah... Bagaimana cara menghafalkannya? Arga mendengarkan murotal yang diputar orang tuanya saban hari. Orang tuanya pun mencopy lembaran Al-Quran menjadi sebesar lembaran Koran. Subhanallah...


 


Kalau teringat usaha yang telah dilakukan Arga dan orang tuanya agar dapat mengikuti PBM hingga lulus dari SD ini, saya merasa tidak ada apa-apanya. Apalah usaha yang sudah saya lakukan untuk anak-anak didik, anak kandung sendiri, juga pada diri saya sendiri. Malu iya pasti… Arga yang tidak sempurna penglihatannya, mampu menjadi siswa yang berprestasi, membanggakan orang tuanya, dan menginspirasi teman-teman dan gurunya.


 


Alhamdulillah... di detik terakhir Arga mengenyam pendidikan di sekolah ini, saya masih bisa mengantarkan dan mendampinginya menghadapi Ujian Nasional. Nilai Akhir Unasnya sungguh luar biasa, rata-rata A. Subhanallah...


 


Hikmah apa lagi yang bisa kita ambil dari perjalanan Arga? Ya.. tetaplah bersyukur dengan apa yang telah Allah takdirkan kepada kita, tidak ada usaha yang tidak ada hasil, karena usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Jika kita bersungguh-sungguh maka Allah akan berikan yang terbaik sesuai dengan seberapa besar usaha yang kita lakukan. Terus berusaha dan jangan menyerah.


 


Sebagaimana firman Allah Swt dalam Surat Al Baqarah ayat 286,  "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". Bahwasannya Allah Swt tidak akan menguji seorang hamba kecuali sebatas hamba tersebut mampu memikulnya. Kita harus senantiasa berprasangka baik kepada Allah dengan meyakini bahwa tiada cobaan yang tidak berakhir dan jalan keluar selalu akan datang kepada hamba-hambanya yang hanya bersandar pada pertolongan dan kasih sayangNya semata. Wallahualam bissawab. (integral.sch.id)


 


Oleh: Ustadzah Risa Hasmaretni, ST (Aktifis dan Pengajar SD Luqman Al Hakim Surabaya)


 

Sekolah Integral | SD Luqman Al Hakim Surabaya | Sekolah Islam Surabaya : http://integral.sch.id
Versi Online : http://integral.sch.id/?pilih=news&aksi=lihat&id=383