Jihad Terindahku Menjadi Guru Sekaligus Ibu

Posted on: 7 December 2018

Ustadzah Shita. Itulah panggilanku. Amanahku adalah konselor atau guru Bimbingan dan Konseling (BK) di SD Luqman Al Hakim Surabaya Jawa Timur. Sejak Juli 2008, aku bekerja di lembaga pendidikan Islam ini. Tak terasa, hampir 11 tahun beraktifitas di sekolah kawasan Surabaya Timur ini. Masih terlalu sedikit waktuku di sini, masih harus banyak belajar lagi untuk mengasah ilmu psikologiku.

 

 

Aku tinggal di daerah Surabaya Barat, Manukan tepatnya. Langit biru senantiasa memayungi perjalananku berangkat dan pulang kerja, hampir 16 kilometer jauhnya. Kurang lebih satu jam lamanya, ditemani sepeda motor pink motif bunga menemani perjalanan jihadku. Deru suara puluhan mobil dan sepeda motor senantiasa menjadi teman perjalananku.

 

Mei 2012, aku dinyatakan positif hamil anak kedua,alhamdulillah. Kehamilan anak kedua ini agak berbeda. Hingga usia tiga bulan kehamilan, si janin belum nampak. Hanya kantung rahimnya saja yang terlihat. Hal inilah yang mengharuskanku bedrest seminggu penuh. Enam bulan sebelumnya Aku pernah keguguran. Karena setiap hari harus menempuh satu jam perjalanan. Hal inilah yang mengharuskanku minum obat penguat janin.

 

Hari demi hari usia kandunganku semakin besar, perutku pun semakin besar. Setiap mau berangkat kerja, aku selalu berdoa, “Ya Allah kuniatkan kerja karenaMu. Berilah keselamatan dalam perjalananku. Dan karuniakanlah kemudahan bagi hamba dalam melaksanakan amanahMu”.

 

Amanah utama konselor adalah menangani permasalahan siswa dari kelas satu sampai kelas 6. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya 600-an siswa. Permasalahan siswa yang sering muncul diantaranya kedisiplinan, kejujuran, keaktifan mengikuti pelajaran, konflik antar siswa, dan sebagainya. Kulakukan tugas ini sepenuh hati. Mendampingi dan memotivasi siswa-siswi meskipun dalam keadaan hamil.

 

*****

 

“Assalamu’alaikum! Ustadzah...ustadzah!” terdengar suara teriakan dari arah pintu ruang BK.

 

Aku pun berdiri, berjalan pelan menuju pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu dengan keras sambil teriak-teriak. Dalam hatiku berkata “Ada masalah apa ya ini?”

 

Saat kubuka pintu, langsung ada suara yang terengah-engah. “Ustadzah, ada yang bertengkar di kelas 6, ayoo ustadzah Shita dipanggil ustad disuruh ke kelas...ayo cepetan Ustadzah!”. “Iya sebentar nak, ustadzah kan lagi hamil masa kamu suruh lari-lari,” jawabku sambil tersenyum.

 

Anak tangga demi anak tangga kunaiki, tiap lantai berhenti sejenak menghela nafas sambil mengelus perut sambal berucap, “Kuat ya nak kamu di perut Omi, temani Omi berjihad mendidik murid-murid“. Alhamdulillah, akhirnya  tiba di lantai 3. Di depan kelas 6 sudah ada satu siswa yang berdiri di luar dekat kamar mandi. Aku pun melangkah menghampirinya.

 

“Kenapa kamu diluar kelas?”, tanyaku dengan nafas masih terengah-engah. “Aku takut masuk kelas Ustadzah, Fulan marah-marah”, Jawab Ahmad dengan suara lirih.

 

Aku-pun bergegas memasuki kelas, di dalam kelas terlihat kerumunan anak-anak, “Ada Ustadzah Shita minggir! Minggir!”. Aku meminta anak-anak untuk membubarkan kerumunan, dan ternyata dibalik kerumunan ada siswa di lantai.

 

“Ada apa ini, ngapain kamu di lantai seperti itu? Ayo berdiri!” ucapku. “Gak mau...aku gak mau!” Jawab Fulan sambil teriak, tangannya melempar buku, dan kakinya menendang meja yang ada di sebelahnya. Kakinya hampir saja mengenai perutku.

 

“Maaf mas Fulan, ustadzah bicara baik-baik, ustadzah tidak menyakitimu, tidak menendangmu, kenapa kakimu kok menendang ustadzah. Ustadzah lagi hamil kalau kenapa-kenapa dengan bayi ustadzah bagaimana?” tanyaku dengan nada yang lembut.

Sambil melihat ke arah perutku, Fulan mulai menghentikan teriakannya. “Ustadzah ingin membantu mas Fulan menyelesaikan masalahnya, ayo sekarang ikut ustadzah ke ruang BK. Kamu menendang-nendang seperti ini sama saja merusak fasilitas sekolah “ Kataku dengan tegas.

 

“Gak... aku gak mau,” jawab Fulan dengan nada tinggi. “Ustadzah hitung sampai 10, silahkan berdiri dan jalan sendiri ke ruang BK, atau ustadzah minta bantuan ustad untuk mengantarmu. Ustadzah ingin membantu kamu menyelesaikan masalahmu. Kalau kamu di sini terus dan marah-marah, masalahmu tidak akan selesai,” kataku dengan nada tegas. Khawatir semakin banyak meja kursi yang ditendang. Perlahan Fulan bangkit dan berjalan menuju ruang BK.

 

*****

 

Alhamdulillah suatu kebahagiaan bagiku apabila murid-murid bisa belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena salah satu tugas kami sebagai konselor adalah membantu siswa belajar menyelesaikan masalahnya.

 

Terkadang pekerjaan kami sebagai guru BK ditakuti. BK dianggap sebagai polisi siswa. Terkadang juga diremehkan, karena kami tidak mengajar di kelas. Tapi bagiku amanah yang diberikan Allah SWT sebagai konselor siswa adalah tugas yang mulia sama seperti guru kelas lainnya.

 

Kami harus bisa membantu semua siswa untuk mengenal diri sendiri, sehingga mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Menjaga psikologis siswa supaya nyaman dan tidak terganggu  dalam belajar. Membimbing dan mendampingi perkembangan belajar siswa.

 

Menjadi seorang ibu yang sedang mengandung dan menjadi konselor siswa untuk menangani anak-anak yang sedang mengalami masalah bukanlah tugas yang ringan. Saat siswa marah-marah, teriak, memukul, menendang, butuh kekuatan khusus bagi guru BK untuk tetap bisa menangani siswa. Di lain sisi, harus melindung bayi di perut supaya tidak kena pukul dan tendang siswa yang sedang bermasalah dengan emosinya.

 

Karena rasa sayangNya padaku, karena rasa cintaNya padaku, Rabb-ku telah memilihku mengemban amanah ini. Aku belajar mengambil hikmah dari semua kejadian. Semakin kita bersabar dan bersyukur, maka semakin banyak yang akan kita dapatkan yaitu kebahagiaan.

 

Jihadku sebagai ibu adalah saat mengandung dan melahirkan anak-anakku. Jihadku sebagai konselor siswa adalah saat bisa membantu siswa-siswiku menyelesaikan masalahnya, saat bisa memotivasi belajarnya, saat bisa meredam emosi, kesedihan, dan kekecewaaan siswa. Yang terakhir yaitu saat bisa melihat siswa-siswiku punya kebesaran hati untuk saling memaafkan.

 

Ketika jihadku sebagai ibu dan sebagai konselor siswa harus aku lakukan bersamaan, maka saat itu aku bersyukur kepada Rabb-ku karena inilah Jihad Terindahku.

 

Oleh : Ustadzah Shita Lastri Syafarini, S.Psi (Guru Konselor SD Luqman Al Hakim Surabaya)

 

*Tulisan ini meraih predikat 12 nasional, Lomba Guru Menulis 2018 “Sekolahku Perjuanganku” diselenggarakan Depdikdasmen DPP Hidayatullah.

 

 

 

Versi cetak


Berita Terkait


« Feb 2019 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 1 2
3 4 5 6 7 8 9


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 




Visitors :642871 Visitor
Hits :858089 hits
Month :2986 Users
Today : 507 Users
Online : 19 Users


https://www.facebook.com/luqmanalhakimsby/


Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • nindi

    vandro@usa.com

    surabaya

    Pada 20-Nov-2018


    asslamualaikum..

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi