Menuai Nikmatnya Buah Kesabaran (Peringkat 8 Nasional – Seri 2 Habis)

Posted on: 3 December 2018

Tibalah hari bina prestasi yaitu hari Selasa dan Kamis. Mendengar kata Selasa dan Kamis, tiba-tiba mata saya berkunang-kunang, rasa mual yang muncul secara tiba-tiba, rasa sakit kepala di bagian depan, dan entah tubuh ini lemas secara keseluruhan. 

 

 

“Ustadzah, aku tidak ikut bina prestasi ya,” kata Fulan sambil mengusap matanya. Dibalik kacamatanya yang tebal, terlihat mata itu sayu dan sangat lelah.

 

“Kenapa Mas?” tanyaku sembari membelai lembut kepalanya. “Aku pusing Ustadzah,” jawabnya singkat.

 

“Coba Mas Fulan istirahat sebentar, nanti jika pusingnya sudah hilang, langsung bergabung dengan teman-teman ya,” jawabku sambil melirik wajahnya.

 

“Tapi aku mau pulang Ustadzah, aku pusing,” tegasnya.

 

“Baik, jika memang Mas Fulan pusing, hari ini boleh tidak ikut bina prestasi, tapi besok Kamis ikut ya,” pintaku.

 

Dia pun mencium tangan saya dan berpamitan pulang.

 

Hari Kamis pun tiba. Hari dimana ada bina prestasi. Dengan senyuman saya mencoba menyemangatinya.

 

“Nanti mas Fulan semangat ya ikut bina prestasi.”

 

Tanpa anggukan, tanpa sepatah kata dia berlalu pergi. Namun, saat saya asyik menyiapkan media belajar untuk bina prestasi, siswa ini sudah tidak terlihat lagi sosoknya di kelas. Mata saya berputar melihat ke seluruh sudut kelas, namun hasilnya nihil. Seakan faham siapa yang saya cari, siswa yang lain pun berkata:

 

“Fulan ya Ustadzah? Sudah pakai sepatu dan keluar kelas sambil bawa tas."

 

“Allahu akbar…” saya berteriak dalam hati dengan perasaan yang bercampur jadi satu.

 

Hal itu tidak ia lakukan sekali, namun sering ia lakukan saat ada bina prestasi, hari Selasa dan Kamis. Sampai saya berpikir untuk berhenti menyemangatinya dalam membaca.

 

Selepas  Maghrib, saya sempatkan tadarus Alquran. Saat saya buka Al-Quran secara acak, lalu saya baca surat itu. Adalah surat Al Alaq ayat 1-5 yang menjadikan saya sangat tergerak untuk memotivasi dan mendukung lagi Fulan untuk berusaha agar bisa membaca. Ini adalah arti dari surat Al Alaq ayat 1-5:

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

 

Yang mana pokok-pokok isinya adalah perintah membaca Al Quran. Maksud ayat 1 surat Al Alaq ini sudah sangat jelas yaitu perintah membaca. Terutama membaca Kalamullah, selanjutnya membaca bacaan yang bisa diambil hikmah dan manfaatnya. Ayat kedua menjelaskan bahwa pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah dari segumpal darah yang dilapisi oleh kulit dan saraf-saraf penunjang sehingga terjadi koordinasi yang sempurna dalam tubuh manusia.

 

Ayat ketiga, pada ayat ini Allah memberikan penegasan perintah membaca kepada manusia. Maksud dari ayat keempat adalah Allah menjadikan kalam sebagai alat mengembangkan pengetahuan. Pada ayat kelima, menjelaskan bahwa Allah sangat sayang terhadap makhluknya sehingga Allah mengajarkan semua yang manusia tidak mengetahui lewat perantara kalam, kejadian alam dan penciptaan manusia.

 

Berbekal surat Al Alaq 1-5, saya memanggil Fulan dan saya tunjukkan halaman surat tersebut. Karena dia belum bisa membaca, maka saya bacakan ayat beserta  akhirnya. Dia mendengarkan dengan seksama. Ini adalah ikhtiar saya dalam memotivasi siswa tersebut.

 

Saya juga berusaha merangkul ibunya untuk sama-sama saling menguatkan agar Fulan termotivasi untuk membaca. Allahu akbar, hari demi hari berlalu, Fulan pun mulai bisa mengaitkan huruf konsonan dan vokal. Alhamdulillah, dia mulai bisa membaca suku kata. Setahap demi setahap dia lalui. Akhirnya Fulan sudah bisa membaca kata. Kini, murid kesayangan ini paling semangat dalam mengikuti bina prestasi. Dia bahkan memotivasi temannya yang semangatnya naik turun seperti dirinya waktu itu agar tetap berusaha belajar membaca.

 

Masyaa Allah, sungguh Allah Maha membolak balikkan hati manusia. Saya sangat bahagia atas pencapaiannya dalam membaca. Saya terus memanjatkan doa untuk kesalihannya dan keistiqomahannya. Semoga dengan terjaganya iman dalam diri kita, Allah tetap menitipkan sabar dalam diri kita, selalu menunjukkan jalan keluar dalam setiap masalah dan Allah senantiasa selalu meridhoi dan memberi hidayahNya kepada kita. Aamiin yaa Robbal alamiin.

 

Oleh : Arinda Qurrota Akyuni, S.Pd (Guru SD Luqman Al Hakim Surabaya)

 

*Tulisan ini meraih peringkat 8 nasional dalam lomba menulis yang diadakan Depdikdasmen DPP Hidayatullah 

 

Versi cetak


Berita Terkait


« Jan 2019 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
30 31 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 




Visitors :573656 Visitor
Hits :775005 hits
Month :2478 Users
Today : 473 Users
Online : 20 Users


https://www.facebook.com/luqmanalhakimsby/


Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • nindi

    vandro@usa.com

    surabaya

    Pada 20-Nov-2018


    asslamualaikum..

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi