Berteman dengan ADD - Attention Deficit Disorder (Peringkat 4 Nasional) - Seri 1

Posted on: 26 November 2018

Apa yang Allah berikan untuk kita pasti yang terbaik, meskipun yang terbaik itu bukan yang terindah

 

 

Lantunan ayat-ayat suci juz 30 terdengar dari depan pintu  masuk. Setiap pagi sebelum bel masuk, kalam Illahi lah yang terdengar. Sambil komat-kamit menirukan surat yang terdengar, aku melangkah masuk menuju kelasku. Masih sepi, hanya terlihat beberapa santri yang datang lebih awal dibanding diriku.

 

Pagi ini sang surya bersinar dengan cerah. Secerah hariku menyambut tahun ajaran baru yang akan ku jalani. Tahun ini tahun ke tiga aku bergabung di sekolah ini. Sekolah Dasar Integral Luqman Al Hakim Surabaya.

 

Bersyukur sekali bisa mengajar di sini. Di sekolah yang tidak hanya mempelajari ajaran Islam, tetapi juga menerapkan amalan penyampai wahyu terakhir. Bentuknya perilaku sehari-hari.

 

Tahun ini  aku mendapat amanah  mengajar di kelas 3. Hal yang baru bagiku, karena sebelumnya aku  mengajar di kelas 2.  Aku harus siap. Amanah ini bukan hal ringan. Mengajar 29 santri dengan  latar belakang berbeda, pastilah banyak cerita.

 

Tidak terasa aku sudah sampai di kelas. Ruang kelas berukuran  7 X 9 meter ini, rasanya masih kurang luas menampung  tingkah  polah mereka. Sudah terbayang keceriaan mereka di hari pertama ini. Walaupun ada juga yang masih merajuk karena tidak sekelas dengan karibnya. Tiap tahun mereka akan mempunyai teman yang berbeda dari tahun sebelumnya. Inilah yang kurindukan. Wajah-wajah polos, yang jelas terlihat ekspresinya.

 

“Assalamu’alaikum, bagaimana kabarnya hari ini?” ucapku ketika mereka sudah duduk di karpet untuk persiapan do’a. Kulihat mereka satu persatu. Ah, ada wajah-wajah yang tidak asing lagi bagiku. Ya, mereka adalah santri-santriku di kelas 2 tahun lalu. Salah satunya sebut saja Fulan.

 

Fulan terlihat sibuk dengan kaos kakinya, rupanya ia belum siap sedari tadi. “Fulan sudah siap berdoa?” tanyaku. “Sebentar, Uz. Aku masih pakai kaos kaki,” jawabnya. “Kenapa lama sekali?” tanyaku lagi.

 

Fulan hanya tertawa, sambil menunjukkan deretan gigi tetapnya yang sudah tumbuh sempurna. Fulan adalah anak yang istimewa. Dia terdiagnosa ADD (Attention Deficit Disorder ). Istilah yang digunakan untuk anak dengan diagnosis ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) dan identik dengan perilaku sulit  memperhatikan. Membedakan keduanya memamg tidak mudah, apalagi melalui kacamata awam. Untuk Fulan, dia cenderung ADHD dominan inatentif.

 

Anak dengan tipe ADHD inatentif lebih banyak menunjukkan gejala yang berhubungan  dengan kesulitan memperhatikan dan memfokuskan diri. Tipe ADHD inilah yang seringkali dimaksud dengan ADD. Beberapa tanda khas ADD yang sering ditemukan adalah, pelupa, berantakan dan sulit menyelesaikan pekerjaan. Anak dengan ADD biasanya tidak hiperaktif. Mereka tidak nampak ‘kelebihan energi’ seperti yang umumnya terlihat pada anak ADHD.

 

Itulah yang terjadi pada Fulan. Orang tuanya pastilah orang tua yang istimewa dan terpercaya, karenanya Allah menitipkan Fulan.

 

Sekolah kami adalah sekolah full day dan  bukan sekolah inklusi. Mendapat anak yang istimewa seperti Fulan pastilah tantangan tersendiri bagiku.  Fulan mulai terdeteksi ADD, ketika di kelas 2. Itupun setelah aku mendesak pihak Bimbingan Konseling (BK) untuk meminta orangtuanya memeriksakan ke psikolog.

 

Ingatanku kembali ke satu tahun yang lalu. Saat  awal di kelas 2, Fulan sangat sulit dikendalikan. Hampir tiap hari Fulan tak mau mengerjakan tugas. Maunya hanya bermain dari pagi sampai menjelang pulang di sore hari.  Fulan tidak bisa diam,  berlarian  kesana kemari. Kadang apa yang dilakukannya mengganggu teman yang lain. Apabila ada teman yang mengganggu atau menggodanya, maka, dia akan semakin banyak bergerak berlarian ke seluruh ujung kelas.

 

Hal ini sangat merepotkan kami. Tidak jarang aku atau partnerku memaksa Fulan untuk mengerjakan tugas. Hal itu hanya berhasil di pagi hari. Menjelang Dzuhur, Fulan akan kembali sibuk dengan dunianya. Berlarian mengelilingi kelas sambil mengajak bicara teman-temannya, adalah pemandangan biasa yang terjadi tiap hari. Hal ini sangatlah mengganggu. Kadang kami menyerah dengan keadaan ini.

 

Ketika berwudhu pun bisa menjadi hal yang menyenangkan bagi Fulan, tapi menguji kesabaran bagiku. Sebelum berwudhu biasanya ia dan beberapa teman  ke kamar mandi terlebih dahulu. Kamar mandi ar rijal berada di lantai satu dekat dengan kolam ikan. Tidak jarang, sambil menunggu antrian, Fulan dan teman-temannya akan menghabiskan waktu dengan mengobok-obok  kolam.

 

Hal inilah yang menguji kesabaranku. Sampai sholat dimulai, Fulan belum kembali. Aku menunggunya sampai rokaat ke dua akan dilaksanakan. Tapi Fulan tidak kunjung datang. Kalau sudah begini, mau tidak mau aku harus turun  ke lantai satu untuk melihat,  apa yang terjadi.

 

Kudengar riuh suara tawa dari arah kolam. “Fulan, cepat ke sini ikannya lari ke sini,” kata Zaid setengah berteriak. “Mana ikannya,” sahut Fulan sambil  berlari.

 

Suara anak berlari dan tertawa semakin terdengar jelas. Setelah kulihat apa yang mereka lakukan, aku hanya mengelus dada. Ku tahan emosiku yang akan meledak. Aku berusaha menenangkan diri. Ternyata salah satu santri, melihat kehadiranku. “Ada Ustadzah… cepat kembali!” seru Ahmad dengan lantang.

 

Secepat kilat mereka berlari menjauh dariku dan menuju tempat wudhu. Di tempat wudhu, mereka bergegas menyelesaikan wudhunya dan kembali ke kelas. Pandangan mataku yang tajam, rupanya cukup ampuh untuk menggerakkan kaki mereka secepat kilat.

 

Kadang dalam hati, aku merasa bagai hantu di mata mereka. Ah, biarlah, aku hanya ingin mereka tahu waktu. Tidak tercampur aduk tentang konsep waktu bermain dan  menunaikan kewajiban.

 

Setelah selesai sholat, mereka bertiga aku kumpulkan. Zaid dan Ahmad hanya tertunduk. Rupanya mereka menyadari kesalahannya. Berbeda dengan Fulan, tanpa rasa bersalah dia tersenyum-senyum di hadapanku. (Bersambung)

 

Oleh :  Yuli Rakhmawati (Guru SD Luqman Al Hakim)

Artikel ini merupakan peringkat 4 Nasional dalam Lomba Menulis Depsikdasmen DPP Hidayatullah

Versi cetak


Berita Terkait


« Mar 2019 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
24 25 26 27 28 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 




Visitors :702396 Visitor
Hits :925471 hits
Month :3152 Users
Today : 673 Users
Online : 19 Users


https://www.facebook.com/luqmanalhakimsby/


Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • nindi

    vandro@usa.com

    surabaya

    Pada 20-Nov-2018


    asslamualaikum..

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi