Menuai Nikmatnya Buah Kesabaran (Peringkat 8 Nasional - Seri 1)

Posted on: 29 November 2018

Menjadi seorang pendidik tidaklah mudah. Apalagi seorang wanita yang notabene harus berada di tengah keluarga, sebagai seorang istri sekaligus ibu. Berbekal ridho suami, berangkatlah saya menjemput pahala tambahan yaitu mendidik generasi Islam. Agar lebih mengenal Rabb nya dan mendapat ilmu yang bermanfaat.

 

 

Tibalah saya mendapat amanah untuk mengawal tumbuh kembang siswa kelas 1 dalam bertholabul ‘ilmi. Ini adalah hal   yang sangat istimewa. Kenapa istimewa? Karena tidak semua orang bisa mengemban amanah ini. Seperti yang kita tahu bahwa siswa kelas 1 di kisaran usia 6-7 tahun, mengalami masa transformasi yang luar biasa. Peralihan dari masa TK ke SD, dimana pada fase ini mereka  mengalami  pembiasaan  yang  tidak  mudah.  

 

Berawal dari kebiasaan bermain, namun kini harus membiasakandiri menyelesaikan tugas. Juga dari kebiasaan belajar dengan melihat gambar saja, namun kini mereka harus membiasakan diri untuk mengenal huruf bahkan membaca.  Di  fase  ini  juga mereka mengalami peralihan dari kebiasaan manja dan menggantungkan segala sesuatu pada orang lain, kini mereka harus membiasakan diri untuk mandiri dalam segala hal.

 

Dan yang lebih penting adalah peralihan dari kebiasaan dalam menyelesaikan masalah dengan menangis, kini mereka harus membiasakan diri untuk menyelesaikan masalah dengan baik tanpa rasa emosi. Bisa dibayangkan betapa sulit masa mereka. Guru yang mendapat amanah ini adalah guru pilihan Allah, dimana kuncinya terletak pada kesabaran, ketekunan, dan keistiqomahan.

 

Saya bukanlah orang yang sabar dan tekun. Saat mendapat amanah inilah saya mulai belajar bagaimana cara mengelola diri agar bisa sabar dan tekun dalam menghadapi segala sesuatu. Ternyata hal ini saya rasakan tidak hanya saat mendidik siswa di sekolah, namun rasa sabar itu terbawa sampai ke keluarga kecilku yaitu dalam mendidik anak biologis dan menghadapi berbagai persoalan rumah tangga. Sungguh, saya merasakan sulitnya bersabar dan nikmatnya dalam menuai buah dari sabar.

 

Di level ini, siswa kelas 1 diharapkan bisa membaca, menulis dan berhitung. Terlebih fokusnya adalah dalam membaca. Namun, terkadang mereka masih asyik dalam dunia bermainnya sehingga lebih memilih bermain daripada membaca.

 

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Saya memiliki pengalaman yang yang tidak terlupakan saat saya mengawal mereka untuk bisa membaca. Pada saat mereka awal masuk kelas 1, siswa diklasifikasi menjadi 3 bagian.

 

Kelompok 1 adalah kelompok yang bisa membaca dan memahami apa yang dibaca. Kelompok 2 adalah kelompok yang bisa membaca namun belum bisa memahami apa yang dibaca. Kelompok 3 adalah kelompok yang sama sekali belum bisa membaca bahkan harus selalu dikuatkan tentang abjad. Nah kelompok 2 dan kelompok 3 inilah yang mengikuti program dari akademik yaitu bina prestasi. Tujuannya, membantu siswa agar bisa membaca.

 

Ada salah satu siswa yang tidak mau mengikuti bina prestasi, dia memiliki alasan logis yang terbilang sangat jitu dan meluluhkan hati saya, alasannya yaitu karena capek dan pusing. Mungkin alasan itu terdengar sepele, namun tidak bagi saya. Bagaimana alasan itu bisa meluluhkan hati saya? Tentunya ada alasan yang sangat mendasar.

 

Beberapa hari sebelumnya, ibu dari siswa ini menyempatkan waktu untuk bersilaturahmi kepada saya dan menyampaikan kekurangan dari putranya. Dulu, saat dia dilahirkan, siswa ini sudah mengalami kelainan pada indera penglihatannya sehingga ia tidak bisa melihat dari jarak jauh.

 

Ibunya menyadari hal itu saat siswa ini masuk ke TK A. Setelah berkonsultasi dengan dokter, barulah ketahuan kalau indera penglihatan siswa ini minus. Minus matanya tergolong sangat banyak yaitu kanan dan kiri adalah 6. Sungguh, sebuah kenyataan pahit yang harus diterima siswa ini saat ia harus memakai kaca mata demi penglihatan yang jelas.

 

Saya adalah wanita yang juga berkacamata, sehingga saya tahu bagaimana susahnya menjalani aktivitas sehari-hari dengan menggunakan kaca mata. Apalagi usianya terbilang masih sangat muda, pasti ada rasa tidak nyaman pada saat memakai kacamata.

 

Tibalah hari bina prestasi yaitu hari Selasa dan Kamis. Mendengar kata Selasa dan Kamis, tiba-tiba mata saya berkunang-kunang, rasa mual yang muncul secara tiba-tiba, rasa sakit kepala di bagian depan, dan entah tubuh ini lemas secara keseluruhan. Bukannya melebih-lebihkan dan berbanyak alasan, namun ini nyata terjadi. Bagaimana tidak, pada 2 hari dalam seminggu itu, mulai dari pagi menemani siswa shalat Duha dan berlanjut mengajar sampai pukul 14.00.

 

Hampir pada 2 hari itu, saya menangguhkan waktu makan siang. Dari yang seharusnya saya makan siang pukul 12.00 beralih saat mereka selesai bina prestasi. Pada jam itu nafsu makan sudah tidak muncul sehingga saya tidak bisa menunaikan kewajiban pada perut untuk makan siang. Itu bagi saya, namun tetap dalam hati ini selalu bersabar demi mendapat ridhoNya. Lain halnya dengan siswa saya satu ini. (bersambung)

 

Oleh : Arinda Qurrota Akyuni, S.Pd (Guru SD Luqman Al Hakim Surabaya)

 

*Tulisan ini meraih peringkat 8 nasional dalam lomba menulis yang diadakan Depdikdasmen DPP Hidayatullah 

 

Versi cetak


Berita Terkait


« Mar 2019 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
24 25 26 27 28 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 




Visitors :702399 Visitor
Hits :925503 hits
Month :3152 Users
Today : 673 Users
Online : 21 Users


https://www.facebook.com/luqmanalhakimsby/


Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • nindi

    vandro@usa.com

    surabaya

    Pada 20-Nov-2018


    asslamualaikum..

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi