Rasulullah SAW Sang Majikan Teladan

Posted on: 17 November 2018

Barangsiapa yang saudaranya berada di bawah tangannya, hendaklah ia memberi makanan dan pakai dari apa-apa yang dia makan dan pakai.

 

 

Dalam catatan sirah, Rasulullah ﷺ memiliki beberapa pembantu. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam “Zādu al-Maād” (1/113), menyebutkan beberapa pembantu nabi ﷺ diantaranya: Anas bin Malik (bagian melayani kebutuhan Rasulullah ﷺ), Abdullah bin Masud (bagian pembawa sandal dan siwaknya), Uqbah bin Āmir al-Juhani (bagian pemandu keledainya), Asla bin Syuraik (bagian urusan safari), Bilal (sebagai Muadzin), Saad Maula Abu Bakar, Abu Dzar al-Ghifari, Aiman bin Ubaid (bagian menyiapkan tempat bersuci dan yang berkaitan dengannya).

 

Bagi yang membaca lembaran hayat Nabi, interaksi beliau bersama pembantu sangat mengesankan. Sebagai contoh, simak baik-baik pernyataan Aisyah berikut ini, “Rasulullah tak pernah memukul sesuatu pun dengan tangannya, baik itu perempuan, maupun pembantu, melainkan dalam jihad (perang) di jalan Allah ﷻ.” (HR. Muslim).

 

Sebuah kesaksian luar biasa yang menggambarkan kelembutan dan kasih sayang rasul ﷺ kepada pelayannya.

 

Sebagai tuan dari pembantunya, beliau ﷺ mengingatkan dengan cara yang baik dan tak pernah membentak.

 

Ini bisa dilihat dari kesaksian Anas bin Malik, “Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling indah budi pekertinya. Pada suatu hari beliau ﷺ menyuruh Anas untuk suatu keperluan. Ia pun menjawab: “Demi Allah, aku tidak mau pergi (seolah-olah Anas tidak mau melakukan perintah Rasulullah ﷺ, namun hal itu terjadi karena beliau masih kecil), akan tetapi dalam hatiku aku bertekad akan pergi untuk melaksanakan perintah Nabi kepadaku.”

 

Lalu akhirnya Anas pun pergi, hingga melewati beberapa anak yang sedang bermain-main di pasar. Tiba-tiba Rasulullah ﷺ memegang tengkuknya (leher bagian belakang) dari belakang.

 

Anas bercerita: “Lalu aku menengok ke arah beliau, dan beliau tersenyum.” Lalu kata beliau: Wahai, Anas kecil! Sudahkah engkau melaksanakan apa yang aku perintahkan?’ “Ya, saya akan pergi untuk melaksanakannya ya Rasulullah..” Anas radhiyallahuanhu berkata: “Demi Allah, selama sembilan tahun aku membantu Rasulullah ﷺ, aku tidak pernah mengetahui beliau menegurku atas apa yang aku kerjakan dengan ucapan: “Mengapa kamu melakukan begini dan begitu.” ataupun terhadap apa yang tidak aku kerjakan, dengan perkataan: “Kenapa tidak kamu lakukan begini dan begini.” (HR. Muslim).

 

Interaksi luhur dengan pembantu juga bisa dilihat dalam nasihat beliau berikut yang ditujukan kepada Abu Dzar al-Ghifari, “Saudara-saudara kalian adalah budak dan pembantu kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah tangan (kekuasaan) kalian. Maka barang siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya (kekuasaannya), hendaklah ia memberinya makanan dari apa-apa yang dia makan, memberinya pakaian dari jenis pakaian apa yang dia pakai, dan janganlah kalian membebani (memberi tugas) mereka sesuatu yang di luar batas kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka.”(HR. Bukhari).

 

Pada hadits itu dijelaskan bahwa Rasulullah memerintahkan agar pelayan diperlakukan sama dengan majikannya. Sehingga, tidak ada yang namanya diskriminasi atau merendahkan profesi pembantu. Mereka –seperti halnya manusia lainnya- memiliki hak untuk memakai pakaian dan makanan yang layak.

 

Di samping itu, yang tak kalah penting adalah jangan membebaninya tugas di luar kemampuannya. Bahkan, terkait masalah gaji, beliau juga pernah mengingatkan:

 

“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)

 

Artinya, jangan sampai menyepelekan hak dari pesuruh, pembantu atau pekerja. Bila perlu, gaji segera diberikan sebelum keringatnya kering.

 

Lebih dari itu, Anas menceritakan, saat pembantu nabi ﷺ (anak Yahudi) sedang sakit, dengan cepat beliau ﷺ membesuknya. Beliau juga mendakwahkan Islam padanya. Dengan suka hati –di samping dukungan orang tuanya-, akhirnya pelayan tersebut masuk Islam. Demikianlah akhlak dan interaksi Nabi dengan para pembantunya (HR. Bukhari).

 

Sebagai tuan atau majikan, beliau mampu menunjukkan tauladan terbaik, sehingga menimbulkan kesan mendalam bagi pembantu-pembantunya sebagaimana Anas bin Malik dan lainnya. Maha Benar Allah yang berfirman dalam Kitab SuciNya:

 

“Dan sesungguhnya kamu(Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(Qs. Al-Qalam: 4).

 

Dengan akhlak luhur, beliau sukses menjadi majikan teladan yang patut diteladani oleh semua manusia.*(hidayatullah.com/Mahmud Budi Setiawan)

 

Sumber : https://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2018/11/15/154846/rasulullah-sang-majikan-teladan.html

 

 

 

Versi cetak


Berita Terkait


« Jun 2019 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
26 27 28 29 30 31 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 1 2 3 4 5 6


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 




Visitors :945158 Visitor
Hits :1202083 hits
Month :3312 Users
Today : 707 Users
Online : 22 Users


https://www.facebook.com/luqmanalhakimsby/


Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • nindi

    vandro@usa.com

    surabaya

    Pada 20-Nov-2018


    asslamualaikum..

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi