Ibu, Sang Arsitek Peradaban Islam

Posted on: 20 March 2018

 

Peran keibuan adalah peran Muslimah yang agung dan mulia, yang tidak tergantikan oleh laki-laki hebat sekalipun. Penghargaan terhadap peran ini diberikan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang menempatkan bakti anak kepada ibu lebih didahulukan daripada kepada bapak.

 

“Seseorang pernah datang dan bertanya kepada Rasulullah saw, “ siapa yang lebih diutamakan (untuk menerima) perbuatan baikku ?” Nabi menjawab “Ibumu” “setelah itu siapa lagi?” “Ibumu” “setelah itu siapa lagi?” “ibumu” “setelah itu siapa lagi, Bapakmu.” (HR mutafaq ‘alaih).

 

Sungguh agung peran seorang Ibu. Ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui anak-anaknya. Ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Peran agung inilah yang diberikan Allah kepada perempuan.

 

Islam telah menempatkan perempuan pada dua peran penting dan strategis. Pertama sebagai ibu bagi generasi masa depan. Dan kedua sebagai pengelola rumah tangga suaminya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam bersabda “ Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya” (HR. Muslim).

 

Perempuan yang menyadari aktivitas ini, akan memantaskan diri untuk menjadi seorang ibu yang hebat. Karena dipundaknya ada tanggungjawab menjadi seorang arsitek, yaitu arsitek peradaban. Dari rahimnya kelak melahirkan generasi masa depan yang gemilang, memberikan peran terbaik bagi peradaban.

 

Bagaimana memantaskan diri menjadi arsitek peradaban?

Pertama, menjadi Muslimah yang bertaqwa, melaksanakan apa yang menjadi perintah Allah Subhanahu Wataala dan menjauhi larangan-Nya. Ia menyadari betul bahwa kemuliaan seseorang disisi Allah dilihat dari ketaqwaannya. Maka ia akan terikat dengan hukum-hukum Allah dalam setiap aspek kehidupannya. “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (TQS Al Hujurat:13). Ia akan berusaha menjadi Muslimah yang berkepribadian Islam yang tangguh. Untuk itulah sekalipun menjadi ibu, ia tidak akan meninggalkan aktivitas tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu) dalam rangka melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan menjauhi larangan-Nya.

 

Tentu kita ingat ketaqwaan nenek dari Khalifah terbaik di masa Bani Umayyah yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau adalah perempuan penjual susu yang tinggi ketaqwaannya, ketika diminta oleh ibunya mencampur susu dengan air maka jawaban gadis penjual susu “sekalipun Amrul Mukminin tidak melihat kita mencampur susu tetapi Rabb nya Amirul Mukminin pasti mengetahuinya”.

 

Ketaqwaan gadis inilah yang membuat Umar bin Khattab menikahkan dengan Ashim pueranya, maka lahirlah dari pasangan ini seorang anak perempuan yang kelak menjadi ibu dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Anak tersebut bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab ra, atau yang dikenal dengan nama ummu ‘Ashim. Dari ibu hebat inilah lahir pemimpin hebat Khalifah Umar bin Abdul aziz yang sudah termashur kezuhudannya, ketaqwaannya dan keadilan dalam memimpin sehingga mencapai masa gemilang.

 

Kedua, seorang ibu arsitek peradaban harus punya visi jauh ke depan, karena menyadari anak sebagai aset generasi mendatang. Visi yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan. Jangkauannya tidak hanya dunia namun untuk akherat.Maka dengan tantangan zaman, ia senantiasa berprasangkabaik kepada Allah dalam mendidik anak. Karena ia seorang ibu, yang punya cita-cita besar.

 

Seperti ibunda Muhammad Al Fatih yang meyakinkan putranya kelak sebagai penakluk Konstantinopel, Setiap hari ibunda Muhammad al Fatih membacakan hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam. Ketika Muhammad Al Fatih kecil bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai Ibu?” “Dengan Al Quran, kekuatan persenjataan dan mencintai manusia,” jawab sang ibu.

 

Kisah lain,ibunda dari ulama Sufyan ats-Tsauri dengan pesannya yang dahsyat “Wahai puteraku, tuntutlah ilmu dan aku siap membiayai dari pintalanku, wahai puteraku jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat, maka perhatikan, apakah engkau bertambah takut, sabar, dan sopan ? jika engkau tidak demikian maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu”

 

Ketiga, menguasai ilmu mendidik anak dan kerumahtanggaan, memahami arah dan tujuan memdidik anak serta mengetahui teknis praktis dalam mendidik anak seperti komunikasi efektif kepada anak dan pasangan, memahami fase perkembangan usia anak, manajemen waktu dan manajemen kerumatanggaan.

 

Keempat, menjadi ibu yang peduli umat. Karena seorang ibu arsitek peradaban paham betul bahwa mendidik tidak hanya untuk keluarganya saja namun mendidik masyarakat. Ia menyadari bahwa ia juga bagian dari masyarakat. Ia sadar bahwa lingkungan juga berpengaruh terhadap pendidikan anak-anaknya, maka ia pun peduli untuk menjadikan lingkungan di sekitarnya menjadi lingkungan yang baik. Apalagi peran ini adalah bagian dari dakwah yang merupakan kewajiban dari Allah Subhanahu Wataala.

 

Amar maruf nahi munkar menjadi bagian dari kewajibannya, nasehat menasehati dalam kebaikan menjadi kesehariannya. Ibu yang peduli terhadap masa depan generasi, maka ia pun berkiprah sesuai dengan keahliannya dalam membangun peradaban.

 

Menjadi Ibu arsitek peradaban adalah cita-cita yang mulia. Semoga arsitek inilah yang akan melahirkan generasi peradaban mulia, generasi khoiru ummah. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah….. (QS Ali Imran:110). (hidayatullah.com)

 

Oleh: Ari Susanti (Penulis founder @taklim4kids Tulungagung, aktif di Komunitas Ibu Hebat Tulungagung)

Versi cetak


Berita Terkait


« Nov 2018 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1
2 3 4 5 6 7 8


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 




Visitors :444428 Visitor
Hits :619864 hits
Month :3297 Users
Today : 550 Users
Online : 20 Users


https://www.facebook.com/luqmanalhakimsby/

Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi