Menguak Tabir Potensi Anak Usia Sekolah Dasar (1)

Posted on: 2 March 2018

 

Anak merupakan putra-putri sang hidup yang rindu pada diri-sendiri, yang jiwanya adalah penghuni rumah masa depan, yang kehidupannya akan terus berlangsung tiada henti sampai segala sesuatunya berakhir (Khalil Gibran dalam Kartini, Kartono, 1990)

 

Anak dilahirkan dengan potensi dan keunikannya masing-masing. Mereka terlahir sebagai anak yang unik. Setiap anak berbeda dengan lainnya, bahkan anak kembarpun memiliki potensi dan kelemahan yang berbeda.

 

Sebagai orang tua anak adalah segalanya, merekalah generasi penerus orang tua, anak bagaikan harta berlian yang tak terhingga nilainya. Dari pandangan tersebut, sebagian umum orang tua akhirnya berambisi untuk menjadikan anak mereka harus seperti orang tuanya atau bahkan lebih dari orang tuanya.

 

Karena ambisi orang tuanya maka tidak sedikit orang tua yang memperlakukan anak sesuai dengan keinginannya dan sangat sedikit sekali orang tua yang dapat memahami potensi yang dimiliki si anak. Padahal anak bukanlah diri orang tuanya tetapi anak adalah jiwa penghuni rumah masa depan yang memiliki kehidupan sendiri.

 

Sehingga tidak jarang orang tua menginginkan anaknya menjadi pandai di sekolahnya, menjadi juara kelas, nilai-nilai akademiknya selalu sempurna karena hingga saat ini para orang tua masih berpandangan bahwa tolok ukur keberhasilan adalah jika nilai akademik anaknya mendapatkan sempurna dan menjadi juara di kelasnya. Disamping itu masih adanya anggapan orang tua bahwa kesuksesan anak tergantung dari nilai akademiknya, jika nilai akademiknya sangat bagus seakan sudah dijamin bahwa anak tersebut akan sukses.

 

Pandangan orang tua tentang kesuksesan anak seperti tersebut di atas itu yang harus diluruskan sehingga para orang tua akan semakin memahami potensi pada anak dan dapat memberikan support untuk mengembangkan potensinya. Faktor yang paling dominan mempengerauhi keberhasilan (Kesuksesan) individu dalam hidupnya bukan semata-mata ditentukan oleh tingginya kecenderungan intelektual, tetapi oleh faktor kematangan emosional (Daniel Goleman dalam Syamsul Yusuf, 2005).

 

Dari pendapat pakar psikologi di atas tergambar dengan jelas bahwa intelektual yang tinggi bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan atau kesuksesan anak, namun mengembangkan kematangan emosionalnya yang lebih urgen karena salah satu faktor itulah yang akan membawanya untuk mencapai kesuksesan dan yang paling utama adalah faktor spiritualnya.

 

Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia hidup. Tanpa masyarakat, kepribadian seseorang tidak akan berkembang. Anak belajar dan diajar oleh lingkungannya, mengenai bagaimana ia harus bertingkah laku yang baik atau yang tidak baik. Lingkunagn itu dapat berarti orang tua, saudara, teman, atau gurunya. Karena orang yang paling bergantung seorang anak adalah orang tuanya maka peranan orang tua sangat menentukan perkembangan moral anak tersebut (Sally S. Adiwardhana dalam Singgih Gunarsa, 2008).

 

Dari pendapat di atas sangat jelas bahwa lingkungan baik keluarga maupun masyarakat memiliki pengaruh yang dominan terhadap perkembangan spiritual dan emosional anak. Orang tua berperan penting dalam perkembangan anak untuk meraih keberhasilan.

 

Beberapa sikap orang tua yang perlu mendapat perhatian, guna perkembangan moral anak adalah :

  1. Konsistensi dalam mendidik dan mengajar anak-anak.
  2. Sikap orang tua dalam keluarga.
  3. Penghayatan orang tua akan agama yang dianutnya.
  4. Sikap konsekuen dari orang tua dalam mendisiplinkan anaknya.

Untuk dapat membangun karakter anak agar potensinya dapat dikembangkan maka orang tua sudah harus membangun kebiasaan-kebiasaan positif sejak dini.

 

Dalam Psikologi Perkembangan bahwa pada masa anak usia sekolah dasar adalah masa kritis dalam dorongan berprestasi, artinya pada masa ini anak membentuk kebiasaan untuk mencapai sukses atau tidaknya, bekerja di atas rata-rata atau sebaliknya. Tingkat perilaku berprestasi ini mempunyai korelasi yang sangat tinggi dengan berperilaku pada masa dewasa (Hurlock, 1994).

 

Dari pendapat di atas artinya bahwa pada masa usia sekolah dasar adalah masa untuk membentuk karakter berprestasi dan suskes karena karakter tersebut akan mempunyai korelasi yang sangat tinggi pada waktu dewasa kelak. Dari sinilah bahwa masa usia sekolah dasar adalah masa paling emas untuk membentuk perilaku anak. (Bersambung)

 

Oleh: Ust. Heri Murtomo, S.Pd (Koordinator Akademik SD Luqman Al Hakim Surabaya)

Versi cetak


Berita Terkait


« Oct 2018 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
30 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 




Visitors :398554 Visitor
Hits :564815 hits
Month :3160 Users
Today : 597 Users
Online : 9 Users


https://www.facebook.com/luqmanalhakimsby/

Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi