My Little Mujahidah (Best Two - Gebyar Literasi)

Posted on: 9 October 2017

 


“Ustadzah Laily!”, terdengar sapaan ceria di sore hari sepulang sekolah. Kucari asal suara itu, aaah…..thats my girl! Kulihat ia bergegas menghampiri dan segera kubentangkan kedua lenganku. Ia pun memelukku hangat. Anakku sayang, sudah lama aku tak melihatmu. Kutatap wajahnya yang sedikit pucat. Segera kuperiksa telapak tangannya, kenapa pucat begini warnanya? “Wah, anak sholihah kok belum pulang ?”, tanyaku. “Iya Us, aku belum dijemput”, jawabnya ceria. “Kenapa telapak tanganmu memucat begini, Nak ?”. “Lho, ini sudah agak merah, Us. Beberapa hari yang lalu malah lebih pucat lagi warnanya.” Ya Allah, miris hatiku mendengarnya. Kupeluk ia erat, tak terasa mataku pun berkaca-kaca.

 

Kuputar kembali ingatanku setahun lalu, ketika aku pertama kali mengenalnya. Pagi itu aku bersemangat sekali berangkat mengajar. Setelah sepuluh hari lamanya harus berkutat dengan pelatihan yang melelahkan dan tak berjumpa dengan murid-muridku, akhirnya aku bisa segera memulai aktivitasku seperti biasa. Ketika aku sampai di depan pintu kelas 2A, seorang gadis kecil bermata bulat jernih menyapaku. “Ustadzah ini guru baru , ya ? Kok aku baru lihat ?”, tanyanya. Aku tak segera menjawabnya, mungkin ia belum mengenalku karena pelatihanku dimulai saat awal tahun ajaran baru. “Nggak kok, Nak. Ustadzah sudah lama mengajar di sini.” , jawabku. “Ayo, temani Ustadzah masuk ke kelas !”, ajakku. Kami pun masuk ke kelas bersama.

 

Akhirnya aku tahu siapa namanya, gadis kecil yang tadi menyapaku. Ayska Hania Cahya, sebuah nama yang cantik dan sarat makna. Gadis kecil yang selalu ceria, dengan mata jernih dan senyum tulusnya. Selama mengajarnya, tak pernah kulihat ia bermasalah dengan teman-temannya. Ia adalah pribadi yang ramah, menyenangkan, dan senang berbagi dengan teman-temannya. Tak jarang ia membawa bekal berlebih dari rumah untuk ia makan bersama teman-temannya. Tak ayal, ia pun memiliki banyak teman.

 

Tapi siapa sangka, di balik keceriaannya tersembunyi suatu ujian yang ia terima dengan ikhlas. Ya, gadis kecilku menderita penyakit Thalasemia. Pada banyak orang, penyakit ini adalah momok karena secara medis sampai saat ini belum juga ditemukan obatnya. Thalasemia adalah penyakit genetik yang menyebabkan kelainan sel darah merah. Akibatnya, anak selalu kekurangan darah (anemia) yang ditandai rendahnya kadar Hemoglobin. Pada Thalasemia yang berat, anak harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya.

 

Tak dapat kubayangkan perasaan seorang ibu yang notabene seorang dokter spesialis anak ketika mengetahui putri kecilnya yang baru berusia 3 bulan divonis oleh dokter menderita Thalasemia. Bagaimana beliau harus selalu tersenyum dan memotivasi sang buah hati sementara hati kecilnya sendiri menangis. Betapa beliau harus kuat dan menguatkan si kecil. Salut pada beliau yang telah membesarkan putri kecilnya menjadi seorang pribadi yang ceria dan berjiwa besar.

 

Pernah suatu kali aku bertanya pada Ayska, “Sakit nggak waktu ditransfusi ?” “Nggak, Us. Aku udah biasa kok ditusuk jarum transfusi.” , jawabnya. Wah, aku hanya ternganga dibuatnya. Aku yang sudah seusia ini masih seringkali maju mundur untuk periksa darah ke laboratorium saat sakit. “Alhamdulillah, aku nginapnya di kamar VVIP. Sejak kecil aku sering nginap di rumah sakit setelah transfusi.”, lanjutnya. Subhanallah, bahkan sang bunda pun telah mengkondisikan Ayska untuk dapat menikmati alur takdirnya, tetap bersyukur dengan kondisinya.

 

Frekuensi transfusi darahnya pun semakin bertambah. Ketika ia duduk di kelas 2, frekuensi transfusinya dijadwalkan tiga bulan sekali. Ketika telapak tangannya semakin memucat, badannya lemas, dan sering mengantuk tandanya ia harus segera transfusi darah. Dan setelah transfusi biasanya diikuti oleh masa pemulihan sehingga ia seringkali tidak masuk sekolah. Akibatnya materi pelajaran dan penilaian Ayska pun tertinggal dibandingkan teman-temannya. Hebatnya, ia tetap ceria dan mau mengerjakan tugas-tugasnya yang tertinggal. Tak kudengar keluh kesahnya. Ia hanya tersenyum.

 

Di akhir kelas 2, jarak antar waktu transfusinya kian pendek. Sekarang tiap bulan ia harus transfusi darah bahkan setelah transfusi pun masih ada obat yang harus disuntikkan dalam tubuh mungilnya. Yang kuingat, Aska senang sekali mendengar ceritaku tentang para mujahidah di zaman Rasulullah Saw. Cerita-cerita tentang para syahidah dan sepak terjang perjuangan mereka dalam menegakkan Dinullah. “Aku ingin seperti Nusaibah binti Ka’ab dan Khansa, Us. Bisa nggak Us, aku seperti mereka?”, tanyanya suatu hari. “Tentu saja, inshaallah bisa. Bukankah sekarang Ayska juga sedang berjihad melawan penyakit dalam tubuhmu ? Inshaallah ketika kita bertawwakal Ilallah dan tetap berikhtiar serta berdoa maka Allah akan mengabulkan permintaan kita.”. “Suatu hari nanti, ketika Allah berkehendak inshaallah akan ada obat untuk penyakitmu. Bahkan bisa jadi, nanti Ayska sendiri yang akan menemukan obatnya dan dapat bermanfaat bagi orang lain yang memiliki penyakit sama sepertimu.” ,jelasku. “Aamiin, semoga ya Us.”, jawabnya.

 

Hari-hari berlalu, seiring waktu Ayska pun naik ke kelas 3. Semakin jarang aku melihatnya. Kalaupun sempat, ia akan menengok ke kelasku yang baru. Seperti hari ini ketika kami bertemu, tak segan-segan ia memelukku dan hal ini membuatku terenyuh. Masih kupeluk erat ia, kuusap lembut kepalanya. Teruntai doa tak terucap untuknya semoga Allah selalu meridhai setiap hembusan nafasnya, memberikan kesabaran atas penyakitnya, dan Allah akan memberikan kesembuhan padanya.

 

Ya Allah, walaupun Ayska tak terlahir dari rahimku, betapa aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Banyak cerita suka duka yang aku alami. Banyak ibrah yang telah kudapatkan. Betapa Allah telah mengajariku tentang keikhlasan. Betapa Allah telah merangkulku dengan perantara tangan-tangan mungilnya. Betapa malunya aku atas segala keluh kesahku yang tak seujung kuku pun dibandingkan dengannya.

 

Wahai mujahidah kecilku, teruslah bermujahadah dan istiqomah. Janganlah kau berputus asa atas rahmatNya. Yakinlah bahwa Allah tidak akan memberi kita ujian di luar batas kemampuan kita. Tetaplah menjadi anak yang ceria, tumbuh kembanglah menjadi pribadi yang sholihah. Ayah Bunda, bersyukur dan bersabarlah. Sesungguhnya aku iri pada kalian. Karena kalian adalah orang-orang terpilih yang mendapatkan amanah dariNya dengan kehadiran Ayska. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan barokah pada kalian semua.

 

“Bahagia itu tak perlu dicari, bahagia itu ada di sekitar kita. Ketika kita tawwakal atas taqdirNya, bersyukur karenanya, dan berusaha menjalani dengan sebaik-baiknya niscaya kita akan bahagia”. (integral.sch.id)

 

Oleh : Laily Rakhmadani Priyana, S.Si (Aktifis dan Pengajar SD Luqman Al Hakim Surabaya)

 

Versi cetak


Berita Terkait


« Dec 2017 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 




Visitors :115343 Visitor
Hits :218144 hits
Month :1372 Users
Today : 331 Users
Online : 5 Users


https://www.facebook.com/luqmanalhakimsby/

Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi