Sabar Yang Tak Terbatas (Best One - Gebyar Literasi)

Posted on: 6 October 2017

 

 

"Innallaha Maashobirin”. (Sesungguhnya Allah Swt bersama orang-orang yang sabar. QS. At Taubah: 40)

 

Menginjak tahun ke-11 pengabdianku di sekolah ini, rasanya mustahil bila tidak banyak ragam cerita yang tercipta. Terutama dengan siswa-siswi kecilku di sini. Mengapa disebut siswa kecil? Yups, karena aku mengajar di sebuah sekolah dasar. Siswanya tentu saja masih anak-anak semua. Yaitu di SD Luqman Al Hakim Surabaya.

 

Banyak hal yang aku pelajari di sini, terutama karakter siswa-siswaku. Inilah perjuangan hidup yang sesungguhnya. Perjuangan manusia-manusia kecil menuntut ilmu demi mendapat ridho Illahi. Perjuangan menuntut ilmu demi kemaslahatan umat. Ber-amar makruf nahi munkar, meneruskan risalah perjuangan Rasulullah Muhammad Saw menegakkan syariat Islam di muka bumi ini.

 

Alhamdulillah... Satu perjalanan cerita hidup, telah Allah berikan kepadaku. Sebagai seorang guru yang notabene-nya adalah sosok manusia yang bisa digugu dan ditiru. Satu predikat “pendidik” yang tidak sekedar mendidik tapi juga mengajarkan dan mencontohkan apapun hal kebaikan kepada anak didiknya. Pepatah mengatakan “guru kencing berdiri murid kencing berlari” bisa dibilang benar adanya. Pada kenyataanya murid hampir pasti mencontoh apapun yang dilihatnya dari seorang guru.

 

Abrar Sang Pencerah.
Pernah suatu ketika ku jumpai satu muridku, Abrar yang makan sambil menggambar. Dia lebih sibuk menggambar ketimbang memakan menu makan siangnya. Ketika aku memintanya mendahulukan makan siangnya, dia menjawab:

 

“Lha, ustadzah juga sama. Makan sambil mainan HP”, jawabnya membela diri.
“Itukan bukan mainan, tapi melihat Informasi”, jawabku.
“Sama ajaaaa... ust, Ustadzah juga nasinya dibiarkan gak di makan-makan sampe lama. Asyik liatin HP”, pungkasnya.
“Astaghfirullah”, batinku tersadar.

 

Itulah salah satu contoh kecil yang sering tidak ku sadari telah ditiru oleh salah satu muridku. Semenjak teguran itulah, aku berusaha bersabar tidak melihat HP dan fokus dengan makanku sampai selesai.

 

Kelasku Yang Hebat
Pernah pula aku mengajar di kelas 5. Siswanya anak laki-laki semua. Satu waktu, ketika pelajaran sedang berlangsung, terjadi keributan antara dua orang siswa yang berselisih pendapat. Sekilas aku mengira mereka sedang bergurau, tapi setelah kuamati lagi ternyata mereka sama-sama menggunakan kekuatan otot dalam bertindak.

 

Terjadilah perkelahian. Saling sikut, saling tonjok, dan saling hantam. Dengan raut wajah memerah dan nafas yang memburu. Sejurus kemudian tanpa komando, teman-teman sekelas melerai mereka sekuat tenaga. Saling memisahkan tanpa berpihak. Ada pula yang mengajak salah satunya berwudhu. And this point, aku mendapat pelajaran arti pentingnya kesabaran.

 

Sungguh seandainya saat itu aku yang melerai, tak menjamin bakal menyelesaikan perselisihan. Walaupun seorang mantan pesilat, tidak cukup memisahkan mereka dengan teriakan dan kegalakkan suaraku (cempreng cenderung melengking sih hehehe...). Bisa-bisa justru akulah yang jatuh tersungkur, terhempas oleh kekuatan mereka.

 

Saat itulah aku belajar arti kesabaran dari mereka. Mengamati apa yang terjadi, baru kemudian memutuskan untuk bertindak. Subhanallah... anak-anak yang luar biasa. Karena rasa sayang temanlah, mereka melerai perselisihan dan mau merepotkan diri menjadikan keduanya akur kembali. Alhamdulillah.

 

Mas Arga Yang Luar Biasa
Pernah pula dulu ketika ujian sekolah, aku mendapat tugas menjaga 1 siswa saja. Dalam hati aku bertanya, se-spesial apakah dia sampai harus dijaga 1 guru selama ujian berlangsung? Ah paling siswa bandel bin ndablek iki, batinku. Mungkin pula siswa berpredikat Lola (Low amat alias pemahamannya super luamaaa). Kembali batinku menerka-nerka. Maklumlah aku belum pernah mengenal siswa ini sebelumnya.

 

Ketika bel berbunyi tanda ujian akan dimulai, siswa ini sudah siap menyambutku di perpustakaan. Tidak sulit menemukannya karena di ruangan itu hanya ada dia sebagai siswa. Yang lainnya hanya guru-guru yang sibuk membaca dan bercengkrama.

 

Ketika mengucapkan salam dan perkenalan, siswa ini menjawab dengan pandangan mata yang tidak fokus ke arahku. Pandangannya kosong entah ke arah mana. Sedetik, lima detik berlalu, hal jelek terlintas dalam pikiranku. Apalagi aku diwanti-wanti agar membacakan semua soal. “Waduh, bakalan lama nih. Bakalan gak selesai-selesai dampingin dah”, hati kecilku menggerutu. “Oww, mungkin karena aku orang sabar makannya disuruh dampingi. O my God!”, batinku membanggakan diriku :D.

 

Sekian lama waktu bersamanya berlalu, kesombonganku sebagai orang sabar berubah menjadi rasa malu yang memalukan. Karena apa? predikat sabar luar biasa lebih pantas disematkan ada pada anak ini. Bagaimana tidak, hatiku seperti dibogem dengan palu Gadha dari segala penjuru setelah tahu perjuangannya. Anak cerdas ini menyadarkan kesombonganku. Kerendahan hatinya, tutur katanya, sikapnya.... Subhanallah.

 

Dialah Mas Arga. Siswa yang didiagnosa terkena tumor otak di belakang kedua bola matanya. Sepanjang mendampinginya hanya haru sekaligus bangga kurasa. Ingin menangis, tapi kutahan sekuatnya. Pelajaran sabar kudapatkan lagi dari siswa ini. Sungguh begitu menyentuh hati. Apalagi ketika wisuda kelulusan, Mas Arga mendapat gelar siswa tekun beribadah dan berakhlaq mulia. Bangga sekali ustadzah nak! Aku sangat bahagia pernah menjadi bagian hidupmu. Mengenalmu dan mendampingimu di sekolah walau hanya sebentar.

 

Dhea Kecil Yang Istimewa
Dulu saat masih mengajar di kelas 2, ananda Dhea mengajarkanku kesabaran dalam menerima takdir. Kebocoran jantung yang dideritanya sejak lahir menjadikan ia anak yang sabar menjalani hidup. Dia tidak pernah diperbolehkan berolahraga karena tidak boleh kelelahan. Dia memanfaatkan waktunya untuk banyak menghafal Quran dan tidak pernah mengeluh akan sakit yang dideritanya. Subhanallah.

 

Aldhyto Sang Maestro
Prestasi gemilang yang membanggakan sekolah sering didapatkan oleh Mas Aldhyto. Kesabarannya lagi-lagi ditunjukkan di depan mataku. Ia mampu menampar keras sikap malasku. Bahwa apapun yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan membuahkan hasil yang cemerlang, Insya Allah. Man jadda wajada, betul adanya. Satu hal lagi, ia mengajarkan bahwa berbuat baik janganlah ditunda-tunda. Lakukan segera, istiqomahi, dan iringi dengan doa.

 

Anak-anakku... Kalianlah manusia-manusia penuh kesabaran. Mengajari tanpa mengguruiku. Sikap nyata yang kalian tunjukkan, menjadi guru terbaik bagiku. Agar aku lebih memahami Ilmu Allah tentang kesabaran yang tak berbatas. Dari tangan-tangan kalian, Allah Swt menitipkan ilmu ini untuk kupelajari.

 

Anak-anakku... Kalianlah inspirasiku. Memecutku bersegera merubah pola pikir, pola manajemen hati tentang sabar. Terima kasih yaa Allah. Engkau telah kirimkan anak-anak yang luar biasa, yang membuka cakrawala pikiranku. Teruslah seperti itu anak-anakku.... kami bangga padamu.

 

“Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa pedihnya rasa sakit”. (Imam Ali bin Abi Thalib, Karamallahu wajhah).

 

Oleh: Ustadzah Etika Amatusholihah, S,Pd. (Aktifis dan Pengajar SD Luqman Al Hakim Surabaya)

Versi cetak


Berita Terkait


« Nov 2017 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 




Visitors :100692 Visitor
Hits :196312 hits
Month :1276 Users
Today : 325 Users
Online : 2 Users


https://www.facebook.com/luqmanalhakimsby/

Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi