Gurulah Pelita, Jasamu Tiada Tara

Posted on: 4 October 2017

 

“Begitu mulia tugas seorang guru, harusnya kita berterima kasih kepada guru karena gurulah yang mendidik kita, mengajarkan tata krama, etika, kesopanan, membimbing kita menjadi manusia yang bermental tangguh dan berakhlak mulia, mengajarkan kita baca – tulis, mengajarkan kita banyak hal. Tapi sudahkah kita seperti itu? Kita kembalikan pada diri kita masing-masing karena kenyataan hingga saat ini justru sebaliknya”.

 

Semua memahami bahwa masa depan bangsa tergantung pada generasinya saat ini. Generasi memegang peranan penting dalam pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Jika generasi saat ini memiliki karakter yang tidak baik maka masa depan bangsa akan berakhir, namun jika terjadi sebaliknya maka masa depan bangsa akan jaya, akan menjadi negara yang kuat, maju, dan berpengaruh di kancah internasional. Untuk menghasilkan generasi yang memiliki kualitas karakter yang baik sangat erat hubungannya dengan kualitas pendidikan, memang masih banyak faktor lain yang mempengaruhi namun pendidikan dianggap pintu paling mudah untuk membangun karakter generasi.

 

Sehingga terbangun pendapat bahwa kualitas generasi sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Negara makmur belum tentu mampu menyelenggarakan pendidikan berkualitas, tetapi pendidikan berkualitas menjamin negara makmur. Soedarsono mengatakan: “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building). Karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Kalau character building tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”.

 

Dari pendapat ini sudah sangat jelas bahwa pendidikan karakter merupakan persoalan inti dari proses pendidikan. Jika bangsa ini ingin menjadi bangsa yang besar, berpengaruh, dan maju maka kualitas pendidikannya harus didahulukan, dan kualitas pendidikan terletak pada kualitas pendidikan karakternya.

 

Pada umumnya sebagian besar masyarakat berpandangan bahwa proses pendidikan adalah bergantung pendidiknya atau gurunya. Berhasil tidaknya sebuah proses pendidikan untuk membangun generasi yang berkarakter terletak pada gurunya. Jika proses pendidikan tidak mampu membangun generasi yang berkarakter maka pendidiknya adalah orang yang paling betanggung jawab. Dari sinilah akhirnya muncul pendapat masyarakat bahwa gurulah yang harus membangun generasi berkarakter. Guru sebagai pembangun generasi bangsa begitulah mungkin kata yang tepat untuk itu.

 

Mengingat kepercayaan dan pandangan masyarakat begitu besar kepada guru, dimana dibebankannya tanggung jawab untuk membangun generasi bangsa yaitu generasi yang akan menjadi harapan nengeri ini, maka sungguh mulia menjadi seorang guru walaupun harus menanggung beban begitu besar.

 

Apakah mulianya seorang guru betul-betul dapat dirasakan oleh guru saat ini, baik itu secara psikis maupun materiil? padahal beban besar dari masyarakat dan orang tua ada di pundaknya.

 

Tugas seorang guru sangatlah berat bukan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, tapi harus dapat memberikan keteladanan untuk membangun karakter anak didiknya, juga sebagai orang tua dari anak didiknya di sekolah dan seorang guru harus memahami karakteristik setiap anak didiknya. Bahkan seorang guru lebih tahu banyak hal tentang anak didiknya daripada orang tua si anak, kedekatan seorang guru kepada anak didiknya melebihi kedekatan anak kepada orang tuanya, ucapan guru lebih diturut anak daripada ucapan orang tuanya. Dari hal itu sudah sangat jelas bahwa menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan biasa namun sebuah profesi yang harus dijalani dengan hati.

 

Menurut M. Syafii Antonio, di dalam Islam mendidik bukanlah sekedar mentransfer ilmu pengetahuan dan informasi, tetapi lebih dari itu, mendidik adalah proses transformasi nilai dan kearifan kepada setiap peserta didik. Transfer nilai membutuhkan keterlibatan seluruh aspek yang ada pada diri peserta didik, disamping melibatkan pengalaman seluurh anggota komunitas, mulia dari sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

 

Dari sinilah kita dapat memahami bahwa setiap perilaku guru baik di sekolah maupun di luar sekolah menjadi panutan anak didik dan masyarakat. Pada waktu guru menyampaikan ilmu kepada anak didiknya guru harus tampil energik, semangat, ceria, dan guru tidak boleh nampak malas, kuang bersemangat atau sedih, tidak boleh merasa capek karena jika hal itu terjadi maka anak didiknya akan ikut larut dalam suasana hati guru yang sedang duka.

 

Dalam proses transfer ilmu maka hal tersebut sangatlah tidak bagus karena akan berpengaruh terhadap ilmu yang diterima oleh anak didiknya. Begitu juga saat bertutur kata seorang guru tidak boleh mengeluarkan kata-kata kasar, jorok, kurang sopan, namun guru harus betutur kata yang sopan dan memahami anak didiknya. Dalam berperilakupun begitu seorang guru memiliki etika tertentu dimana seorang guru tidak dapat sembarangan berperilaku dan berpenampilan. Seorang guru harus dapat memberikan keteladanan perilaku yang baik, berpakaian yang sopan baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Pada dasarnya menjadi seorang guru bagaikan figur publik karena menjadi panutan anak didik dan masyarakat.

 

Di satu sisi lainnya menjadi seorang guru bukanlah profesi pilihan bagi sebagian besar anak negeri ini, karena secara materi hingga saat ini kehidupan sosial ekonomi guru masih banyak yang di bawah garis kelayakan kalau boleh dikatakan seperti itu. Masih banyak ditemukan guru yang secara materi gaji yang diterima tiap bulannya belum mampu menutupi biaya hidup pokoknya. Sehingga selepas pulang sekolah banyak ditemukan guru yang harus mencari penghasilan tambahan dan hal ini dilakukannya hingga larut malam. Besok pagi saat sang guru belajar bersama anak didiknya harus tetap terlihat semangat, ceria dan tanpa beban apapun termasuk beban hidup ekonominya. Inilah profesi seorang guru yaitu profesi karena panggilan hati, bagaimanakah negeri ini jadinya jika kelak generasinya tidak terpanggil untuk menjadi guru?

 

Inilah gambaran sekelumit sosok seorang guru, mereka harus menjalankan amanahnya sepenuh hati, mereka memberikan ilmu kepada generasi bangsa ini tanpa pamrih, bahkan merekapun merasa bahwa anak didiknya adalah anak-anak mereka sendiri. Memang tidak dapat dipungkiri masih ada guru yang berperilaku melanggar norma agama dan norma negara, tidak mengindahkan etika seorang guru. Jika ditemukan guru yang seperti itu yakinlah bahwa mereka bekerja bukan dengan hati namun karena terpaksa dan demi penghasilan semata, guru dengan tipikal ini sangatlah sedikit dari sekian juta guru yang berpofesi dengan hati.

 

Begitu mulia tugas seorang guru, harusnya kita berterima kasih kepada guru karena gurulah yang mendidik kita, mengajarkan tata krama, etika, kesopanan, membimbing kita menjadi manusia yang bermental tangguh dan berakhlak mulia, mengajarkan kita baca – tulis, mengajarkan kita banyak hal. Tapi sudahkah kita seperti itu? Kita kembalikan pada diri kita masing-masing karena kenyataan hingga saat ini justru sebaliknya.

 

Di media massa atau berita lainnya dewasa ini banyak kita temukan orang tua yang menuntut guru anaknya ke pengadilan karena dianggap telah berbuat kasar kepada anaknya, padahal orang tua itu dulu adalah murid dari guru yang dituntut tersebut. Banyak orang tua yang mengajukan tuntutan hukum kepada guru karena merasa guru telah berbuat kasar kepada anaknya, tetapi tidak banyak oang tua yang dituntut oleh guru bahwa banyak anak mereka yang telah berbuat kasar kepada gurunya.

 

Para orang tua sekarang merasa bahwa mereka sudah memiliki materi sehingga bisa berbuat sesuai kehendak hati dan menganggap guru adalah orang yang lemah secara materi. Banyak orang tua yang lupa bahwa guru tersebutlah yang membentuk karakter anaknya, mengajari disiplin, sopan-santun, bahkan ingin menjadikan anak didiknya menjadi anak yang sukses dan sholih-sholihah. Tidak ada seorang guru yang mengingkan anak didiknya menjadi penjahat, membiarkan anak didiknya berperilaku tidak baik karena guru adalah panggilan hati.

 

Melihat fenomena seperti ini, masihkah kita memandang sebelah mata kepada guru? Mampukah diri kita menjadi guru? Mampukah diri kita mendidik anak seperti guru? Jika kita merasa tidak mampu maka hanya satu yang dapat kita lakukan yaitu menghormati dan menghargai seorang guru, namun jika kita sudah melakukannya seperti yang dilakukan guru saya yakin kita akan semakin bisa menghormati dan menghargai seorang guru. Bagaimanakah pandangan saudara?

 

Guru.... Selamat berjuang untuk generasi negeri ini... Di pundakmulah kemajuan bangsa ini... Jasamu tiada tara.

 

Oleh : Ustadz Heri Murtomo, S.Pd (Pengajar SD Luqman Al Hakim Surabaya)

Versi cetak


Berita Terkait


« Dec 2017 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 




Visitors :115341 Visitor
Hits :218126 hits
Month :1372 Users
Today : 334 Users
Online : 4 Users


https://www.facebook.com/luqmanalhakimsby/

Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi