Spirit Takbiratul Ihram

Posted on: 27 October 2021

Di dalam diri manusia ada potensi untuk menjadi Fir’aun, tetapi ada juga potensi menjadi Musa. Itulah mungkin salah satu hikmah, mengapa dalam setiap shalat dimulai dengan takbiratul ihram. Sebelum bertakbir, hati, jiwa dan pikiran benar-benar dikondisikan berada pada zona zero.



Bahwa diri ini adalah seorang hamba yang lemah dan hina yang ingin menghadap-Mu, memohon pertolongan agar tetap menjadi Musa yang selalu tunduk pada ketetapan-Mu, selalu berada di jalan yang lurus. Dengan sikap ini, maka shalat akan lebih bertenaga.


Filosofi takbir itulah yang kemudian mewarnai seluruh gerak ibadah dan muamalah. Setiap memulai suatu pekerjaan, hendaknya melakukan ‘takbiratul ihram’. Ketika akan mengajar, seorang guru melangkah ke dalam kelas dengan sikap zero atau minus dan hanya berharap pertolongan Allah agar dimudahkan dalam mengajar.


Baca juga: Seni Peradaban Islam


Demikian juga aktivitas lain termasuk misalnya ketika memancing, saat melempar kail didahului dengan ‘takbiratul ihram’. Sebab, Allah yang bisa menggerakkan ikan-ikan di lautan untuk bisa melahap umpan, bukan faktor alat pancing yang mahal atau spot yang bagus, itu hanyalah bentuk ikhtiar, yang menentukan berapa banyak ikan yang didapat adalah Allah Ta’ala.


Manusia kerap kali terkecoh oleh perasaan bahwa ia memiliki kemampuan dan keahlian sehingga itu yang mendominasi pikiran dan sikapnya. Dan ternyata seorang yang paling ahli pun sering gagal dalam sebuah proyek yang dikerjakannya. Ada demikian banyak bentuk kesombongan yang berakhir dengan kehinaan.


Untuk menumbuhkan sikap ‘takbiratul ihram’ perlu riyadah atau latihan yang istimrar (berkelanjutan) sampai ia menjadi sikap mental. Saat masih nyantri, penulis punya pengalaman bagaimana riyadah itu dilakukan, saat masih aktif bermain bola dan mengikuti kompetisi, setiap kali usai mencetak gol segera mengucapkan hamdalah lalu beristighfar, memohon ampun atas kebanggaan yang berpotensi menjadi kesombongan di dalam hati.


Baca juga: Mengharap Rahmat Allah


Inilah yang dikatakan oleh seorang ulama bahwa semakin besar Sang Khalik dirasakan maka semakin kecil selain-Nya di dalam diri (A’dham al-Khaliq fi anfusihim fa shagara ma dunahu fi a’yunihim). Spirit takbiratul ihram penting untuk dialirkan dalam setiap denyut aktivitas ibadah dan muamalah.


Tujuannya untuk membatalkan atau mengharamkan segala potensi yang dapat menciderai tauhid atau pengakuan atas kebesaran Allah Ta’ala. Setiap menjalani aktivitas, ia khusyuk menjadikan Allah Ta’ala sebagai kiblat hati dan pikirannya. Dengan demikian ia tetap melangkah di muka bumi sebagai ‘musa’ bukan sebagai ‘fir’aun’ dengan segala kesombongannya. Wallahu a’lam bisshawab.


Oleh: Mujahid M. Salbu - Sekretaris DPW Hidayatullah Kepulauan Riau.

Versi cetak


Berita Terkait


Visitors :5209306 Visitor
Hits :6678206 hits
Month :2816 Users
Today : 137 Users
Online : 4 Users






Sekolah Tahfidz


Sekolah Para Juara






Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Soraya Pambudi

    anggada121212@gmail.com

    Surabaya Timur Pakuwon

    Pada 23-Aug-2019


    Assalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh. Mohon informasi pendaftaran sekolah untuk tahun ajaran 2020/2021. Mohon maaf apakah sekolah ini mempunyai program kelas internasional? Maksudnya apakah menerima siswa berwarganegaraan Asing?

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi