Bercermin Kepada Madrasah Ramadhan

Posted on: 28 April 2021

Di era pandemi ini, atas izin dan pertolongan Allah SWT kita semua bergembira akan dihampiri tamu agung bulan Ramadhan. Kita sudah memasuki bulan Rajab, disamping kita dipersegar ingatan kita tentang peristiwa isra dan mikraj yang menghasilkan kewajiban shalat, dua bulan lagi akan dipertemukan dengan bulan mulia tersebut.



Bulan yang dirindukan kehadirannya oleh orang-orang shalih. Kita tidak tahu, sudah berapa kali kita berpuasa sepanjang hayat kita? Apakah puasa demi puasa yang kita lakukan secara rutin hanya sebatas rutinitas belaka?. Inilah yang perlu kita jadikan bahan muhasabah?


Para ulama dahulu memandang bulan Rajab, Sya’ban bagaikan atletik yang mendekati garis finish, sehingga segala potensi yang dimilikinya dikerahkan/dimobilisir untuk mengungguli atletik yang lain. Sehingga menjadi pemenang. Ternyata, kemenangan itu diraih tidak secara gratis. Kemenangan itu harus dikejar dan diperjuangkan.


Pujangga Arab mengatakan, Cita-cita, harapan itu akan terwujud berbanding lurus dengan kelelahan kalian dalam mengejarnya. Allah Swt memberi nama Ramadhan, sesungguhnya menggambarkan hakikatnya. Arti kebahasaan Ramadhan adalah panas yang terik. Karena, bulan qamariyah yang kesembilan ini datang pada musim kemarau yang siangnya lebih lama dari waktu malamnya.


Nama ُرَمَضَان terdiri dari lima huruf hijaiyah. Masing-masing memiliki kepanjangannya. Huruf ra kepanjangan dari rahmat (diliputi kebaikan), mim kepanjangan dari maghfirah (ampunan), dhod kepanjangan dari dhi’fun (dilipat gandakan pahala amal shalih), alif : amina minan niiraan (aman dari jilatan api neraka), nun kependekan dari nur (bersinar).


Dengan kehadiran Ramadhan, kita berharap akan mendapatkan rahmat, maghfirah, dhi’fun, aman dari neraka, melahirkan pribadi yang bercahaya (terjadi peremajaan struktur pisik dan ruhani). Insya Allah,
Semoga momentum berkesan yang biasanya tidak datang berulang, kita diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk mengisinya dengan jihad, ijtihad, dan mujahadatun nafs. Sehingga berefek pada penataan ulang (rekonstruksi) pola pikir dan sikap kita.


Baca juga: Rahasia Rakaat Shalat


“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadlan ke Ramadlan berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim)..


Barangsiapa berpuasa ramadhan sedang ia mengetahui batasan-batasannya serta menjaga diri dari apa yang hendaknya ia jaga maka Allah akan menghapuskan dosanya yang telah lalu.” (HR. Ahmad). 


Delapan Pelajaran Penting


Pertama, kita sadar bahwa Allah selalu bersama kita.


Di bulan Ramadhan, saat berpuasa, meski di tempat yang sangat sepi dan kita sendirian tak mungkin kita diam-diam minum air meski hanya seteguk. Bahkan air setetes pun kita jaga agar tidak sampai masuk ke dalam tenggorokan kita. Mengapa? Karena kita sadar bahwa Allah melihat kita. Meski kita sendirian tetap dilihat Allah.


Meski satu tetes juga tetap dilihat oleh Allah. Karena kita merasa bahwa Allah selalu bersama dengan kita dan kita selalu dilihatnya, maka meski subuh kurang satu menit kita pun sudah tak mau makan dan minum lagi, dan begitu juga meski maghrib kurang satu menit kita juga tak mau berbuka.


Sungguh luar biasa. Puasa telah menyadarkan kita akan pengawasan Allah atas diri kita hingga pada tingkat yang sekecil-kecilnya. Inilah derajat keimanan yang paling tinggi yaitu derajat ihsan. “Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan bila kamu tidak melihat-Nya, maka kamu sadar bahwa Ia melihatmu.” (HR. Muslim).


Sudah barang tentu, kesadaran seperti ini bukan hanya dimaksudkan saat kita puasa di bulan Ramadhan saja. Tapi hendaknya kita wujudkan dalam kehidupan kita secara keseluruhan.


Di mana pun kita berada. Di kantor atau di pasar. Di rumah sendiri, atau di hotel saat tak ada istri/suami. Betapa indahnya apabila semua pejabat, pegawai negeri, para pengusaha, politisi, guru dll tak ada yang korupsi, karena sadar berapa pun uang diambil adalah dilihat oleh Allah.
Kita sadar dari lubuk hati sendiri, bahwa kita tak bisa bersembunyi dan tak ada yang bisa kita sembunyikan sama sekali. Allah berfirman: “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” ( QS. Al-Mulk : 13).


Kedua, kita sadar melakukan kewajiban baru setelah itu menerima hak.


Banyak orang yang hanya pandai menuntut hak tapi tak pandai menunaikan kewajiban. Maka jadilah akhirnya hak itu tak pernah ia dapatkan. Karena tak logis seseorang mendapatkan hak padahal kewajiban tak ditunaikan.


Orang yang sukses adalah orang mau dengan baik melaksanakan kewajiban, baru setelah itu mendapatkan hak. Puasa benar-benar menyadarkan kita semua akan adanya hukum hak dan kewajiban ini.
Kita menjalankan puasa, lalu kita dapatkan hak untuk berbuka. Kita lakukan perintah-perintah Allah dan kita tinggalkan larangan-larangan-Nya selama kita berpuasa, dan kita diberikan hak untuk dikabulkannya doa.


Baca juga: Tawadhu Mengangkat Derajat


Allah berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).


Inilah jalan yang lurus, benar dan logis. Memenuhi panggilan Allah, beriman kepada-Nya lalu silakan untuk minta dan berdoa kepada-Nya. Banyak orang yang tak malu; minta masuk surga tapi shalat tak mau.
Banyak minta dan berdoa kepada Allah, tapi saat dipanggil Allah tidak datang. Saat senang lupa kepada Allah, tapi saat susah baru ingat dan berdoa kepada-Nya. Nabi bersabda: “Ingatlah kepada Allah saat senang niscaya Allah ingat kepadamu saat susah.” (HR. Ahmad).


Ketiga, kita sadar bahwa kebersamaan adalah indah dan penuh berkah.


Puasa Ramadhan membuktikan bahwa kebersamaan (berjamaah) adalah penuh berkah dan menjadikan sesuatu yang berat menjadi sangat ringan. Bukankah berpuasa itu sebenarnya berat? Bukankah sebenarnya Shalat Tarawih itu berat?


Namun, karena kita lakukan berjamaah (bersama-sama) maka menjadi terasa sangat ringan dan indah sekali. Inilah ajaran berjamaah. Kita umat Islam ini adalah umat yang satu. Andaikan semangat dan spirit kebersamaan ini benar-benar kita wujudkan maka kita pasti menjadi umat yang paling baik, kuat dan hebat. Tak mungkin tertandingi.


Apa yang tak bisa dilakukan umat Islam ini andaikan bersatu padu?! Tapi sebaliknya, ketika kita tidak bersatu padu, bercerai berai, karena faktor beda suku, bahasa, organisasi, partai, mazhab, maka inilah musibah. Kita umat Islam meskipun sangat besar tapi nyaris tak memiliki kekuatan apa-apa.


Apa yang bisa kita lakukan saat saudara-saudara kita di Palestina dibantai oleh kaum Yahudi yang kecil itu? Kita hanya bisa kaget-kaget saja. Padahal kaum Yahudi sudah bertahun-tahun berbuat biadab seperti itu dan menguasai Masjidil Aqsha.


Termasuk di negeri tercinta kita sendiri. Jumlah kita sangat besar. Mayoritas mutlak. Tapi nyaris tak berdaya. Boleh dikatakan semua kekuatan lepas dari tangan kita. Bahkan untuk beraqidah dan bersyari’ah secara kaffah kita berada dalam ketakutan dan tuduhan-tuduhan yang menyudutkan. Hingga label-label radikal, fundamentalis, teroris dll selalu dialamatkan kepada kita kaum muslimin. Mengapa ? Karena kita tak bersatu padu.


Puasa Ramadhan hendaknya segera menyadarkan kita semua untuk berjamaah secara benar. Yaitu berjamaah atas dasar Islam. Bukan berjamaah atas dasar organisasi, partai, suku atau bangsa. Kita boleh saja memiliki suku, bangsa, bahasa, organisasi, mazhab, partai yang berbeda-beda, tapi kita semua haruslah berjamaah dan bersatu padu di bawah ikatan Islam. Bukankah saat Ramadhan kita kompak berpuasa dan beribadah, meskipun kita memiliki suku yang berbeda, bangsa yang berbeda, organisasi yang berbeda, partai yang berbeda?


Marilah kita buang fanatisme sempit yang membuat umat Islam bercerai berai. Mari kita masuk dalam ikatan Islam yang utuh dan satu. Nabi bersabda, “Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Hr. Muslim). Perlu diingatkan, kalau kita masih juga suka bercerai berai, maka kita bisa terlibas oleh badai PKI atau komunis, kaum sekuler, liberal, LGBT dan penjajah serta antek-anteknya yang setiap saat bisa saja datang.


“Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian saling berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46) - Bersambung


Oleh: Ust. Sholeh Hasyim - Perintis Hidayatullah Kudus Jawa tengah & Penulis 

Versi cetak


Berita Terkait


Visitors :5192049 Visitor
Hits :6639834 hits
Month :2825 Users
Today : 147 Users
Online : 6 Users






Sekolah Tahfidz


Sekolah Para Juara






Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Soraya Pambudi

    anggada121212@gmail.com

    Surabaya Timur Pakuwon

    Pada 23-Aug-2019


    Assalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh. Mohon informasi pendaftaran sekolah untuk tahun ajaran 2020/2021. Mohon maaf apakah sekolah ini mempunyai program kelas internasional? Maksudnya apakah menerima siswa berwarganegaraan Asing?

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi