Jaket Sang Gujek

Posted on: 30 January 2021


“Assalamualaykum.” Bapak berdiri di depan pintu dengan wajah semringah. Ia tengah sibuk melepas jas hujan yang basah kuyup.


Aku bergegas menghampiri seraya menjawab salam. Bapak melepas jaket seragam ojol warna hijau, kemudian mengangsurkannya padaku. Aku menerimanya dengan perasaan kelu. Hati kecilku rasanya belum bisa menerima kalau Bapak adalah seorang tukang ojek.


“Bapak basah semua ini celananya. Tolong kamu masukkan, ya?” Bapak buru-buru masuk rumah sambil menyerahkan tas kresek warna hitam kepadaku. Hangat. Aroma sedap menguar dari dalam plastik. Hmmm, mendadak perutku jadi keroncongan.


“Apa ini, Pak?” tukasku penasaran.


“Buka saja. Dapat rezeki tadi,” sahut Bapak dari teras.


Aku segera membukanya. Benar dugaanku, isinya martabak telur, kesukaanku. Aku bergegas ke teras untuk mengambil tas milik Bapak. Tak sabar ingin segera mencicipi martabak telur yang masih hangat itu.


Ransel tua Bapak terbungkus tas plastik yang juga basah. Aku mengeluarkan tas hitam yang warnanya sudah memudar itu, kemudian menaruhnya di meja dekat TV. Entah sudah berapa lama Bapak tidak mengganti tas itu.


“Enak martabaknya, Nduk?”


Aku mengangguk. Bapak sudah terlihat rapi karena habis mandi. Kami berdua pun asyik menikmati martabak yang masih hangat di tengah hujan. Tak lama kemudian Ibu datang membawa sebuah nampan berisi tiga cangkir yang masih mengepulkan asap.


“Waaaah, enak itu, Bu. Hujan-hujan minum hangat!” ujar Bapak tambah semringah.


Ibu tersenyum.


“Bapak, kenapa sih harus ngojek?” celetukku tiba-tiba.


Bapak tergelak mendengarnya. Sementara Ibu mengernyit heran.


“Kenapa, Dian? Malu, ya? Punya Bapak tukang ojek?” lirik Bapak seraya mencomot sepotong martabak.


Aku diam. Rasanya tak pantas aku mengiyakan walaupun kenyataannya demikian. Ibu mengelus rambutku lembut.


“Bapak, kan, sudah jadi guru. Kenapa masih ngojek?”


Bapak tersenyum simpul. “Zaman sekarang beli apa-apa mahal, Nduk. Sementara kalau hanya mengandalkan gaji bapak jadi guru, ya masih kurang. Sekolah juga bayarnya sekarang mahal. Belum lagi bapak ingin menabung untuk biaya kuliah kamu dan Mas Bayu.”


Aku meringis.


“Asal bapak kerja yang halal, kan, nggak apa-apa? Martabak ini tadi juga rezeki dari ojek, lho!”


“Kok bisa?” Kuseruput teh hangat yang disiapkan Ibu. Hmmm, hangatnya seolah menjalar ke perutku.


   “Tadi bapak dapat orderan martabak, lalu bapak antar ke alamatnya. Ternyata yang pesan itu adalah mantan wali murid di sekolah bapak. Bapak diajak ngobrol lama sambil makan martabak yang dipesannya. Bapak itu bercerita bangga sang putra yang dulu murid bapak sudah jadi dokter muda. Dia berterima kasih pada bapak karena pernah menjadi guru putranya,” tutur Bapak panjang lebar.


Aku manggut-manggut.


“Bapak tidak tahu kalau diam-diam Pak Santo order martabak lagi. Saat bapak pamit, diberi martabak yang masih panas. Juga sebuah amplop berisi uang yang jumlahnya tidak sedikit. Maasyaallah, itulah rezeki, Nduk!”


“Waaah!” Aku terperangah mendengarnya.


“Alhamdulillaah,” sahut Ibu.


“Menjadi guru itu pekerjaan mulia. Jika dijalani dengan sungguh-sungguh pasti hasilnya jadi berkah. Ya … seperti yang terjadi sore ini. Misalnya bapak gak ngojek, belum tentu dapat rezeki yang seperti tadi, kan?”


Aku manggut sambil tertawa malu.


“Ojek juga pekerjaan yang baik, Nduk. Membantu orang lain juga, menambah kenalan, juga pengalaman. Lagipula bapak juga ngojeknya hanya sambil pulang saja, kan?”


“Tapi … semua orang tahu Bapak jadi ojek karena jaket Bapak!” balasku spontan.


“Jaketnya bawa berkah itu!” tukas Ibu tak mau kalah. Kami tergelak bersama.


Hatiku terasa sedikit ringan. Kupandangi jaket Bapak yang tadi kuletakkan di kursi. Tak apalah Bapak jadi gujek. Guru yang ngojek. Yang penting berkaaaah.


Oleh: Ustzh. Ajeng Ryagita Resiyasari, S.E. – Pegawai SD Luqman Al Hakim Surabaya


*Tulisan ini merupakan karya terbaik 2 dalam Lomba Menulis Fiksi Mini – Kagumi & Komite Sekolah Luqman Al Hakim

Versi cetak


Berita Terkait


Visitors :5192016 Visitor
Hits :6639721 hits
Month :2824 Users
Today : 148 Users
Online : 6 Users






Sekolah Tahfidz


Sekolah Para Juara






Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Soraya Pambudi

    anggada121212@gmail.com

    Surabaya Timur Pakuwon

    Pada 23-Aug-2019


    Assalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh. Mohon informasi pendaftaran sekolah untuk tahun ajaran 2020/2021. Mohon maaf apakah sekolah ini mempunyai program kelas internasional? Maksudnya apakah menerima siswa berwarganegaraan Asing?

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi