Masih Perlukah Sekolah - Habis

Posted on: 10 August 2020


Kritik Kepada Sekolah


Acep Iwan Saidi, Dosen Pascasarjana Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam tulisannya “Sekolah Tanpa Ruang Belajar” di harian Kompas, (24/06/11) menuliskan bahwa kasus contek massal, perkelahian pelajar SMP-SMA hingga tawuran para mahasiswa adalah potret muram sekolah di negeri ini yang menurutnya diakibatkan oleh kegagapan dalam menyikapi dan melaksanakan sistem pendidikan modern yang diadopsi dari Barat.


Dahulu ketika sistem pendidikan modern ala Barat pertama kali dipakai maka sejarah mencatatnya sebagai titik awal pencerahan, namun hal itu kini agaknya harus ditinjau ulang, karena apa yang disebut dengan ke-modern-an itu sendiri kini patut dipertanyakan hakikat dan faedahnya. Acep Iwan Saidi yang juga Ketua Forum Studi Kebudayaan Seni Rupa ITB membongkar perlahan-lahan akar kemuraman pendidikan di negeri ini mulai dari yang terkecil, yaitu desain kelas dalam sekolah modern saat ini.


Tata kelas sekolah modern saat ini tentu saja berbeda dengan tata ruang dan cara belajar tradisional seperti yang jamak ditemui di pesantren-pesantren. Karena desain kelas pada sekolah modern ditata khusus; siswa duduk rapi di atas bangku yang berjejer menghadap guru di depan ruang yang mana hal itu dianggap sebagai metafora modernisme yang mengusung semangat progressif menatap ke masa depan.


Acep mengutip Adolf Loos dalam bukunya, Ornament And Crime, yang mengatakan bahwa ornamen sebagai ciri tradisi pada arsitektur adalah sebuah bentuk kriminal, karena siswa dipatok meraih kebaruan dari masa depan. Tatanan kelas sekolah modern ini juga menciptakan pasangan berlawanan, sebuah oposisi biner. Dimana guru menjadi ordinat (sumbu utama) dan menempatkan siswa hanya sebagai sub ordinat. Dengan demikian guru diposisikan sebagai pusat kuasa yang memiliki kebenaran mutlak di dalam kelas.


Kemudian penataan bangku yang awalnya satu bangku diperuntukkan bagi tiga siswa kini didesain ulang menjadi untuk dua siswa dan bahkan ada yang untuk satu siswa saja seperti di sekolah-sekolah internasional di negeri ini dan seperti juga di kampus-kampus. Hal ini -menurut Dosen Pascasarjana tersebut- dapat mengikis komunikasi verbal dari para penghuni kelas dan akan makin membiakkan sikap individualistis pada diri peserta didik.


Kemudian ada lagi tata kelas yang disoroti akademisi ITB tersebut, yaitu ketika suasana belajar yang harus dibuat setenang mungkin tanpa ada keriuhan dari para siswa. Selain suara guru maka tiada yang boleh bersuara sebelum diberi izin. Bahkan membaca pun harus di dalam hati. Tatanan kelas seperti inilah yang membuat hubungan antara guru-murid menjadi mekanis karena guru-murid berada dalam mesin struktur. Dan dalam sistem seperti ini hanya mereka yang mengikuti permainan saja yang akan berhasil.


Bukti konkretnya adalah siswa yang mampu menyerap pelajaran adalah siswa yang taat pada guru dan peraturan. Sisi positif dari sistem ini memang ada, yakni diantaranya banyak dilahirkannya siswa yang cerdas secara IQ yang mana kini Indonesia menjadi salah satu produsen siswa peraih emas olimpiade SAINS Fisika dan Matematika tingkat dunia.


Namun sisi minus dari sistem pendidikan semacam ini adalah kian terlupakannya nilai-nilai kolektifitas yang merupakan ruh yang menciptakan dan menggerakkan prilaku masyarakat. Karena karakter kita tidak berpijak pada kemajuan rasio semata namun lebih pada kecerdasan emosi. Hal inilah yang kini sedang ramai dibicarakan oleh para petinggi di negeri ini. Mereka mulai risau karena bangsa ini kian kehilangan karakternya sebagai bangsa besar yang majemuk nan dinamis.


Oleh sebab itu mereka beberapa kali mendesak pemerintah agar sesegera mungkin me-reformasi sistem pendidikan nasional agar lebih memberi porsi lebih pada pembelajaran yang mengarahkan pada peningkatan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ) yang diharapkan akan mampu membentuk karakter bangsa ini agar lebih dinamis, tidak stagnan dan mengarah ke arah kemunduran seperti sekarang.


Negara harus sesegera mungkin menyusun kurikulum sekolah yang lebih dapat memposisikan anak didik sebagai manusia apa adanya dan bukan sekedar bagian dari mesin indoktrinasi rumus-rumus rasionalitas semata dan kering moralitas. Karena tanpa moralitas, maka sekolah hanya akan menjadi pabrik penghasil manusia-manusia pandai tanpa karakter yang hanya akan menilai segala sesuatu secara matematis dan berkutat pada angka semata tanpa menghadirkan ke- adab-an dalam hidup ditengah-tengah masyarakat.


Karena hal ini sangat membahayakan kelangsungan hidup bangsa ini pada akhirnya. Contoh kongkret dari hal ini adalah banyaknya produk sekolah kita yang otaknya mahacanggih yang ketika jadi wakil rakyat ternyata hanya bisa memperjuangkan aspirasi konstituennya jika secara matematis hal itu dianggap menguntungkan dan menghasilkan rupiah. Ketika menjadi pengusaha maka mereka akan berada di garda depan dalam proyek-proyek tender besar, pembukaan tambang, perambahan hutan, pengerukan bumi, pengeboran lepas pantai dan berbagai lahan bisnis “basah” lainnya tanpa peduli kerusakan lingkungan dan kehidupan sosial manusia di sekitarnya.


Ini adalah fakta gamblang yang membuktikan bahwa ketika pendidikan hanya ditujukan untuk mencetak otak matematis belaka maka saat itu pula reproduksi wayang-wayang kapitalis, liberalis, dan sekuleris akan tetap berlangsung. Dan apa yang terjadi selanjutnya, sudah tentu kerusakan di berbagai lini kehidupan di negara ini akan makin parah. Karena telah menjadi fakta sejarah bahwa para kapitalis, liberalis dan sekuleris membuat negeri Muslim ini kian jauh dari kriteria Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur yang gemah ripah loh jinawi.


Keberkahan seakan makin sulit digapai. Mimpi menegakkaan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia kian menjadi utopis karena yang terjadi adalah sebaliknya, makin menganganya jurang ketimpangan sosial di negeri ini.


Simpulan dan Penutup


Jika setelah membaca tulisan ini lantas timbul di benak anda sebuah tanya, “Apakah sekolah masih bermanfaat?”. Jawabannya adalah bersekolah tetap bermanfaat. Karena di lembaga sekolah kita masih berpeluang menjadi orang yang baik namun dengan syarat sekolah tersebut memiliki kurikulum yang baik pula.


Sekolah menurut Shiv Khera, seorang penulis yang concern pada bidang pengembangan diri dan bisnis, hanyalah ibarat sebuah sumur, terserah anda apakah ingin menimba air darinya, sekedar meminum sedikit airnya atau bahkan hanya anda lewati tanpa hirau sumber air tersebut, semua itu terserah anda karena kemanfaatannya tergantung pada perlakukan anda padanya.


Sekolah -yang kita kenal sekarang- yang merupakan peninggalan kolonialisasi Belanda lewat Poltik Etis-nya hanyalah satu dari sekian banyak wadah untuk kita menimba ilmu di dalamnya. Dengan kata lain, belajar tidak melulu harus di sekolah. Belajar bisa di mana saja dan kapan saja karena tidak ada pembatasan tempat dan waktu dalam menempuhnya.


Seperti yang dikemukakan di awal tulisan, penulis kurang sependapat dengan Pemerintah yang selalu mengkampanyekan jargon Wajib Belajar (WAJAR) 9-12 tahun bagi seluruh anak Indonesia. Karena ada “penyesatan” di dalam jargon tersebut. Seakan-akan belajar yang diwajibkan hanyalah 12 tahun belaka. Dan seolah-olah belajar hanyalah dengan cara bersekolah semata.


Sedangkan di dalam Islam, belajar itu wajib dimulai dari buaian hingga liang lahat kelak. Tidak ada pembatasan tempat dan waktu. Bahkan ada istilah Alam Terkembang Jadi Guru dalam adagium Minangkabau. Yang artinya alam sekitar ini adalah guru dan media pembelajaran yang bisa kita ambil ilmu darinya. Sebab alam adalah merupakan ayat Kauniyah. Artinya yang dimaksud oleh Pemerintah sebenarnya adalah “Wajib Sekolah 12 Tahun” bukan “Wajib Belajar 12 Tahun”. Karena ada perbedaan makna yang sangat besar di antara kedua istilah tersebut.


Agus Sunyoto, penulis buku Atlas Walisongo, saat ditanya pandangannya mengenai sekolah mengatakan bahwa hendaknya kita menganggap sekolah sebagai tradisi belaka. Artinya bersekolah adalah sesuatu yang harus dijalani sebagai kebiasaan di masyarakat. Yang mana konsekuensinya adalah meskipun tidak berdosa ketika meninggalkannya namun tetap akan mendapatkan cibiran dari masyarakat karena dianggap melanggar tradisi. Hari ini kita masih menjalani rutinitas di tengah pandemi yang berimbas kepada semua ritme kehidupan. Tak terkecuali kegiatan belajar-mengajar di sekolahan.


Setiap musibah pasti membawa hikmah, termasuk wabah ini. Sistem pembelajaran di sekolah akhirnya menyesuaikan dengan keadaan. Pembelajaran jarak jauh lewat sistem daring akhirnya menjadi solusi. Tanpa bertatap muka di kelas kegiatan belajar-mengajar tetap dilaksanakan dari rumah lewat media daring.


Hal ini makin membenarkan pendapat yang menyatakan bahwa tanpa berada di dalam bangunan yang bernama sekolah pun kita masih dapat belajar. Bahkan ada ruang kelas yang lebih besar yang telah disediakan oleh Allah bagi semua anak manusia tanpa pandang status kaya dan miskin. Ruang kelas besar tersebut bernama alam. Alam Terkembang Jadi Guru, demikian adagium purba dari tanah Minangkabau berbunyi.


Bagi yang putus maupun diputus oleh kondisi hidup dan tak mampu melanjutkan sekolah, maka tetap belajarlah di sekolah yang disediakan oleh Allah tersebut. Tak usah ragu, karena modal utamanya bukan rupiah semata namun kemauan. Akhirnya selamat belajar buat semua anak Indonesia. Semoga Allah memberkahi ilmu kita semua. Semoga menjadi muslim muslimah yang beradab. Wallahu A’lam Bis Showab. /hidayatullah.com


Oleh: Muhammad Syafii Kudo, Santri Kulliyah Dirosah Islamiyah (KDI) Pandaan – Pasuruan

Versi cetak


Berita Terkait


Visitors :3712237 Visitor
Hits :4334926 hits
Month :3459 Users
Today : 529 Users
Online : 3 Users




Sekolah Tahfidz


Sekolah Para Juara








Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Soraya Pambudi

    anggada121212@gmail.com

    Surabaya Timur Pakuwon

    Pada 23-Aug-2019


    Assalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh. Mohon informasi pendaftaran sekolah untuk tahun ajaran 2020/2021. Mohon maaf apakah sekolah ini mempunyai program kelas internasional? Maksudnya apakah menerima siswa berwarganegaraan Asing?

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi