Masih Perlukah Sekolah

Posted on: 9 August 2020


Anda boleh tidak setuju dengan pendapat sastrawan masyhur asal Inggris yang dikutip di awal buku Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Eko Prasetyo tersebut. Bahkan anda bisa melawan balik pernyataan satire yang terkesan memojokkan lembaga pendidikan yang lumrah disebut dengan sekolah itu. Namun yang jelas, sekarang adalah bulan Juli. Dimana di bulan ini ada ciri khas tersendiri yang sudah menjadi rahasia umum.


Bahwasannya di Republik ini di bulan Juni-Juli ada sebuah “beban” tahunan yang dialami oleh para orang tua. Yakni beban keuangan keluarga yang makin bertambah pada tahun ajaran baru. Entah itu untuk biaya pendaftaran, beli seragam, beli alat tulis, beli buku paket dsb. Semua itu menjadi fenomena tahunan di negeri ini yang mau tidak mau harus dijalani demi mengikuti aturan wajib dari negara yang berupa wajib sekolah (minimal) 9 – 12 tahun.


Penulis sengaja tidak menulis “wajib belajar” namun memilih frasa “wajib sekolah” karena ada yang tidak tepat dalam penggunaan istilah “wajib belajar 12 tahun” yang sedari dulu digalakkan oleh pemerintah tersebut. Memang benar sekolah adalah wadah resmi yang diadakan oleh negara dan swasta untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar.


Namun harus dicatat bahwa sekolah bukanlah satu-satunya wadah untuk mendukung proses belajar-mengajar, karena ada berbagai wadah lainnya yang juga menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar, seperti Pesantren dan Home Schooling misalnya. Bahkan ditengarai bahwa pesantren adalah wadah belajar-mengajar yang usianya lebih tua daripada sekolah di negeri ini.


Tidak bisa dipungkiri bahwa cikal bakal sekolah modern di Indonesia saat ini adalah produk dari Politik Etis Pemerintah Kolonial Belanda yang dicetuskan dalam Trias Van Deventer melalui keputusan Ratu Wilhelmina pada 17 September 1901. Berbeda dengan sistem pendidikan Pesantren yang tumbuh dari akar pribumi. Pesantren bahkan telah mencerdaskan kaum pribumi setidaknya sejak abad 15 di masa Ampel Denta yang diasuh oleh Raden Rahmad (Sunan Ampel) di Surabaya.


Sejarah Sekolah


Sekolah berasal dari kata skhole, scola, scolae atau schola (Latin), kata itu secara harfiah berarti ‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’. Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai dalam bidang tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui.


Mereka menyebut kegiatan itu dengan kata atau istilah skhole, scola, scolae atau schola. Keempatnya punya arti sama yakni waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar alias leisure devoted to learning. (The Heritage llustrated Dictionary of tire English Language, Volume 11, Houghton Mifflin, Boston, Mass., 1979).


Lama kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu, akhirnya, tidak lagi semata-mata jadi kebiasaan kaum lelaki dewasa atau sang ayah dalam susunan keluarga pati masyarakat Yunani Kuno. Kebiasaan itu juga kemudian diberlakukan bagi putra-putri mereka, terutama anak laki-laki, yang diharapkan nantinya dapat menjadi pengganti sang ayah.


Karena desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan kian menyita waktu, sang ayah dan sang ibu merasa bahwa mereka pun tak lagi punya waktu untuk mengajarkan banyak hal kepada putra-putrinya. Karena itu, mereka kemudian mengisi waktu luang anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya pada seseorang yang dianggap tahu atau pandai di suatu tempat tertentu, biasanya adalah orang dan tempat di mana mereka dulu pernah ber-skhole.


Di tempat itulah anak-anak bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu, belajar apa saja yang mereka anggap memang patut untuk dipelajari, sampai tiba saatnya kelak mereka harus pulang kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya. Maka, sejak saat itulah, telah beralih sebagian dari fungsi scola mattema (pengasuhan ibu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu). ltulah pula sebab mengapa lembaga pengasuhan ini kemudian biasa juga disebut “ibu asuh” atau “ibu yang memberikan ilmu” (alma mater).


Waktu terus berlalu. Para orangtua makin terbiasa saja memercayakan pengasuhan putra-putri mereka kepada orang-orang atau lembaga-lembaga pengasuh pengganti mereka di luar rumah tersebut, dalam jangka waktu yang semakin lama dan dengan pola yang semakin teratur pula. Karena makin banyak anak yang harus diasuh, maka mulai pula diperlukan lebih banyak pengasuh yang bersedia meluangkan waktunya secara khusus untuk mengasuh anak-anak di suatu tempat tertentu yang telah disediakan, dengan peraturan yang lebih tertib, dan dengan imbalan jasa berupa upah dari para orang tua anak-anak itu. (Sekolah Itu Candu, Halaman 26-28). Nah, dari kisah itulah lembaga sekolah modern konon berawal.


Kritik Kepada Sekolah


Menarik jika mencermati sejarah asal muasal sekolah. Ternyata sekolah awalnya berasal dari kelonggaran waktu dimana manusia di zaman tersebut mendatangi para ahli di bidangnya untuk belajar kepada mereka. Namun lambat laun keluangan waktu tersebut kini dilembagakan dalam bentuk sekolah modern yang diadakan dalam sebuah kelas yang mewajibkan manusia menyerahkan waktu utamanya, bukan lagi waktu senggangnya.


Dan ironisnya, waktu yang terampas demi kewajiban sekolah berlanjut pula di luar jam sekolah, baik itu untuk mengerjakan tugas, ekstrakulikuler wajib, belajar untuk menghadapi ulangan dsj. Selain masalah “pemaksaan waktu”, ada pula sisi lain yang dikritik oleh beberapa ahli, misalnya masalah tata ruang, kurikulum dan sistem pengajaran di dalam sekolah hari ini. (Bersambung) *hidayatullah.com


Oleh: Muhammad Syafii Kudo, Santri Kulliyah Dirosah Islamiyah (KDI) Pandaan – Pasuruan

Versi cetak


Berita Terkait


Visitors :3711974 Visitor
Hits :4334596 hits
Month :3462 Users
Today : 534 Users
Online : 14 Users




Sekolah Tahfidz


Sekolah Para Juara








Hubungi Kami

Jl.Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya, Telp. 031-5928587

Testimonials

  • Soraya Pambudi

    anggada121212@gmail.com

    Surabaya Timur Pakuwon

    Pada 23-Aug-2019


    Assalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh. Mohon informasi pendaftaran sekolah untuk tahun ajaran 2020/2021. Mohon maaf apakah sekolah ini mempunyai program kelas internasional? Maksudnya apakah menerima siswa berwarganegaraan Asing?

  • Noer amelia

    Noeramelia@yahoo.com

    Surabaya

    Pada 14-Sep-2018


    Assalamualaikum...untuk biaya pendaftaran th 2019 belum ada y?apakah untuk masud sdit al hakim harus sudah lancar membaca???mohon infonya dan terima kasih

  • Aisya Adhila Hania Haq

    alhaq165@gmail.com

    Surabaya

    Pada 11-Feb-2017


    Sekolah di SD Integral Luqman Al-Hakim Memberikan saya kesan yang mendalam dalam menimba ilmu, ketulusan para ustadz dan ustadzah dalam mendampingi kami dalam interaksi dengan ilmu dan budaya ilmu sungguh membuat kami percaya bahwa SD Luqman Al-Hakim memang rujukan pendidikan dasar untuk generasi islam yang lebih berakhlaq dan berprestasi